Film Pesta Babi: Perjuangan Masyarakat Adat Papua yang Mengguncang Publik
Film dokumenter Pesta Babi kini menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat. Film ini mengangkat isu-isu penting terkait perjuangan masyarakat adat Papua melawan proyek besar yang dinilai mengancam tanah dan budaya mereka. Namun, film yang dibuat oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale ini juga menimbulkan kontroversi setelah sejumlah kegiatan nonton bareng (nobar) di beberapa daerah dikabarkan dibubarkan oleh aparat TNI.
Kontroversi Pembubaran Nobar di Ternate
Salah satu peristiwa paling mencolok terjadi di Kota Ternate ketika aparat TNI mendatangi acara nobar film Pesta Babi yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate. Aksi tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk aktivis HAM dan pegiat hak asasi manusia. Mereka menilai tindakan TNI tidak sesuai dengan prinsip kebebasan berekspresi dan demokrasi.
Peristiwa ini membuat banyak orang penasaran dengan isi film Pesta Babi. Namun, sayangnya, film ini tidak tersedia di platform streaming umum seperti Netflix atau Disney+ serta tidak ditemukan di LK21. Hal ini menyebabkan banyak warga mencari informasi tentang cara menonton film tersebut secara legal.
Film Tidak Dikomersilkan, Hanya Dapat Ditonton di Acara Nobar
Dandhy Dwi Laksono, sutradara film, menjelaskan bahwa ia tidak mengkomersialisasi karyanya. Oleh karena itu, film Pesta Babi tidak tersedia untuk diunduh atau dibeli secara resmi. Untuk menontonnya, masyarakat hanya bisa mengikuti acara nonton bareng yang diselenggarakan oleh komunitas tertentu.
Meskipun begitu, banyak orang tetap ingin mengetahui isi film tersebut. Beberapa sumber online menyebutkan bahwa link untuk menonton film ini dapat ditemukan di berbagai situs. Namun, pengguna harus berhati-hati karena tidak semua situs tersebut aman atau sah.
Kritik dari YLBHI
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) turut memberikan tanggapan atas pembubaran nobar film Pesta Babi. Ketua YLBHI, Muhammad Isnur, menilai bahwa tindakan TNI dalam membubarkan acara tersebut tidak sesuai dengan UU TNI. Ia menegaskan bahwa tugas aparat adalah memastikan keamanan, bukan mengatur selera atau moral masyarakat.
Menurut Isnur, intervensi semacam ini dapat mengurangi ruang kebebasan berekspresi dan memperkuat praktik intoleransi. Ia menyerukan agar semua pihak, terutama aparat keamanan, menghormati hak masyarakat untuk mengekspresikan diri dan menonton karya seni.
Isi Film Pesta Babi
Judul lengkap film ini adalah Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, yang diproduksi oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale. Film ini selesai diproduksi pada awal 2026 setelah dua tahun pengambilan gambar dan riset mendalam di wilayah Papua Selatan, termasuk Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
Film ini bercerita tentang perjuangan empat kelompok masyarakat adat—Suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu—yang hidup dan bergantung sepenuhnya pada hutan, sungai, dan tanah leluhur mereka. Proyek pembangunan skala besar yang dijalankan atas nama ketahanan pangan dan transisi energi nasional kini mengancam keberadaan mereka.
Cerita dimulai dengan pemandangan kuat: puluhan laki-laki adat memanggul batang kayu besar sepanjang puluhan meter, mengaraknya melintasi hutan, lalu menancapkannya menjadi simbol salib merah di tengah wilayah adat mereka. Ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan pernyataan perlawanan yang tegas.
Film ini juga mengungkap mekanisme kerja kekuasaan: bagaimana kebijakan negara, kepentingan korporasi besar, dan kehadiran militer bergabung menjadi satu kekuatan yang membuat masyarakat adat seolah tidak punya hak berbicara di tanah kelahiran mereka sendiri.
Nama “Pesta Babi” dan Maknanya
Nama “Pesta Babi” diambil dari tradisi adat paling sakral dan penting bagi masyarakat Papua. Bagi mereka, babi bukan sekadar hewan ternak, melainkan simbol kekayaan, persaudaraan, kehormatan, dan hubungan erat antara manusia dengan alam serta leluhur. Ritual pesta babi biasanya digelar untuk merayakan keberhasilan, menyelesaikan perselisihan, atau mengikat persahabatan antar suku.
Namun dalam film ini, makna itu berubah menjadi simbol perlawanan dan kesedihan: ketika tanah tempat mereka mencari makan, berburu, dan merawat ternak dirampas, maka identitas, budaya, dan masa depan mereka pun ikut terancam punah.
Melalui kesaksian langsung para tetua adat, pemuda, perempuan, dan anak-anak, penonton diajak melihat bagaimana kehidupan mereka berubah drastis: sungai yang dulunya jernih kini keruh dan tercemar, hewan buruan semakin sulit ditemukan, ladang tradisional rusak, dan mereka sendiri kerap diintimidasi, ditekan, atau dianggap menghalangi kemajuan jika berani menolak kehadiran perusahaan dan proyek tersebut.
Akhir Cerita dan Pesan Penting
Di akhir cerita, penonton dihadapkan pada satu pertanyaan besar: apa arti pembangunan jika harus merampas hak hidup, budaya, dan alam dari mereka yang telah menjaga bumi ini jauh sebelum batas negara dibuat?
Film Pesta Babi bukan sekadar dokumenter tentang Papua, melainkan cermin tentang bagaimana kekuasaan dan kepentingan ekonomi bisa mengubah nasib suatu bangsa, dan sekaligus menjadi bukti bahwa di mana pun tanah dirampas, akan selalu ada mereka yang berani bertahan dan berjuang demi tanah leluhur.






