Mengintip Tantangan Sutradara di Balik Layar Film “Na Willa”
Membuat sebuah film drama keluarga yang menyentuh hati bukanlah perkara mudah. Sutradara Ryan Adriandhy membagikan berbagai tantangan yang dihadapinya saat menggarap film “Na Willa”, sebuah karya yang mengambil latar belakang Surabaya pada era 1960-an. Salah satu momen paling menantang, menurut Ryan, justru datang dari adegan yang terdengar paling sederhana: adegan bangun tidur.

Adegan bangun tidur, yang sekilas tampak remeh, ternyata menyimpan kesulitan tersendiri dalam menciptakan nuansa yang natural di depan kamera. Dalam film “Na Willa”, terdapat sebuah adegan krusial di mana Luisa Adreena, yang memerankan karakter utama Na Willa, harus terbangun dari tidurnya sambil menangis. Tantangan ini membutuhkan pendekatan yang unik untuk menangkap emosi yang otentik.
“Aku selalu merasa adegan bangun tidur itu sangat sulit untuk diperankan dengan baik,” ujar Ryan Adriandhy saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan pada Jumat (13/3). “Karena kami menginginkan adegan bangun yang benar-benar natural, pada hari syuting di studio, kami meredupkan lampu agar benar-benar terasa seperti suasana malam.”
Demi mewujudkan momen yang alami tersebut, Ryan mengambil langkah drastis dengan memastikan Luisa benar-benar tertidur pulas selama proses pengambilan gambar. Seluruh kru film pun diminta untuk berbicara dengan suara berbisik agar tidak mengganggu tidur sang aktris cilik.
“Sebelum dia tidur, saya meminta Luisa untuk menghafalkan dialognya terlebih dahulu. Begitu adegan dimulai, kami berkomunikasi menggunakan Handy Talky (HT) sambil berbisik untuk meminta Luisa bangun,” jelas Ryan, menambahkan detail upaya yang dilakukan untuk mendapatkan hasil maksimal.
Lebih lanjut, Ryan mengungkapkan bahwa proses syuting “Na Willa” justru diperkaya oleh banyak momen spontanitas yang secara tak terduga membuat adegan terasa lebih hidup dan autentik. Salah satu contohnya adalah ketika Luisa secara tidak sengaja mengucapkan dialog yang keliru. Namun, alih-alih mengulang adegan, kesalahan tersebut justru dipertahankan dan ditangani dengan apik oleh lawan mainnya.

“Seharusnya Luisa mengucapkan ‘Ibu guru tidak akan tertawa,’ tetapi dia justru mengatakan ‘Ibu guru akan tidak tertawa.’ Kemudian, pemeran karakter Mak menanggapi dengan seolah membetulkan kalimatnya dengan mengatakan ‘Tidak akan.’ Saya membiarkannya saja karena terlihat alami,” tutur Ryan sambil tertawa mengenang momen tersebut.
Meskipun demikian, Ryan mengakui bahwa bekerja dengan anak-anak bukanlah tugas yang mudah. Selain Luisa Adreena, film ini juga menampilkan sejumlah talenta cilik lainnya, termasuk Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy. Kehadiran mereka membawa energi yang luar biasa ke lokasi syuting.
“Energi mereka sangat kuat. Jika ditanya bagaimana caranya mengatasinya, kuncinya adalah kesabaran. Kami juga harus bisa menyeimbangkan energi mereka. Ketika mereka berlarian, saya pun ikut berlarian ke sana kemari,” tuturnya.
Menyadari banyaknya keterlibatan anak-anak dalam produksi, Ryan berupaya keras untuk menciptakan lingkungan kerja yang ramah anak selama proses syuting berlangsung. Ia memastikan bahwa lokasi syuting bebas dari asap rokok dan menyediakan berbagai fasilitas pendukung demi kenyamanan para pemain cilik.

“Kami menyediakan waktu untuk tidur siang. Ruang talent dibuat seperti playground, lengkap dengan kolam bola, agar suasananya nyaman. Lingkungan bebas asap rokok juga menjadi prioritas utama,” pungkasnya.
Film “Na Willa” sendiri merupakan sebuah film drama keluarga yang berlatar belakang kota Surabaya pada era 1960-an. Cerita film ini mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis cilik berusia enam tahun bernama Na Willa, yang memiliki imajinasi luas. Dunianya mulai berubah ketika teman-temannya memasuki dunia sekolah, memaksanya untuk menghadapi berbagai pengalaman baru dalam masa kecilnya yang penuh warna.
Selain dibintangi oleh Luisa Adreena, film ini juga menampilkan akting Irma Novita sebagai Mak dan Junior Liem sebagai Pak. “Na Willa” telah tayang di bioskop sejak tanggal 18 Maret 2026, memberikan kesempatan bagi penonton untuk menyelami kisah hangat dan penuh makna dari masa kecil yang unik.






