SURABAYA – Sistem keamanan laboratorium di lingkungan perguruan tinggi kini tak lagi cukup mengandalkan kunci konvensional. Menjawab kebutuhan tersebut, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Widya Kartika (UWIKA) Surabaya, Muhammad Syarifuddin, merancang prototipe sistem akses laboratorium dengan teknologi autentikasi berlapis.
Inovasi tersebut menggabungkan Radio Frequency Identification (RFID), Near Field Communication (NFC), dan teknologi pengenalan wajah atau Face Recognition. Perpaduan ketiga teknologi itu dirancang untuk memastikan akses ke laboratorium hanya dapat diberikan kepada pengguna yang telah terdaftar.
Prototipe tersebut merupakan hasil penelitian tugas akhir Syarifuddin berjudul “Rancang Bangun Prototipe Sistem Keamanan Akses Laboratorium dengan Multi Proteksi Berbasis Arduino”.
Dalam penelitian tersebut, Syarifuddin mendapat bimbingan dari Dwi Taufik Hidayat, S.Kom., M.Kom. sebagai dosen pembimbing pertama dan Mahesa Sangga Bhuana, S.T., M.T. sebagai dosen pembimbing kedua.
Syarifuddin mengatakan, sistem yang dikembangkan menggunakan konsep autentikasi ganda sehingga pengguna tidak cukup hanya memiliki kartu atau perangkat akses untuk membuka pintu laboratorium.
“Pengguna harus lolos verifikasi RFID atau NFC sekaligus pengenalan wajah sebelum pintu dapat dibuka. Dengan mekanisme tersebut, risiko penyalahgunaan akses dapat diminimalkan,” ujar Muhammad Syarifuddin di hadapan awak media, Senin (10/8/2026).
Dalam rancangan tersebut, Arduino UNO berfungsi sebagai pusat kendali yang mengatur komunikasi dan instruksi dari sejumlah perangkat. Modul PN532 digunakan untuk membaca kartu RFID maupun perangkat yang mendukung teknologi NFC.
Selanjutnya, proses pengenalan wajah dilakukan menggunakan ESP32-CAM. Setelah seluruh tahapan autentikasi dinyatakan valid, sistem akan memberikan perintah kepada magnetic door lock untuk membuka akses laboratorium.
Pengujian terhadap prototipe tersebut menunjukkan hasil yang cukup tinggi. Pada pengujian RFID dan NFC, seluruh kartu maupun perangkat yang telah didaftarkan berhasil dikenali sistem dengan tingkat kelolosan mencapai 100 persen.
Hasil serupa juga diperoleh dalam pengujian Face Recognition. ESP32-CAM mampu mengenali wajah pengguna pada jarak 15 hingga 50 sentimeter dengan tingkat keberhasilan mencapai 100 persen.
Mekanisme akses dilakukan secara bertahap. Ketika kartu RFID atau perangkat smartphone berhasil diverifikasi oleh modul PN532, sistem kemudian mengaktifkan ESP32-CAM untuk mencocokkan wajah pengguna dengan data yang telah tersimpan. Pintu baru akan terbuka setelah seluruh proses autentikasi terpenuhi.
Smartphone REALME Bisa Jadi Kartu Akses
Salah satu temuan menarik dalam penelitian tersebut adalah pemanfaatan smartphone REALME sebagai media autentikasi.
Melalui fitur Access Card yang tersedia pada perangkat, smartphone REALME dapat dikenali oleh sistem seperti halnya kartu RFID fisik. Penggunaan perangkat tersebut juga tidak memerlukan perubahan pada algoritma utama yang telah dirancang dalam sistem.
Menurut Syarifuddin, penggunaan smartphone sebagai media akses dapat memberikan kepraktisan bagi pengguna laboratorium karena tidak perlu membawa kartu akses tambahan.
“Penggunaan smartphone sebagai media autentikasi menjadi salah satu nilai tambah penelitian ini. Selama pengujian, smartphone REALME dapat dikenali sistem secara konsisten sehingga berfungsi sebagai alternatif kartu akses laboratorium,” jelasnya.
Berpeluang Dikembangkan dengan IoT
Dosen pembimbing pertama, Dwi Taufik Hidayat, menilai inovasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengembangkan teknologi mikrokontroler untuk menjawab persoalan keamanan yang ditemui dalam kehidupan nyata.
“Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan solusi yang aplikatif terhadap kebutuhan nyata. Penelitian ini menunjukkan bagaimana teknologi mikrokontroler dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sistem keamanan laboratorium,” ungkap Dwi Taufik Hidayat.
Sementara itu, dosen pembimbing kedua, Mahesa Sangga Bhuana, mengatakan prototipe tersebut masih terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut.
Menurut dia, sistem dapat diarahkan menuju konsep Internet of Things (IoT) sehingga pengelola laboratorium dapat memantau aktivitas akses secara lebih terintegrasi.
“Ke depan, sistem ini masih memiliki peluang untuk dikembangkan melalui integrasi Internet of Things (IoT), pencatatan riwayat akses secara real-time, hingga peningkatan keamanan autentikasi sehingga implementasinya menjadi lebih optimal,” tutur Mahesa Sangga Bhuana.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas fungsi sistem, tidak hanya sebagai mekanisme pembuka dan pengunci pintu, tetapi juga sebagai sistem pemantauan akses laboratorium secara digital.
Inovasi Syarifuddin menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi mikrokontroler untuk meningkatkan keamanan fasilitas pendidikan. Dengan kombinasi RFID, NFC, dan pengenalan wajah, prototipe tersebut berpotensi menjadi alternatif bagi institusi pendidikan yang ingin meninggalkan sistem penguncian konvensional menuju sistem akses yang lebih modern dan terintegrasi.






