jatim.
SURABAYA – Pengalaman dianggap berbeda karena gaya berpakaian yang tidak biasa justru menjadi titik balik bagi Marcellus Bryan Soegiarto.
Sebagai mahasiswa Universitas Ciputra (UC), Bryan kini sukses membangun brand streetwear lokal bernama UNPST Worldwide. Brand ini tidak hanya menjadi wadah untuk ekspresi diri anak muda, tetapi juga membawa konsep ‘clean grunge’ yang menggabungkan gaya rebel dan edgy dengan kesan nyaman dan mudah diterima oleh masyarakat luas.
Bryan ingin mengubah stigma bahwa gaya grunge, metal, atau street culture selalu identik dengan hal negatif. Ia pernah mengalami bullying akibat cara berpakaian yang dianggap berbeda. Namun, pengalaman itu justru menjadi motivasi baginya untuk menciptakan sesuatu yang positif.
Dalam acara Outlining Design 2026: CH2OMA di Ciputra World Surabaya, Jumat (22/5), Bryan mengungkapkan bahwa setelah aktif membangun relasi dengan berbagai komunitas, ia menyadari banyak anak muda memiliki keresahan serupa. Dari situ, ia melihat bahwa fashion bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga media untuk menyuarakan penerimaan diri.
Berbekal passion di dunia fashion, Bryan mulai membangun UNPST Worldwide sejak dua tahun lalu tanpa dukungan dari pihak luar. Prosesnya tidak mudah, karena ia harus melewati banyak trial and error untuk membangun awareness brand.
Ia kemudian aktif masuk ke komunitas hip hop, hardcore, hingga skateboard guna memperkenalkan produknya secara langsung. Meski media sosial penting, Bryan lebih memilih turun langsung ke komunitas agar orang mulai mengenal brand ini.
Kini, produk UNPST Worldwide mulai dikenal di berbagai komunitas street culture. Selain fokus pada desain pakaian, Bryan juga membangun komunitas loyal yang tumbuh bersama brand tersebut. Dalam pameran terbarunya, ia membawa sekitar 10 produk eksklusif yang belum pernah dirilis di media sosial. Produk itu dipersembahkan khusus untuk komunitas yang telah mendukung perjalanan brand sejak awal.
“Saya ingin give back ke orang-orang yang sudah support dari nol,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Visual Communication Design (VCD) UC Stevanus Christian Anggrianto menilai bahwa tugas akhir mahasiswa tidak hanya fokus pada estetika desain. Menurut dia, karya mahasiswa juga diarahkan menjadi solusi nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan siap diuji di ruang publik.
“Di VCD UC, tugas akhir tidak hanya menghasilkan karya visual menarik, tetapi juga dikembangkan menjadi solusi desain yang terintegrasi dengan bisnis dan strategi komunikasi,” kata Stevanus.
Dia menilai UNPST Worldwide menjadi contoh bagaimana desain dapat dipakai untuk membangun komunitas sekaligus mengubah persepsi publik terhadap budaya alternatif menjadi sesuatu yang positif.






