Komentar Influencer Jerome Polim terhadap Penilaian dalam Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026
Jerome Polim, seorang influencer ternama, memberikan komentar yang menarik perhatian publik mengenai insiden penilaian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Insiden ini memicu pro dan kontra di kalangan peserta dan masyarakat luas.
Dalam sebuah video yang viral, peserta dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus 5 dari juri meskipun memberikan jawaban yang sama dengan peserta dari SMAN 1 Sambas. Sementara itu, SMAN 1 Sambas justru mendapatkan poin penuh. Hal ini membuat Jerome Polim merasa geregetan melihat sikap juri dalam acara tersebut.
“Lagi rame soal kasus cerdas cermat, hadeh jujur gregetan lihatnya,” tulis Jerome Polim di Instagram, pada Senin (11/5/2026). Ia juga menambahkan, “Paling gak suka mentalitas: Juri pasti benar, keputusan enggak bias diganggu gugat.”
Menurut Jerome Polim, juri adalah manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan. Oleh karena itu, pernyataan “juri pasti benar” dinilai tidak relevan. Ia menulis, “Juri juga manusia, bukan Tuhan. Bisa salah kok. Apalagi ini di acara cerdas cermat yang soalnya EKSAK, jawabannya tuh PASTI, bukan subjektif.”
Jerome Polim menilai bahwa sikap pendidik yang tidak mau mengakui kesalahan akan berdampak negatif terhadap keterampilan berpikir kritis generasi muda. “Peran terpenting seorang pendidik adalah: BISA NURUNIN EGO BUAT NGAKU SALAH,” tulisnya. Ia menegaskan bahwa jika ada murid yang ingin mendiskusikan benar atau salah, tidak boleh menggunakan mentalitas “guru pasti benar.” Hal ini bisa menghancurkan kemampuan berpikir kritis anak-anak.
Ia lalu membandingkan sikap juri dalam lomba debat tersebut dengan pengalaman pribadinya saat sekolah. Dulu, jika ada guru yang menyalahkan jawaban soal ujiannya, Jerome Polim tidak segan mengajak diskusi. Ia akan memberikan bukti bahwa jawabannya tepat dan tidak salah. Beruntung, guru Jerome Polim kala itu bisa menerima dan mengakui kesalahan.
“Dulu waktu lagi ujian di sekolah, kalau aku jawab benar tapi sama gurunya disalahkan, aku bakal debatin,” tulis Jerome Polim. Ia menambahkan, “Aku bakal kasih bukti kenapa aku benar, dan bersyukurnya dulu guru aku bukan tipe yang enggak mau didebat. Akhirnya aku punya mentalitas kalau aku yakin benar, aku bakal fight for it.”
Jerome Polim juga memuji sikap peserta lomba yang berani buka suara terkait kesalahan pihak juri. Ia meminta juri dan MC acara lomba debat tersebut untuk meminta maaf. “Untuk adik yang udah berani speak up, kamu keren! Pokokonya harus berani fight untuk kebenaran,” tulisnya. Ia juga menyampaikan bahwa juri dan MC yang sudah salah tetapi masih gaslighting meskipun pesertanya udah speak up, seharusnya meminta maaf.
Awal Mula Polemik
Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat digelar di Pontianak pada Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini diikuti sembilan sekolah menengah atas di Kalimantan Barat. Tiga sekolah yang lolos ke babak final yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Polemik muncul saat sesi rebutan jawaban dengan pertanyaan, “DPR dalam memilih anggota BPK, wajib memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?” Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi peserta pertama yang menjawab. Jawaban mereka adalah, “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.” Namun, dewan juri justru memberikan pengurangan nilai sebesar lima poin kepada Regu C.
Pertanyaan kemudian dilempar ke regu lain dan dijawab oleh Regu B dari SMAN 1 Sambas. Jawaban mereka sama seperti Regu C. Juri menyatakan jawaban Regu B benar dan memberikan nilai sepuluh. Keputusan ini langsung diprotes oleh Regu C karena merasa telah memberikan jawaban yang sama.
“Izin, kami tadi menjawabnya sama seperti Regu B,” kata peserta Regu C. Juri kemudian menjelaskan bahwa Regu C dianggap tidak menyebutkan unsur “pertimbangan DPD”. Namun, Regu C membantah penjelasan tersebut dan bahkan meminta audiens memberikan kesaksian. Meski demikian, hasil akhir perlombaan tidak berubah. Regu B dari SMAN 1 Sambas tetap keluar sebagai juara tingkat provinsi karena unggul secara keseluruhan atas Regu C dari SMAN 1 Pontianak.
MPR Minta Maaf
Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Akbar menegaskan, MPR RI akan menindaklanjuti kejadian tersebut sekaligus mengevaluasi keseluruhan kinerja dewan juri dan sistem perlombaan LCC Empat Pilar.
“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” kata Akbar dalam keterangan resmi MPR RI, Senin (11/5/2026). Ia menyayangkan adanya polemik dalam penilaian lomba dan mengingatkan pentingnya juri bersikap objektif serta responsif terhadap keberatan peserta di lapangan.
Oleh karena itu, lanjut Akbar, insiden tersebut akan menjadi catatan penting agar pelaksanaan LCC Empat Pilar ke depan berjalan lebih baik dan profesional. Lebih lanjut, Akbar juga menyinggung adanya unsur kelalaian dari panitia maupun dewan juri, terutama terkait aspek teknis tata suara dan mekanisme banding dalam perlombaan.
Bahkan, Akbar mengaku sempat mendengar adanya peristiwa serupa yang terjadi pada pelaksanaan tahun lalu di provinsi lain. “Saya melihat, Lomba Cerdas Cermat ini perlu dievaluasi supaya lebih baik. Jangan ada lagi kejadian seperti ini,” ujar dia.






