BERITA  

Trump menolak usulan Iran, harga emas global turun di tengah ancaman inflasi


Harga emas global mengalami penurunan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menolak tawaran damai terbaru dari Iran yang bertujuan untuk mengakhiri konflik selama 10 minggu. Konflik ini telah mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Penolakan tersebut memicu kekhawatiran akan inflasi, khususnya setelah terjadinya saling serang antara AS dan Iran pada akhir pekan yang mengancam gencatan senjata yang masih rapuh.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Bloomberg, pada Senin (11/5), harga emas batangan berada dalam kisaran USD 4.689 per ounce, setelah naik sekitar 2 persen sepanjang pekan lalu. Secara rinci, harga emas di pasar spot turun 0,6 persen menjadi USD 4.689,29 per ounce pada pukul 06.37 waktu Singapura. Sementara itu, harga perak melemah 0,8 persen menjadi USD 79,67. Platinum dan paladium juga mengalami penurunan.

Di sisi lain, Bloomberg Dollar Spot Index yang mengukur kekuatan dolar AS meningkat sebesar 0,1 persen. Prospek perdamaian kembali terganggu setelah Trump menyebut respons terbaru Iran terhadap proposal penghentian konflik sebagai “totally unacceptable.” Kondisi ini berpotensi mempertahankan risiko inflasi tetap tinggi sekaligus memperkuat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, yang biasanya menekan daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.

Serangan yang terjadi di Iran selama akhir pekan juga menunjukkan kerapuhan gencatan senjata yang dimulai pada 8 April. Sebuah kapal kargo sempat terbakar di lepas pantai Qatar di Teluk Persia akibat serangan drone pada Minggu. Uni Emirat Arab dan Kuwait juga melaporkan berhasil mencegat drone bermusuhan.

Masa depan pasar keuangan akan dipengaruhi oleh data inflasi konsumen yang akan dirilis pada Selasa. Data ini diperkirakan akan menegaskan bahwa inflasi masih menjadi ancaman di Amerika Serikat, setelah pada Maret mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022.

Data yang dirilis Jumat lalu menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di AS kembali menambah jumlah pekerja untuk bulan kedua berturut-turut pada April. Ini menjadi kenaikan beruntun pertama dalam hampir satu tahun, sementara tingkat pengangguran tetap berada di level 4,3 persen. Kondisi ini memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil dalam waktu yang lebih lama, sambil memantau risiko inflasi baru akibat perang dengan Iran.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Emas

  • Ketegangan Geopolitik: Ketegangan antara AS dan Iran memicu ketidakpastian di pasar keuangan. Penolakan tawaran damai oleh Trump meningkatkan risiko konflik yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global.
  • Ekspektasi Suku Bunga: Kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik emas karena investor cenderung memilih aset yang memberikan imbal hasil. Saat ini, Federal Reserve kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga stabil.
  • Data Inflasi: Inflasi yang tinggi dapat memengaruhi permintaan emas sebagai pelindung nilai. Data inflasi konsumen yang akan dirilis pada Selasa akan menjadi indikator penting untuk menilai tren ekonomi AS.
  • Perkembangan Pasar Keuangan: Indeks dolar AS yang menguat menunjukkan kepercayaan terhadap mata uang AS, yang berdampak negatif terhadap harga emas.

Tantangan Ekonomi dan Stabilitas

  • Pertumbuhan Pekerjaan: Peningkatan jumlah pekerja di AS menunjukkan kondisi ekonomi yang stabil. Namun, ini juga dapat memicu kenaikan suku bunga jika inflasi terus meningkat.
  • Risiko Inflasi: Perang dengan Iran dapat memperparah risiko inflasi, yang berpotensi menggeser arah kebijakan moneter Federal Reserve.
  • Stabilitas Gencatan Senjata: Rapuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran meningkatkan ketidakpastian geopolitik, yang dapat memengaruhi harga komoditas seperti emas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *