
Ketua Umum Asosiasi Kendaraan Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setiyadi menilai situasi labil cadangan energi global yang terjadi saat ini seharusnya dapat menjadi momentum tepat untuk percepatan adopsi kendaraan elektrik murni roda dua.
“Jadi kita secara industri memang ini satu momentum cukup bagus dan kita intinya siap kalau pemerintah juga akan mendorong kebijakan untuk konversi,” ujar Budi dihubungi, Senin (30/3/2026).
Selain bertujuan mengurangi konsumsi bahan bakar yang sebagian besar masih impor, ancaman krisis energi global dampak perang Amerika Serikat dengan Iran kini menjadi alasan kuat untuk segera beralih ke motor listrik.
“Walau memang Indonesia belum seperti negara lain, misalnya Filipina. Sebenarnya saya melihat ini sebagai momentum bagus, mengedukasi atau kemudian menyampaikan kepada masyarakat bahwa BBM kita itu sebagian besar datang dari Timur Tengah,” tambah Budi.

Menurutnya, penyerapan motor listrik yang besar di pasaran akan berimbas pada berkurangnya biaya subsidi bahan bakar. Budi bilang, upaya konversi dari motor bensin konvensional menjadi sepeda motor listrik harus bisa dalam jumlah yang besar.
“Ya perlu hitungan-hitungan, kalau kemudian akan didorong sepeda motor bensin diganti menjadi listrik berapa ribu atau berapa juta unit, kita akan lebih efisien BBM-nya berapa miliar. Nah mungkin dana itu bisa diaplikasikan untuk memberikan subsidi untuk penggantian mesin atau subsidi untuk pembelian motor (listrik) baru supaya motor lamanya itu tidak bisa digunakan lagi yang pakai bahan bakar bensin, jadi akan ada efisiensi,” jelasnya.
Ia menekankan intervensi kebijakan pemerintah amat sangat berpengaruh, apalagi di tengah situasi geopolitik global saat ini. Sebab, asosiasi menyatakan dari skala dan ekosistem industri sepeda motor listrik nasional dikatakan mumpuni.
“Tinggal kalau memang pemerintah berkomitmen dan memang ini menjadi semacam policy yang harus digodok dan harus ada objektif yang nyata, ya memang harus ada intervensi pemerintah. Intervensi itu mungkin dalam bentuk insentif, lalu kemudahan, kemudian ada efisiensi biaya, dan spacing-nya menarik gitu,” beber Budi.

Meski populasi motor listrik di Indonesia terbilang tumbuh positif yang kini berada pada kisaran 200-300 ribu unit, Budi mengatakan bahwa secara rasio hal tersebut masih cukup tertinggal apabila dibanding penjualan mobil listrik murni.
Beberapa waktu lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan program konversi motor konvensional menjadi listrik akan dilanjutkan tahun ini. Total subsidi yang akan diberikan hingga Rp 6 juta per unit.
Hal tersebut diungkapkannya usai rapat terbatas (ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Pembahasannya meliputi pembangunan PLTS 100 GW dan percepatan konversi motor listrik.
“Percepatan konversi kit dari kendaraan bermotor kita yang 120 juta unit motor yang memakai bensin. Kita akan mencoba bertahap untuk melakukan konversi ke motor listrik,” kata Bahlil.
Bahlil menyebutkan, Prabowo ingin implementasi program tersebut dilakukan segera, maksimal dalam kurun waktu 4 tahun. “Bapak Presiden telah menyampaikan bahwa maksimal 3-4 tahun, bahkan kalau bisa lebih cepat lagi,” ujarnya.






