Daerah  

Duta Besar Iran: Ancaman Tarif 25 Persen Trump Tidak Efektif

Pemahaman Iran terhadap Ancaman Tarif oleh AS

Pemerintah Iran menganggap ancaman tarif 25 persen yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap negara-negara yang tetap menjalin perdagangan dengan Teheran tidak akan efektif. Mereka melihat kebijakan ini sebagai pengulangan strategi sanksi ekonomi yang selama puluhan tahun gagal mencapai tujuan politik Washington.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan bahwa Iran telah hidup di bawah berbagai bentuk sanksi internasional sejak Revolusi Islam pada tahun 1979. Sanksi tersebut mencakup pembatasan perdagangan, penghentian impor minyak Iran oleh AS, serta pembekuan aset negara itu di luar negeri.

“Sejak awal Revolusi Islam Iran, kami sudah menghadapi sanksi seperti ini, baik terhadap Iran maupun perusahaan yang bekerja sama dengan kami,” kata Boroujerdi saat ditemui di Sekretariat FPCI, Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.

Kebijakan Tarif ke Negara Lain

Boroujerdi menilai bahwa Trump tidak memiliki kewenangan untuk memaksakan kebijakan tarif tersebut kepada seluruh negara. Menurut dia, sejumlah negara dan blok ekonomi telah menyatakan tidak akan mematuhi keputusan Washington.

“Presiden Trump tampaknya lupa bahwa tidak semua negara di dunia harus mematuhinya. Ia bisa membuat aturan untuk Amerika Serikat, tetapi tidak untuk seluruh dunia,” kata Boroujerdi.

Ia menambahkan bahwa Uni Eropa dan sejumlah negara independen telah menyatakan penolakan.

“Trump bisa memerintahkan untuk AS. Tetapi Uni Eropa telah mengatakan bahwa mereka tidak akan mematuhi aturan semacam ini. Beberapa negara independen juga menyatakan tidak akan patuh. AS harus menerima bahwa sanksi ekonomi telah gagal,” ujar Boroujerdi.

Tekanan Ekonomi dan Kekuatan Iran

Boroujerdi mengakui bahwa Iran tengah menghadapi tekanan ekonomi, termasuk pelemahan nilai tukar mata uang nasional. Namun, ia menilai tekanan tersebut tidak akan mendorong tujuan yang diinginkan Washington.

“Kami memang memiliki masalah ekonomi, termasuk nilai mata uang. Namun tekanan ini tidak akan membawa mereka pada tujuan seperti perubahan rezim atau menciptakan kerusuhan dan kekerasan,” kata Boroujerdi.

Ia menambahkan bahwa skala ekonomi Iran membuat tekanan tarif AS tidak akan berdampak signifikan.

“Saya berharap rencana ini juga akan gagal, seperti rencana-rencana lain yang telah gagal sejauh ini,” ujarnya.

Ancaman Tarif dan Eskalasi Tekanan AS

Menurut laporan Al Jazeera, Trump menyatakan bahwa negara mana pun yang melakukan perdagangan dengan Iran akan dikenai tarif 25 persen atas seluruh bisnis mereka dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Senin, 12 Januari.

“Berlaku segera, negara mana pun yang melakukan bisnis dengan Republik Islam Iran akan membayar tarif 25 persen atas setiap dan seluruh bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat,” tulis Trump.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Teheran dengan ancaman militer terkait program nuklir dan situasi domestik Iran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *