Kehadiran Legenda Sepak Bola Indonesia di HNR Cup 2
Di tengah kemeriahan pembukaan HNR Cup 2 di Stadion 29 November Sampit, Minggu (31/5/2026), perhatian penonton tidak hanya tertuju pada pertandingan dan parade budaya yang ditampilkan panitia. Kehadiran sejumlah mantan pemain nasional Indonesia turut menjadi daya tarik tersendiri.
Salah satu sosok yang menarik perhatian adalah Isnan Ali. Ia merupakan legenda hidup bagi Sriwijaya FC. Bersama Laskar Wong Kito, ia pernah menjadi juara Piala Indonesia pada tiga kesempatan berturut-turut, yaitu 2007, 2008-2009, dan 2010. Selain itu, ia juga merasakan juara Liga Indonesia bersama Sriwijaya FC pada musim 2007-2008.
Pemegang 31 caps Timnas Indonesia era 2000-an ini kini aktif sebagai pelatih di Barito Putera. Usai menghadiri pembukaan turnamen, Isnan Ali menyempatkan diri berbincang dengan sejumlah jurnalis di Sampit. Mantan bek kiri ini juga pernah memperkuat PSM Makassar, Persib Bandung, Sriwijaya FC hingga Barito Putera.
Ia mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat dan besarnya jumlah peserta yang mengikuti HNR Cup. Menurutnya, turnamen seperti ini memiliki peran penting dalam menghidupkan kembali pembinaan sepak bola daerah, terutama bagi pemain usia muda yang membutuhkan ruang kompetisi untuk berkembang.
“Alhamdulillah luar biasa. Semoga kehadiran kami di sini bisa menghibur dan tentunya bermanfaat bagi adik-adik yang bisa melihat langsung pemain-pemain seperti Ilham Jaya Kusuma, General Arief, maupun Sohei Matsunaga,” katanya.
Ia secara pribadi pun berharap agar kedatangan sejumlah mantan pemain lokal hingga Timnas Indonesia tersebut bisa memotivasi para tunas muda untuk menjadi pemain sepak bola profesional. Ia menilai Kotawaringin Timur memiliki gairah sepak bola yang besar. Karena itu, ia berharap ke depan kompetisi usia dini juga dapat berjalan secara berkelanjutan agar proses pembinaan tidak berhenti hanya pada turnamen senior.
Dalam kesempatan tersebut, Isnan mengaku sempat berdiskusi dengan sejumlah pihak, termasuk panitia dan pemerintah daerah, terkait pentingnya pembinaan pemain muda sejak usia dini.
“Harapan saya kompetisi seperti ini terus berlanjut. Tidak hanya untuk senior, tetapi juga usia dini. Banyak teman-teman kami yang sekarang aktif di akademi maupun klub profesional, sehingga pembinaan pemain muda bisa lebih terarah,” ujarnya.
Disiplin Jadi Kunci Menuju Timnas
Ketika ditanya mengenai peluang pemain-pemain lokal menembus level profesional hingga Tim Nasional Indonesia, Isnan menegaskan bahwa bakat saja tidak cukup. Menurutnya, pemain muda harus memiliki disiplin tinggi, etika yang baik dan kemauan untuk terus belajar.
“Yang pertama tentu disiplin. Disiplin menjaga istirahat, disiplin dalam latihan, terus bekerja keras dan meningkatkan kualitas. Pemain muda juga harus berani, dalam arti berani berkembang dan menunjukkan kemampuan mereka. Yang paling penting adalah menjaga etika karena itu sangat menentukan masa depan seorang pemain,” jelasnya.
Isnan tidak menutup kemungkinan dari ratusan pemain yang tampil di HNR Cup 2 akan muncul talenta yang mampu menembus sepak bola profesional. Ia menyebut banyak pemain nasional yang berasal dari daerah dan berhasil berkembang karena mendapatkan kesempatan yang tepat.
“Kita tidak pernah tahu. Dari banyaknya pemain yang tampil di sini, siapa tahu ada satu atau dua orang yang punya potensi besar. Kalau mereka memiliki kemampuan, karakter dan kemauan untuk berkembang, tentu peluang menjadi pemain profesional selalu terbuka,” katanya.
Ingin Lebih Banyak Talenta Lahir dari Daerah
Bagi Isnan, kemajuan sepak bola Indonesia tidak hanya bergantung pada daerah-daerah besar di Pulau Jawa. Ia berharap semakin banyak pemain berbakat muncul dari berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Tengah. Pengalaman pribadinya yang berasal dari Makassar dan kemudian mendapatkan kesempatan berkembang hingga level nasional menjadi alasan mengapa ia terus mendukung pembinaan pemain muda di daerah.
“Saya ingin melihat lebih banyak pemain muncul dari daerah-daerah, bukan hanya dari pusat-pusat sepak bola di Jawa. Dulu saya juga dibantu banyak orang sampai akhirnya bisa berkarier sebagai pemain profesional,” bebernya.
“Mudah-mudahan apa yang pernah saya dapatkan bisa saya tularkan kembali kepada generasi muda, termasuk di Kotawaringin Timur ini,” imbuhnya.
Meski hanya berada di Sampit dalam waktu singkat karena harus kembali mempersiapkan Barito Putera menghadapi kompetisi musim depan, Isnan mengaku senang bisa hadir dan melihat langsung semangat sepak bola yang tumbuh di Kotim. Baginya, HNR Cup 2 bukan sekadar turnamen, melainkan ruang yang bisa membuka jalan bagi lahirnya talenta-talenta baru dari daerah untuk menggapai mimpi menjadi pesepak bola profesional Indonesia.






