Ada yang Tidak Mau Makan 7 Bulan, Cerita Petugas Damkar Semarang Merawat Ular yang Diselamatkan

Tugas Tak Terduga Petugas Damkar: Merawat Ular Hasil Rescue

Di balik tugas utama mereka dalam penyelamatan dan pemadaman kebakaran, petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) juga memiliki tanggung jawab lain yang tidak kalah menantang, yaitu merawat ular hasil rescue. Banyak dari satwa ini datang dalam kondisi stres, agresif, bahkan menolak makan selama berbulan-bulan.

Analis Kebakaran Ahli Pertama Damkar Kota Semarang, R Kelvin Adirahmat Putera menjelaskan bahwa sebagian ular yang kini dirawat oleh Damkar merupakan satwa peliharaan yang dilepasliarkan oleh pemiliknya. “Biasanya seperti ball python, itu ular peliharaan. Tapi kadang-kadang ini yang sangat saya sayangkan, sih. Banyak sekali keeper di Indonesia itu yang dia mau untuk memelihara ular, tapi tidak mau merawatnya,” ujarnya.

Menurut Kelvin, banyak pemilik ular akhirnya menyerah karena kesulitan memberi makan satwa peliharaannya. “Jadi saya sempat sharing dengan beberapa teman itu banyak yang dia punya ball python tapi tidak bisa atau tidak dapat untuk memberi makan, akhirnya dilepasliarkan,” katanya.

Padahal, menurut Kelvin, ular seperti ball python bukan berasal dari Indonesia sehingga sulit bertahan hidup saat dilepas di alam liar. “Ball Python memang ular asli dari Afrika. Nah, yang mana kalau dilepasliarkan di sini akan jauh berbeda habitat dengan habitat aslinya. Jadi change untuk dia bertahan di itu sangat kecil,” jelasnya.

Sejumlah ular yang berhasil diselamatkan akhirnya dipelihara di markas Damkar. Namun proses perawatannya tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah membuat ular merasa nyaman setelah mengalami stres. “Terus ada satu lagi python bivittatus itu kemarin hasil rescue-an, cuma dia masih galak. Jadi memang bukan untuk di-handle, tapi kami berusaha untuk terus mem-bondingkan dia supaya bisa dihandle. Karena memang karakternya dia ular liar kan,” ucapnya.

Kelvin mengungkapkan, satu ball python koleksi Damkar bahkan sempat tidak mau makan selama tujuh bulan. “Dulu yang ball piton yang besar itu pada awal-awal di sini sempat sampai 7 bulan dia nggak makan, karena dia stres,” katanya.

Meski demikian, kata dia, petugas terus melakukan perawatan dan bonding agar ular dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. “Tapi tetap dari kami teman-teman keeper yang di sini yang paham dengan ular terus merawat, terus berusaha, dibonding berusaha dibikin suasananya untuk tidak membuat dia stres. Akhirnya dia mau makan. Dan sekarang Alhamdulillah lahap makannya,” ujarnya.

Dalam perawatan sehari-hari, kebersihan kandang menjadi perhatian utama petugas. Ular juga rutin dimandikan agar tetap sehat. “Yang penting kita harus menjaga kebersihan kandangnya. Terus kalau dia buang air harus segera dibersihkan supaya tidak menimbulkan jamur,” kata Kelvin.

Ia juga menjelaskan ular yang baru makan harus segera dibersihkan sisa pakannya agar tidak mengundang semut. “Lalu kalau dia makan kadang ada beberapa ular itu yang dia kalau enggak nyaman dia memuntahkan makanannya. Nah, itu harus segera (diambil) supaya tidak di rubung semut. Terus juga dimandikan. Dimandikan tiap hari supaya dia bersih dan bersihnya supaya dipakai handling teman-teman itu enak,” jelasnya.

Untuk makanan, Damkar memilih memberi pakan tikus putih hasil ternak karena dianggap lebih higienis dibanding tikus liar. “Kalau pakan rata-rata tikus putih. Jangan tikus hitam ya, karena kalau tikus yang hitam itu kita enggak tahu ke kuman atau apa itu. Kumannya, kebersihannya gimana, tikusnya sakit atau enggak,” tuturnya.

Saat ini, tambahnya, Damkar memiliki lima koleksi ular. Selain itu, ada satu ular berbisa jenis Albolabris atau yang dikenal masyarakat sebagai ular hijau berekor merah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *