SURABAYA – Di tengah dinamika geopolitik global yang kian meningkat, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah, Jawa Timur dituntut memperkuat sinergi, kolaborasi, serta langkah adaptif guna menjaga stabilitas dan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi.
Kinerja ekonomi Jawa Timur yang tetap solid dengan pertumbuhan sebesar 5,3396 persen (year on year) pada 2025 menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan sekaligus memanfaatkan peluang ke depan.
Kepala Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, menegaskan bahwa ketahanan ekonomi daerah harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor. Menurutnya, sinergi dan adaptasi menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian global saat ini.
Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan Jatim Talk di Surabaya, Selasa (1/4/2026). Acara ini dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, jajaran pimpinan OPD, perwakilan konsulat negara sahabat, pelaku usaha, perbankan, hingga kalangan akademisi.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menekankan pentingnya peran strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Peran ini diwujudkan melalui penguatan kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah, percepatan hilirisasi komoditas unggulan, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Timur juga memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas pasokan. Upaya tersebut didukung melalui hilirisasi lanjutan, penguatan distribusi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam mendukung agenda tersebut, Bank Indonesia Jawa Timur sebagai advisor pemerintah daerah terus memperkuat kolaborasi strategis, salah satunya melalui penyelenggaraan Jatim Talk bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur.
Seminar bertema “Sinergi Penguatan Daya Saing Jawa Timur melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan dan Iklim Investasi Berkelanjutan” ini juga menjadi bagian dari diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Jawa Timur yang diterbitkan secara triwulanan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi rangkaian menuju East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 yang akan digelar pada September mendatang.
Jatim Talk menjadi forum strategis untuk menyamakan persepsi dan langkah antar pemangku kepentingan dalam merespons dinamika ekonomi global, khususnya dampak konflik geopolitik.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, ekonom Bank Mandiri, serta Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga.
Dari forum tersebut, mengemuka bahwa kondisi global saat ini berpotensi memberi tekanan terhadap perekonomian nasional maupun Jawa Timur. Meski demikian, peluang tetap terbuka melalui pemanfaatan sumber pertumbuhan baru, penguatan iklim investasi, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta dukungan kebijakan strategis yang terarah.
Sebagai bentuk dukungan konkret kepada pemerintah daerah, pada akhir acara BI Jawa Timur menyerahkan buku LPP kepada Gubernur Jawa Timur yang memuat sejumlah rekomendasi kebijakan utama, antara lain:
1. Pembangunan dan integrasi distribusi barang
2. Percepatan investasi untuk mendukung hilirisasi industri, termasuk komoditas pertanian unggulan
3. Penguatan ketahanan pangan dan agribisnis dalam pengendalian inflasi
4. Pengembangan sektor pariwisata, ekonomi syariah, dan UMKM serta optimalisasi kredit produktif
5. Optimalisasi pendapatan asli daerah pasca-opsen
6. Percepatan dan perluasan digitalisasi fiskal serta sistem pembayaran
7. Peningkatan produktivitas tenaga kerja dan kesejahteraan perdesaan
Rekomendasi tersebut merupakan hasil kajian berbasis riset yang disusun dalam rangkaian East Java Economic Forum.





