JOMBANG – Para pengrajin batik dan ecoprint di Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, kini bisa tersenyum lega. Tantangan cuaca lembab pegunungan yang selama ini memperlambat proses pengeringan kain akhirnya teratasi berkat inovasi mesin pengering berbasis infrared.
Teknologi ini dibawa oleh Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Melalui program yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) 2025, mereka memberikan bantuan kepada sentra kerajinan Nusantria Batik Ecoprint.
Ketua Tim PKM Unitomo, Safrin Zuraidah, mengungkapkan mesin dryroom infrared ini mampu memangkas waktu pengeringan secara drastis. “Jika sebelumnya butuh tiga hari, kini hanya 90 menit untuk mengeringkan 12 lembar kain. Produktivitas bisa naik hingga 300 persen, dan kualitas warna kain tetap terjaga,” ujar dosen senior Prodi Teknik Sipil Unitomo dalam keterangan tertulis, (14/08/25) Kamis.
Tak sekadar menyerahkan mesin, tim dosen PKM yang terdiri dari Safrin Zuraidah dan Ilya Farida (Unitomo) serta Ichlas Wahid (Untag) juga memberikan pelatihan penggunaan dan perawatan alat. Selain itu, mereka mengajarkan inovasi pembuatan canting cap dari bahan kardus yang lebih ekonomis, sehingga memudahkan pengrajin menghasilkan motif unik sesuai permintaan pasar.
Dosen Prodi Teknik Mesin Untag Surabaya, Ichlas Wahid, berharap pelatihan ini mampu memotivasi generasi muda untuk tetap berkarya. “Kami ingin seni batik dan ecoprint tetap lestari, tapi juga mengikuti perkembangan teknologi agar efisien dan berkualitas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala LPPM Unitomo, Prof. Nur Sayidah, menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku usaha lokal. “PKM ini membuktikan perguruan tinggi bisa menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Kami ingin pengrajin di Desa Sumberjo tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan memadukan kearifan lokal dan teknologi modern,” tuturnya.
Dengan dukungan teknologi ini, batik dan ecoprint asal Wonosalam diharapkan semakin kompetitif di pasar lokal maupun nasional, sekaligus tetap mempertahankan identitas budaya yang menjadi kebanggaan daerah.





