SURABAYA – Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) menggelar Pertemuan Tahunan Stakeholder dan Workshop “Kolaborasi untuk Keberlanjutan Upaya Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat” di Hotel Arcadia–Horison Surabaya, Rabu (19/11/25).
Kegiatan ini menjadi ruang bagi GNI untuk memaparkan capaian program selama dua tahun terakhir sekaligus menjaring masukan dari para pemangku kepentingan menjelang masa serah terima program.
GNI, yang merupakan organisasi nirlaba mitra Good Neighbors International, telah hadir di Surabaya sejak 2012 atau lebih dari satu dekade. Beragam program perlindungan anak, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi telah dijalankan khususnya di wilayah Semampir dan Kelurahan Wonokusumo, yang melibatkan lebih dari 700 anak sponsor sebagai penerima manfaat utama.
Cicik Sri Rejeki, Community Development Project (CDP) Manager GNI Surabaya, menegaskan bahwa forum ini merupakan wujud konsistensi GNI dalam menjaga transparansi sekaligus memastikan keberlanjutan program.
“Pertemuan ini bukan sekadar agenda laporan tahunan. Kami ingin seluruh proses, tantangan, dan hasil di lapangan diketahui pemerintah, akademisi, komunitas, dan mitra kami. Yang sudah berjalan baik dapat dipertahankan, sementara yang masih kurang bisa disempurnakan,” jelas Cicik.

Ia menambahkan bahwa pendampingan GNI menyentuh kelompok yang lebih luas, bukan hanya anak sponsor.
“Dampaknya meluas ke masyarakat di Sidotopo, Pegirian, hingga Ampel. Harapan kami, kontribusi GNI dapat terus berkembang di empat kelurahan lain di Kecamatan Semampir,” katanya.
Di sektor kesehatan, GNI pernah mengimplementasikan program pengurangan stunting melalui Global Designated Fund pada periode 2022–2023 yang menjangkau 94 penerima manfaat di Kenjeran.
Sementara itu, di sektor ekonomi, GNI mengembangkan innovation challenge untuk mendukung kampung-kampung produk unggulan di 31 kecamatan di Surabaya.
Aldi, Manager Monitoring, Evaluation, Learning, and Accountability (MELA) GNI Pusat, menjelaskan dua fokus utama Pertemuan Tahunan kali ini.
“Pertama, memperlihatkan apa saja yang telah kami lakukan sebagai bentuk akuntabilitas publik. Kedua, kami ingin mendapatkan masukan terkait desain keberlanjutan setelah fase pendampingan GNI selesai,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi dari pemerintah, akademisi, komunitas, dan pihak swasta sangat dibutuhkan agar sektor kesehatan, ekonomi, dan perlindungan anak dapat terus berjalan meski GNI tidak lagi terlibat secara penuh.
GNI berharap penguatan sinergi lintas sektor dapat memastikan masyarakat memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk menjaga kesejahteraan secara mandiri.





