FTMM UNAIR Dorong Riset Lintas Disiplin Bersama Mahasiswa Internasional

Caption : Salah satu pemateri menjelaskan tujuan pelaksanaan EXCEED × NEWTON 2026 dan menyampaikan pandangannya mengenai kolaborasi lintas fakultas dan internasional. (Foto : Nugi/Indonesiakini.id)

SURABAYA – Universitas Airlangga (UNAIR) memperluas ruang kolaborasi akademik internasional melalui EXCEED × NEWTON 2026 yang mempertemukan mahasiswa lintas negara dan lintas disiplin ilmu.

Program yang digagas Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) bersama Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR tersebut menjadi bagian dari rangkaian INTEGRATION 2026 yang diselenggarakan Airlangga Global Engagement (AGE).

Mengusung konsep student inbound, EXCEED × NEWTON memadukan pembelajaran akademik dengan pengembangan teknologi, pengabdian kepada masyarakat, serta pengenalan budaya Indonesia.

Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa internasional untuk memperoleh pengalaman belajar langsung sekaligus membangun jejaring dengan sivitas akademika UNAIR.

Dekan FTMM UNAIR Prof. Dr. Ir. Retna Apsari, M.Si., IPM., ASEAN Eng., mengatakan pelaksanaan program tersebut merupakan bagian dari penugasan universitas untuk memperkuat keterhubungan antara FTMM dan FST, khususnya dalam kegiatan yang melibatkan dosen dan mahasiswa.

“Ini adalah acara inbound student, integrasi antara Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin dengan Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas memberikan penugasan agar dua fakultas ini berintegrasi dalam aktivitas dosen dan aktivitas student,” kata Retna, (15/09/26) Selasa.

Menurut dia, program tersebut diarahkan menjadi Overseas Immersive Short-Term Program dengan perhatian khusus pada isu pembangunan berkelanjutan. Salah satu pembahasan yang diangkat adalah pengelolaan limbah industri, mulai dari aspek lingkungan hingga teknologi pemrosesannya.

Pengalaman peserta tidak berhenti pada forum akademik. Para mahasiswa juga diajak melihat langsung sejumlah laboratorium di lingkungan UNAIR. Kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai fasilitas penelitian sekaligus membuka peluang pengembangan teknologi melalui pendekatan multidisiplin.

Sebanyak 18 mahasiswa internasional ambil bagian dalam EXCEED × NEWTON 2026. Mereka terdiri atas 17 mahasiswa asal Malaysia dan satu mahasiswa dari Thailand yang berasal dari tujuh perguruan tinggi.

Institusi tersebut meliputi Universiti Teknologi MARA (UiTM), Management and Science University, Universiti Tenaga Nasional (UNITEN), Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), Universiti Kuala Lumpur, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), serta Prince of Songkla University.

Vice Rector for Research, Innovation and Community Development (RICD) UNAIR Prof. Muhammad Miftahussurussur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D., FINASIM, menilai kolaborasi semacam ini semakin relevan di tengah persoalan global yang kian kompleks.

Ia mengatakan persoalan lingkungan dan energi tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu bidang keilmuan. Karena itu, pertukaran gagasan antara fakultas dan perguruan tinggi dari berbagai negara diperlukan untuk menghasilkan pendekatan yang lebih komprehensif.

Teks Foto : FTMM dan FST UNAIR bersama 18 mahasiswa internasional dalam program EXCEED × NEWTON 2026. (FTMM UNAIR for Indonesiakini.id)

Dalam EXCEED × NEWTON 2026, sejumlah isu strategis menjadi bagian dari pembelajaran, termasuk pemanfaatan limbah padat agar dapat diolah menjadi material maupun sumber energi bernilai tambah serta pengembangan nanomaterial berbasis karbon.

“Inilah sebabnya mengapa inisiatif bersama antara Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin serta Fakultas Sains dan Teknologi sangat terpuji,” ujarnya.

Prof. Miftahussurussur menegaskan, riset transformatif membutuhkan kerja bersama. Kolaborasi lintas bidang dinilai penting untuk menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan nyata sehingga hasil penelitian dapat diterapkan dan memberikan dampak bagi masyarakat.

“Penelitian transformatif tidak dapat dicapai secara terisolasi. Penelitian tersebut berkembang ketika fakultas-fakultas menjembatani disiplin ilmu untuk mengubah pengetahuan ilmiah menjadi solusi praktis,” tegasnya.

Menurutnya, perguruan tinggi juga perlu memperluas orientasi kerja sama hingga melampaui batas institusi dan negara. Tantangan pembangunan berkelanjutan membutuhkan kemitraan yang konsisten agar pertukaran pengetahuan dapat berkembang menjadi kerja sama riset dan inovasi dalam jangka panjang.

“Inisiatif seperti Integration 2026 sangat penting. Jaringan akademis dapat mencapai tujuan sebenarnya ketika melampaui pertukaran teori untuk membangun teknologi bersama, kerangka penelitian yang kuat, dan solusi sosial yang berdampak,” tuturnya.

Selama mengikuti program, mahasiswa internasional berinteraksi langsung dengan mahasiswa UNAIR dalam berbagai kegiatan. Selain memperkaya wawasan akademik, interaksi tersebut menjadi sarana untuk mengasah kemampuan komunikasi lintas budaya, kerja tim internasional, serta kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan.

Rangkaian kegiatan EXCEED × NEWTON 2026 mencakup Opening Ceremony, Guest Lecture Session, BSO FTMM Tour, Student Laboratory Visit, Community Service Program, Traditional Batik Workshop, Performance, hingga Closing Ceremony.

Pada aspek pengabdian masyarakat, peserta juga dikenalkan pada persoalan pengolahan limbah batik. Kegiatan tersebut menjadi contoh penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk merespons persoalan lingkungan yang ditemui di tengah masyarakat.

Pelaksanaan program sekaligus mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 6 mengenai air bersih dan sanitasi, SDG 8 terkait pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 10 tentang pengurangan ketimpangan, serta SDG 17 mengenai kemitraan global.

Melalui EXCEED × NEWTON 2026, FTMM dan FST UNAIR tidak hanya mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dalam satu ruang belajar. Program tersebut juga diarahkan menjadi pijakan untuk memperluas jaringan akademik internasional, mendorong kolaborasi riset, dan membangun kemitraan yang dapat berlanjut setelah program berakhir.

 

Sumber/Referensi : Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga.