News  

Iran Peringatkan Balasan Jika AS Kembali Menyerang di Tengah Eskalasi Hormuz

Iran Peringatkan Balasan Jika AS Kembali Menyerang di Tengah Eskalasi Hormuz
Iran Peringatkan Balasan Jika AS Kembali Menyerang di Tengah Eskalasi Hormuz

INDONESIAKINI.ID – Ketegangan di sekitar Selat Hormuz meningkat setelah sedikitnya 11 kapal dilaporkan menjadi sasaran hingga 6 November, sementara tiga di antaranya tenggelam. Pada saat situasi itu berkembang, pejabat senior Iran Mohsen Rezaei menyampaikan peringatan melalui X pada Sabtu (7/11/2026): Teheran akan membalas dengan keras apabila Amerika Serikat memulai perang baru.

Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, juga memakai unggahannya untuk menyerang kondisi politik pemerintahan Presiden Donald Trump. Ia menyatakan Wakil Presiden JD Vance telah mengakui kekalahan, Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan segera pergi, Menteri Pertahanan Pete Hegseth terancam dipecat, dan pimpinan CENTCOM kini menjadi podcaster. “Kalian telah kalah dalam perang dan pemilu,” tulisnya.

Klaim tentang posisi Vance, Rubio, Hegseth, dan pimpinan Komando Pusat AS itu merupakan sindiran Rezaei, bukan pengumuman resmi dari Washington. Ia mempertanyakan siapa di pemerintahan AS yang masih dapat menerima peringatan Teheran, sebelum menegaskan, “Mulailah perang, dan kalian akan menghadapi balasan yang menghancurkan.”

Ancaman tersebut muncul setelah serangan baru AS terhadap Iran, menurut laporan Al Jazeera. Dua proyektil menghantam Pulau Qeshm pada Jumat malam (6/11), menyusul serangan udara dalam beberapa pekan sebelumnya yang menargetkan pertahanan udara dan peluncur senjata Iran; Trump menyebut operasi itu terbatas. Ia juga mengancam akan melancarkan serangan udara besar lagi, termasuk terhadap infrastruktur sipil Iran.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mencatat tiga kapal tenggelam dalam rentetan serangan di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Di pihak Iran, Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dilaporkan telah menginstruksikan angkatan bersenjata untuk merespons tanpa pembatasan bila AS atau Israel kembali mengancam. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, mengatakan Teheran menyiapkan kemampuan senjata baru jika serangan besar terjadi lagi.

Tekanan terhadap Washington juga bertambah setelah pemilu 3 November, ketika Partai Demokrat merebut mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat, sehingga Partai Republik kehilangan kendali atas Kongres. Perubahan itu dapat menyulitkan agenda Trump pada dua tahun terakhir masa jabatannya, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan perubahan kebijakan militer AS terhadap Iran. Rezaei mengaitkan perkembangan politik tersebut dengan konflik, sementara sejumlah pernyataannya tentang pejabat AS tetap berupa klaim pejabat Iran.

Upaya mencegah konflik meluas masih berjalan melalui komunikasi sejumlah negara dengan Teheran, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, Oman, dan Mesir. Namun, perbedaan tuntutan Washington dan Teheran belum terselesaikan, sementara serangan serta ancaman lanjutan terus membayangi hubungan kedua negara. Peringatan Rezaei disampaikan di tengah keadaan itu, ketika jalur diplomasi masih terbuka tetapi belum menghasilkan penyelesaian.

Penulis: Emel Yanie