Pemerintah Jepang mengambil langkah proaktif untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh pariwisata berlebihan atau overtourism. Rencananya, pada tahun 2030, sebanyak 100 area di seluruh Jepang akan menjadi fokus penanganan, meningkat signifikan dari target 45 area pada tahun 2025. Ini menandai pertama kalinya negara matahari terbit ini menetapkan target konkret untuk mengelola isu pariwisata yang semakin kompleks, terutama pasca-pandemi COVID-19.
Keputusan ini disetujui oleh kabinet pada Jumat, 27 Maret 2026. Implementasi langkah-langkah ini didorong oleh dampak negatif yang dirasakan oleh kualitas hidup penduduk lokal di destinasi wisata populer akibat konsentrasi pengunjung yang masif. Di sisi lain, Jepang sangat membutuhkan peningkatan jumlah wisatawan asing sebagai penggerak vital bagi perekonomian negara.
Strategi Pendanaan dan Insentif
Salah satu strategi utama yang diusung adalah pemanfaatan pendapatan dari pajak keberangkatan internasional, yang juga dikenal sebagai pajak turis. Pajak ini dijadwalkan mengalami kenaikan signifikan. Mulai Juli tahun ini, tarifnya akan menjadi ¥3.000 per orang, sebuah peningkatan dari tarif sebelumnya yang hanya ¥1.000. Kenaikan ini diharapkan dapat mengalirkan dana segar untuk mendukung upaya pengelolaan pariwisata.
Selain itu, pemerintah Jepang juga berencana memberikan subsidi kepada pemerintah daerah yang secara aktif mengambil inisiatif untuk mengatasi overtourism. Subsidi ini akan diberikan kepada daerah yang berhasil merancang dan menerapkan solusi, seperti rencana untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di area wisata, serta upaya menghilangkan perilaku wisatawan yang tidak pantas dan mengganggu kenyamanan warga lokal.
Fokus Jangka Panjang dan Diversifikasi Destinasi
Dalam periode lima tahun ke depan, yang dimulai pada tahun fiskal 2026, Jepang akan memberikan penekanan kuat pada upaya menarik wisatawan asing ke daerah pedesaan. Hal ini bertujuan untuk mendistribusikan dampak pariwisata secara lebih merata dan memberikan pengalaman yang lebih otentik kepada pengunjung, sekaligus mendukung perekonomian daerah terpencil.
Bersamaan dengan itu, pemerintah juga akan memperkuat penindakan terhadap operator penginapan swasta yang tidak mematuhi regulasi. Hal ini mencakup pengawasan ketat terhadap akomodasi ilegal atau yang beroperasi di luar standar, demi menjaga kualitas dan keamanan pariwisata.
Pemerintah Jepang tetap mempertahankan target ambisius yang telah ditetapkan sejak tahun 2016, yaitu menarik 60 juta wisatawan ke Jepang pada tahun 2030. Target ini merupakan lompatan besar dari perkiraan 42,7 juta wisatawan pada tahun 2025. Lebih jauh lagi, pengeluaran wisatawan juga ditargetkan mengalami peningkatan signifikan, dari sekitar ¥9,5 triliun pada tahun 2025 menjadi ¥15 triliun pada tahun 2030.
Potensi Kebijakan Penetapan Harga Ganda
Salah satu opsi kebijakan yang sedang dipertimbangkan adalah penerapan penetapan harga ganda di fasilitas wisata tertentu. Kebijakan ini akan memungkinkan adanya perbedaan tarif masuk antara penduduk lokal Jepang dan wisatawan mancanegara. Tujuannya adalah untuk mengelola permintaan dan memberikan insentif bagi warga lokal untuk tetap dapat menikmati destinasi mereka tanpa terbebani oleh tingginya jumlah wisatawan.
Perkiraan dan Pergeseran Pasar Wisatawan
Perkiraan menunjukkan bahwa jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang pada tahun 2025 akan mencapai rekor baru, yaitu 42,7 juta orang. Pengeluaran mereka juga diproyeksikan akan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 9,5 triliun yen. Data awal untuk bulan Februari saja mencatat rekor bulanan dengan kedatangan sekitar 3,47 juta wisatawan mancanegara, menunjukkan tren positif yang kuat.
Namun, ada pergeseran strategis yang perlu diantisipasi. Dengan menurunnya jumlah wisatawan dari Tiongkok akibat ketegangan hubungan diplomatik kedua negara, pemerintah Jepang berencana untuk mengalihkan fokus penarikannya ke pasar-pasar baru yang potensial. Wilayah-wilayah yang menjadi prioritas meliputi Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan kawasan lainnya yang menunjukkan minat tinggi terhadap pariwisata Jepang. Pergeseran ini diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan pariwisata secara berkelanjutan.






