Peternak Telur Puyuh di Pasuruan Kehilangan Pasar Akibat Penurunan Permintaan dari Program MBG
Permintaan dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengalami penurunan berdampak serius terhadap peternak telur puyuh di Kabupaten Pasuruan. Setelah Bulan Ramadan berakhir, serapan telur puyuh turun drastis hingga membuat banyak peternak merugi belasan juta rupiah setiap hari.
Kondisi ini dialami oleh Mahrus, seorang peternak telur puyuh asal Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi. Dalam beberapa pekan terakhir, sebagian hasil produksinya bahkan terpaksa dibuang karena tidak laku dan mulai membusuk.
“Biasanya masih ada dapur MBG yang ambil. Sekarang produksi banyak, sampai menumpuk dan rusak tidak ada yang ambil,” ujarnya, Selasa (12/5/2026) pagi.
Menurut Mahrus, selama Ramadan telur puyuh cukup banyak digunakan untuk kebutuhan menu dapur MBG. Namun setelah Lebaran, permintaan hampir berhenti total sehingga pasar menjadi lesu.
Produksi Berjalan Setiap Hari, Tapi Harga Jual Turun
Padahal, produksi telur dari peternak tetap berjalan setiap hari. Di sisi lain, biaya operasional terus membengkak, terutama untuk kebutuhan pakan ternak.
Saat ini, Mahrus mengelola sekitar 30 ribu ekor burung puyuh di kandangnya. Dari usaha tersebut, produksi telur yang dihasilkan mencapai sekitar dua ton per hari, termasuk hasil dari peternak lokal yang ikut ditampung olehnya.
Untuk memenuhi kebutuhan ternak, sedikitnya satu ton pakan harus disiapkan setiap hari dengan biaya mencapai sekitar Rp 7,25 juta. Sementara harga jual telur puyuh justru terus mengalami penurunan.
Ia menyebut harga pokok produksi berada di kisaran Rp 24 ribu per kilogram. Namun harga jual di pasaran saat ini hanya berkisar Rp 16 ribu hingga Rp 21 ribu per kilogram.
“Kalau dihitung ya pasti rugi. Selisihnya bisa sampai Rp 4 ribu per kilo,” katanya.
Dengan jumlah produksi sekitar dua ton per hari, kerugian yang ditanggung diperkirakan mencapai Rp 16 juta per hari. Nilai tersebut belum termasuk biaya tenaga kerja dan operasional lainnya.
Mengambil Langkah Ekstrem untuk Menjaga Usaha
Untuk mempertahankan usahanya tetap berjalan, Mahrus mengaku terpaksa menjual aset pribadi untuk membeli pakan ternak.
“Kendaraan sudah saya jual. Yang penting ternak tetap hidup dulu,” ucapnya.
Mahrus juga menjelaskan, dirinya tidak hanya mengandalkan produksi kandang pribadi. Selama ini ia turut menampung hasil telur dari peternak kecil di wilayah sekitar yang sebagian modal usahanya berasal dari pinjaman bank.
Karena itu, ketika pasar melemah, dampaknya ikut dirasakan peternak lain yang menggantungkan penjualan kepadanya.
Harapan untuk Kembali Memperkuat Pasar
Meski berada dalam situasi sulit, Mahrus mengaku tidak ingin memonopoli pasokan telur puyuh untuk program MBG. Ia hanya berharap dapur-dapur MBG kembali menyerap hasil peternak lokal agar roda usaha masyarakat tetap berjalan.
“Tidak harus lewat saya. Yang penting peternak lokal tetap bisa hidup,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah maupun pengelola program MBG dapat kembali memasukkan telur puyuh dalam menu makanan setidaknya satu atau dua kali dalam sepekan agar hasil produksi peternak tetap terserap pasar.






