Akses Terputus, 30 Desa di Aceh Tengah Masih Terisolasi Pasca-Bencana
Satu bulan berlalu sejak bencana hidrometeorologi melanda Aceh Tengah, namun dampaknya masih terasa hingga kini. Sebanyak 30 desa di wilayah tersebut dilaporkan masih terisolasi, menghambat akses bagi warga dan upaya pemulihan. Kondisi ini memaksa sebagian masyarakat untuk kembali menggunakan cara-cara tradisional demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk mengakses layanan medis darurat.
Tiga Desa di Kecamatan Bintang Lumpuh Total
Dari 30 desa yang terisolasi, tiga di antaranya berada di Kecamatan Bintang dan tidak dapat dijangkau sama sekali oleh kendaraan bermotor. Desa Serule, Atu Payung, dan Jamur Konyel kini hanya bisa diakses dengan berjalan kaki. Kerusakan parah pada jalan dan jembatan penghubung menjadi penyebab utama kelumpuhan akses di ketiga desa ini.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Beliau menceritakan bagaimana warga harus berjuang untuk mendapatkan akses, termasuk dalam situasi darurat medis.
“Itu masih bisa dilalui dengan jalan kaki. Tadi saya dengar informasi ada pasien yang harus dievakuasi, dan saya telepon Brigadir Jenderal Ismed, pagi nanti sudah bisa dievakuasi. Dan tadi pagi juga ada pasien yang melahirkan, dievakuasi dari Serule dengan helikopter,” ujar Haili saat ditemui di Kecamatan Rusip dan sebagian Silih Nara.
Brigadir Jenderal Ismed yang disebut Haili merupakan perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang ditugaskan di Aceh Tengah untuk membantu penanganan dampak bencana. Kehadirannya sangat krusial dalam upaya evakuasi dan penyaluran bantuan ke daerah-daerah terpencil.
Jembatan Darurat Jadi Penyelamat Aktivitas Warga
Penyebab utama terisolasinya puluhan desa ini adalah rusaknya akses jalan darat dan jembatan akibat bencana. Banyak jembatan yang sebelumnya menjadi urat nadi transportasi kini tak dapat dilalui. Namun, semangat gotong royong dan kebutuhan untuk bertahan hidup mendorong warga untuk menciptakan solusi darurat.
“Daerah yang terisolir ini butuh bantuan, pertama akses untuk jalan darat, kedua jembatan putus yang menggunakan sling, ini cukup berbahaya, belum profesional, tetapi itu tidak penting bagi mereka, yang penting mereka bisa hidup,” jelas Haili.
Jembatan darurat yang dibuat menggunakan tali sling kini menjadi satu-satunya alternatif bagi warga untuk melintasi sungai atau jurang. Meskipun berisiko, jembatan ini vital untuk aktivitas sehari-hari, termasuk mengangkut hasil pertanian.
- Komoditas Unggulan Terancam:
- Beberapa komoditas unggulan daerah seperti cabai dan durian yang seharusnya bisa dijual ke pasar, kini harus dipanggul menggunakan sling untuk dibawa melintasi jembatan darurat. Kondisi ini tentu saja berdampak pada kuantitas dan kualitas hasil pertanian yang bisa diselamatkan.
Permohonan Pemberlakuan Khusus dari Pemerintah Pusat
Menyikapi kondisi yang mendesak ini, Bupati Haili Yoga mengajukan permohonan khusus kepada pemerintah pusat. Beliau menekankan bahwa pembangunan jembatan permanen membutuhkan waktu yang sangat lama, sementara kebutuhan warga untuk hidup dan beraktivitas sangat mendesak.
“Jadi mungkin, harus ada pemberlakuan khusus, kita mohon nanti kepada para menteri, pemerintah pusat, ini harus pemberlakuan khusus dan segera, kalau menunggu jembatan permanen ini lama sekali. Tapi mereka butuh hidup. Tapi bantuan pemerintah pusat daerah sudah ada Jadi khusus jembatan gantung saja,” tuturnya.
Permohonan ini diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan infrastruktur darurat, khususnya jembatan gantung, yang dapat segera difungsikan untuk memulihkan akses dan aktivitas ekonomi warga.
Relokasi Menjadi Opsi di Kecamatan Rusip
Selain masalah akses jalan dan jembatan, kondisi geografis yang ekstrem di Kecamatan Rusip juga menjadi perhatian. Mayoritas masyarakat di kecamatan ini bahkan meminta untuk direlokasi karena kondisi wilayah yang dinilai terlalu berbahaya dan sulit diakses secara permanen. Permintaan relokasi ini menunjukkan betapa parahnya dampak bencana dan tantangan yang dihadapi warga di beberapa wilayah Aceh Tengah.
Pemerintah daerah dan BNPB kini memfokuskan upaya mereka pada pemulihan akses jalan dan jembatan sebagai prioritas utama untuk membantu warga yang terdampak bencana hidrometeorologi. Penanganan yang cepat dan tepat sasaran sangat dibutuhkan agar roda kehidupan di 30 desa yang terisolasi ini dapat kembali berputar normal.






