Daerah  

Festival Kawin Batu VII Mengangkat Tema “Kandang Goah Kahuripan”, Tradisi Unik Majalengka Ini Akan Digelar Kembali

MAJALENGKA (INDONESIAKINI.id) – Festival Kawin Batu adalah sebuah gerakan budaya yang mengedepankan semangat persaudaraan, kekeluargaan, menyatukan keberagaman, dan pemikiran. Festival Kawin Batu VII akan dilaksanakan di Padepokan Kirik Nguyuh, 11 Desember 2023.

Kawin Batu berlandaskan kepada keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.

Festival ini digelar setiap Desember, digagas oleh Padepokan Kirik Nguyuh dan masyarakat Girimukti. Kegiatan diisi dengan tradisi dan ritual dikemas kekinian, pementasan musik, dan hajat masyarakat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, belasan pasangan batu yang dijodohkan menikah di acara pernikahan yang disebut dengan Festival Budaya Kawin Batu ini merupakan acara yang kesenian Majalengka yang bertujuan untuk merekatkan silahturahmi dan persatuan antar warga.

Tak lupa menikmati penampilan Sorawatu ditemani alunan batu yang syahdu ditambah gonggongan cemas dan embikan lapar sebagai penanda kita masih bisa bersuara.

“Ikatan paling luhur sebagai manusia adalah perkawinan. Batu adalah media. Kerasnya batu adalah pemikiran. Jadi (kawin batu bisa diartikan) perkawinan pemikiran, hati, jiwa, dan raga. Lebih kepada perkawinan ideologi. Makanya kita membawa nama kawin batu,” Direktur Padepokan Kirik Nguyuh Hendra Wahid.

Kawin Batu VII tahun ini mengangkat tema “Kandang Goah Kahuripan” untuk mengingatkan masyarakat Sunda tentang pentingnya kesadaran pangan keluarga. Kawin Batu VII akan menampilkan instalasi ‘Goah’ sebagai ruang ritus tempat meletakan bumi (pangan) dan menjadikan ‘Goah’ sebagai simbol sakralitas pertanian.

Mula-mula pangan disekularisasi, dimensi spritualnya dihilangkan, diklaim bahwa itu merupakan produk ilmu pengetahuan (barat) & teknologi modern (barat) belaka.

Maka, sistem pengetahuan (pangan), teknologi (pangan) & lembaga-lembaga yg utamanya mengurusi perkara-perkara pangan karuhun kita dinista & disingkirkan.

Produksi pangan menciut menjadi bukan kegiatan kolektif, spritual & beragam, melainkan kegiatan ekonomi individual yang bergantung pada teknokrasi, dinamika pasar global & seragam.

Pusat budaya pangan menjadi bukan kampung-kampung di mana semangat kolektivitas (gotong royong) merupakan jantungnya. keluarga pun menciut menjadi bukan lagi keluarga besar, melainkan keluarga inti belaka & keluarga inti pun tanpa goah, tanpa ruang kesadaran bahwa keberadaan mereka bergantung pada pangan yang merupakan hadiah dari Alam. pangan diimani datang dari uang belaka.

Dengan lain kata, setelah lumbung yang merupakan stok pangan kampung (Desa) hilang, setelah leuit yang merupakan stok pangan keluarga besar hilang, Goah yang merupakan jantung keluarga inti pun hilang pula.

Hilangnya semua itu jelas menjadikan rumah-rumah, kampung-kampung & Desa-Desa kehilangan pondasi. Keberadaan semua itu lebih bergantung pada kalkulasi laba elit ekonomi-politik global, tentu saja ini menjadikan rumah-rumah, kampung-kampung & Desa-Desa semua semakin rentan. padahal semua itu adalah dasar peradaban bangsa.

Untuk keluar dari kemelut yang semakin menjalar & mengakar tersebut, membangun Goah adalah salah satu jalannya. Sebab, membangun Goah berarti menumbuhkan keluarga dengan kesadaran bahwa pangan adalah hadiah dari Alam.