SURABAYA – Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah konferensi internasional kolaboratif.
Ajang bertajuk International Conference on Advanced Technology and Multidiscipline (ICATAM) yang digelar bersamaan dengan 5th International Conference on Innovations in Power & Advanced Computing Techniques (i-PACT/IPEC) 2025 ini berlangsung pada 25–26 September 2025 di Universitas Airlangga.
Konferensi prestisius tersebut diikuti 256 peserta yang berasal dari lima negara. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama FTMM UNAIR dengan Vellore Institute of Technology (India) serta Universiti Malaya (Malaysia), dan didukung penuh oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Indonesia Section.
Momen ini menjadi tonggak penting dalam sejarah FTMM, sebab untuk pertama kalinya konferensi internasional diselenggarakan secara tatap muka setelah empat tahun sebelumnya hanya dapat digelar secara daring. Tidak hanya itu, acara ini juga menjadi langkah awal FTMM dalam menjalin kolaborasi konferensi dengan universitas luar negeri.
Dekan FTMM UNAIR, Prof. Dr. Ir. Retna Apsari, M.Si., IPM yang baru saja dilantik, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Perkembangan teknologi tidak bisa dicapai secara terpisah. Dibutuhkan kerja sama, inovasi, dan kemitraan agar tujuan pembangunan berkelanjutan dapat diwujudkan. Kami bangga, meski FTMM masih muda, mampu menyelenggarakan konferensi internasional berskala besar ini. Semoga ke depan kolaborasi ini terus berlanjut melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujarnya.

Sebagai simbol dimulainya kerja sama internasional tersebut, dilakukan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Vellore Institute of Technology (VIT) India dengan FTMM Universitas Airlangga.
Perwakilan Universiti Malaya, Prof. Dr. Nik Nazri Nik Ghazali, menegaskan bahwa konferensi internasional seperti IPEC sangat vital untuk memperkuat kolaborasi akademik sekaligus meningkatkan peringkat universitas di kancah global.
“Ranking itu penting. Dengan ranking tinggi, reputasi universitas meningkat, visibilitas bertambah, lebih banyak mahasiswa internasional datang, dan tentu saja riset berkembang. Itu efek berantai,” jelasnya.
UM sendiri telah lama menjalin kerja sama dengan UNAIR, mulai dari mobilitas mahasiswa, publikasi bersama, hingga riset kolaboratif. Ke depan, bidang community development juga akan menjadi salah satu fokus pengembangan, di mana mahasiswa dapat diterjunkan langsung untuk kegiatan pengabdian masyarakat.
Sementara itu, Dr. I. Jacob Raglan, Chair Conference IPEC 2025 dari VIT India, menekankan pentingnya IPEC sebagai ruang untuk berbagi hasil riset mutakhir di bidang power, komputasi, elektronik, smart grid, hingga sistem berbasis IoT.
“Kami ingin membawa hasil riset dari domain tersebut ke konferensi ini, agar bisa dikembangkan lebih lanjut lewat kolaborasi internasional,” ujarnya.
Menurut Jacob, VIT yang dikenal sebagai salah satu universitas dengan peringkat dunia terbaik di India, memandang UNAIR sebagai mitra strategis.
“Kolaborasi yang dibangun mencakup penelitian dan publikasi bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, penyelenggaraan seminar dan konferensi bersama, serta kerja sama proyek laboratorium dan pelatihan mahasiswa,” paparnya.
IPEC 2025 menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya tiga universitas UNAIR, Universiti Malaya (UM) Malaysia, dan VIT India berkolaborasi dalam satu panggung akademik di Indonesia.
Langkah ini diyakini akan memperkuat jejaring global, meningkatkan kualitas publikasi internasional, serta memberi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengabdian masyarakat.





