400 Akademisi Ikuti KRA XIII 2026, IAI KAPd Fokus Perkuat Publikasi Riset

Caption : International Conference KRA XIII 2026 IAI mempertemukan lebih dari 400 peserta dari 45 perguruan tinggi di Indonesia serta peserta internasional untuk membahas riset, publikasi, dan pembangunan berkelanjutan. (Foto : Nugi/Indonesiakini.id)

SURABAYA – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Kompartemen Akuntan Pendidik (KAPd) memasang target ambisius untuk mendorong lahirnya 200 publikasi ilmiah hingga penghujung 2026. Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya riset dan publikasi di kalangan akademisi akuntansi di Indonesia.

Target itu disampaikan Ketua IAI KAPd, Prof. Dr. Dian Agustia, S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., CFrA., ACPA., CRP., CRA., dalam International Conference KRA XIII 2026 IAI di Petra Performance Hall, Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Selasa (1/9/2026).

Konferensi internasional tahunan tersebut merupakan hasil kolaborasi IAI KAPd dengan School of Business and Management (SBM) UK Petra. Kegiatan ini mempertemukan akademisi, praktisi, peneliti, hingga pemangku kebijakan untuk membahas berbagai tantangan dan peluang dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Antusiasme terhadap forum tersebut terlihat dari jumlah peserta yang mencapai lebih dari 400 orang. Mereka berasal dari 45 perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah mahasiswa internasional juga turut ambil bagian, di antaranya berasal dari Pakistan, Islamabad, Australia, Singapura, dan Malaysia.

Dian mengatakan, konferensi tersebut menjadi salah satu ruang bagi para dosen, khususnya bidang akuntansi di Jawa Timur, untuk mengembangkan hasil penelitian agar tidak berhenti pada tahap laporan akademik.

Menurut dia, hasil penelitian perlu didorong hingga tahap publikasi sehingga pengetahuan yang dihasilkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Fokus utama pertemuan ini adalah penelitian dan publikasi. Hasil penelitian nantinya diarahkan untuk dipublikasikan melalui jurnal Q1, Sinta 1, Sinta 2, maupun Scopus. Jadi tidak berhenti pada laporan penelitian, tetapi harus sampai publikasi agar ada impact dari hasil penelitian tersebut,” kata Dian.

Ia menjelaskan, artikel yang dihasilkan peserta dapat diarahkan ke berbagai tingkatan jurnal, mulai dari jurnal nasional yang terindeks Science and Technology Index (Sinta) hingga jurnal internasional yang terindeks Scopus.

Namun, proses menuju publikasi tidak berlangsung secara otomatis. Setiap naskah harus melewati proses seleksi dan penelaahan untuk memastikan kualitas serta kesesuaiannya dengan standar jurnal yang dituju.

“Target sampai 2026 ada sekitar 200 jurnal dipublikasikan. Ada penilaian terlebih dahulu untuk menentukan mana yang memenuhi standar. Untuk jurnal Q1 tidak bisa langsung masuk, harus direview dan memenuhi kriteria masing-masing jurnal,” jelasnya.

Dian menambahkan, karya yang masuk dalam konferensi juga melalui beberapa tahapan. Setelah naskah dikirimkan, artikel akan diseleksi oleh reviewer. Karya yang lolos kemudian dipresentasikan untuk mendapatkan pembahasan sebelum ditentukan artikel yang memenuhi kriteria publikasi.

Caption : Ketua IAI Kompartemen Akuntan Pendidik (KAPd) Prof. Dr. Dian Agustia menyampaikan paparan dalam International Conference KRA XIII 2026 IAI di Petra Performance Hall, Universitas Kristen Petra Surabaya. (Foto : Nugi/Indonesiakini.id)

Selain mendorong produktivitas riset, konferensi tersebut mengangkat isu keberlanjutan yang dinilai semakin penting di tengah perubahan kondisi ekonomi dan global.

Ketua Panitia KRA XIII 2026, Dr. Elisa Tjondro, S.E., M.A., mengatakan ketidakpastian ekonomi, dinamika geopolitik, serta ancaman perubahan iklim telah membuat pembangunan berkelanjutan menjadi kebutuhan strategis.

Menurutnya, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta inovasi yang mampu menghasilkan dampak konkret menjadi elemen penting dalam membangun ketahanan ekonomi dan sosial.

“Di tengah laju ketidakpastian ekonomi, pergeseran geopolitik, dan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, pembangunan berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana lingkungan, melainkan keharusan strategis yang menentukan masa depan global,” ujarnya.

Ia menambahkan, KRA XIII 2026 tidak hanya menjadi forum untuk mempresentasikan hasil penelitian. Kegiatan tersebut juga dirancang sebagai jembatan antara gagasan akademik, kebutuhan dunia usaha, serta arah kebijakan publik.

Melalui berbagai sesi yang dihadirkan, para peserta didorong untuk bertukar perspektif sekaligus membangun kolaborasi dalam merumuskan pendekatan baru terhadap isu keberlanjutan.

“Forum ilmiah internasional ini mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dan mendefinisikan ulang arah keberlanjutan demi menciptakan masa depan yang lebih inklusif dan berdampak,” ungkap Elisa.

Sementara itu, Rektor Universitas Kristen Petra, Prof. Dr. (H.C.) Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng., menyambut positif penyelenggaraan KRA XIII 2026 di kampus tersebut.

Menurut Rolly, konferensi ini memiliki nilai strategis bagi UK Petra, terlebih tahun ini Petra memasuki usia ke-65. Universitas tersebut didirikan pada 22 September 1961 dan akan memperingati hari jadinya pada September 2026.

“Atas nama sivitas akademika Universitas Kristen Petra, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu undangan, pembicara, peserta yang hadir dari berbagai perguruan tinggi nasional maupun internasional,” katanya.

Ia menilai kolaborasi SBM UK Petra dengan IAI KAPd, khususnya IAI Wilayah Jawa Timur, menjadi sebuah kehormatan sekaligus peluang untuk menghadirkan forum akademik yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan profesi dan keilmuan akuntansi.

Rolly juga menyoroti tema KRA XIII 2026 yang dinilai relevan dengan kondisi global saat ini. Menurutnya, tema tersebut mengajak akademisi maupun praktisi untuk melihat kembali konsep keberlanjutan dan mencari pendekatan baru di tengah masa transisi global.

Salah satu hal yang menarik adalah penggunaan ungkapan khas Jawa Timur, “Wani Rek”, sebagai bagian dari tema konferensi.

Rolly mengatakan, ungkapan tersebut menggambarkan karakter masyarakat Jawa Timur yang identik dengan keberanian. Semangat itu juga tidak terlepas dari identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

“Jawa Timur terkenal sebagai orang-orang yang berani. Kita mengenal Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Keberanian inilah yang memberikan semangat bagi kita di Jawa Timur,” katanya.

Ia berharap semangat “Wani Rek” tidak hanya menjadi slogan, tetapi dapat diterjemahkan dalam keberanian untuk menghasilkan penelitian berkualitas, menciptakan inovasi, serta menghadirkan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat dan dunia industri.

“Semangat khas Jawa Timur, Wani Rek, hendaknya menjadi dorongan moral bagi kita semua untuk berani berinovasi, berani melakukan riset berstandar tinggi, dan berani memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri,” tegasnya.

Caption : Sebanyak 45 perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai daerah di Indonesia dan mahasiswa internasional juga turut ambil bagian dalam International Conference KRA XIII 2026 IAI diantaranya berasal dari Pakistan, Islamabad, Australia, Singapura, dan Malaysia. (Foto : Nugi/Indonesiakini.id)