ACEH (INDONESIAKINI.id) – Aceh Dijuluki dengan Wilayah paling barat di Indonesia ini digadang-gadang menjadi salah satu surganya perempuan cantik. Memiliki julukan Serambi Makkah, perempuan Aceh rata-rata memiliki wajah cantik khas yang merupakan perpaduan Melayu, India dan Arab.
Belum lagi perempuan Aceh kebanyakan mengenakan hijab. Penampilan ini tentu bukan hanya menyejukkan mata tetapi juga meneduhkan hati.
Perempuan Aceh terkenal dengan kecantikan fisiknya yang khas dan unik, serta kearifan lokal dan kepatuhan terhadap syariat Islam sebagai bagian dari budaya masyarakat Aceh.
Kecantikan mereka tak hanya terlihat dari penampilan fisik semata, namun juga dari keindahan hati dan jiwa mereka.
Memiliki ciri khas wajah yang memukau dan menawan,
Kecantikan perempuan Aceh diakui hingga mencuri perhatian di ranah nasional, internasional.
Berbagai tulisan telah mengungkapkan apresiasi yang tinggi terhadap kecantikan perempuan-perempuan Aceh oleh orang-orang di luar daerah.
Keberagaman dan pesona alam Aceh yang luar biasa menciptakan perempuan-perempuan cantik dengan daya tarik yang tak terlupakan.
Kecantikan mereka menjadi simbol dari keindahan alam dan kearifan budaya Indonesia di bagian ujung barat negeri ini.
Selain pesona keindahan fisiknya, perempuan Aceh juga memiliki pesona kekuatan dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Selain itu, Perempuan Aceh juga memiliki keberanian dan semangat juang yang tinggi, terbukti dari sejarah perjuangan Aceh dalam melawan para penjajah.
Seperti halnya Cut Nyak’ Dhien /ejaan lama: Tjoet Nja’ Dhien adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan penjajah Belanda.
Begitu pula dengan Tjoet/Cut Nyak’ Meutia Ia
menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.
Serta Keumalahayati juga salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh, sehingga ia mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati,
Dan Sultanah Safiatuddin bergelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam, ia merupakan pembentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan.
Dengan paras mereka yang cantik juga meliput keramahan serta keadaban dan semangat juang yang tinggi. Yang kini terpekat erat pada Perempuan Aceh di era sekarang.
Maka tidak heran banyak dari kalangan artis tanah air ialah perempuan yang berdarah Aceh Seperti Cut Meyriska, Enzy Storia, dan Cut Syifa dan beberapa lainnyan. Bahkan panggung televisi terbilang banyak diisi oleh perempuan-perempuan berdarah Aceh.
