travel  

Asita targetkan partisipasi pembeli dari 47 negara di Bali & Beyond Travel Fair



DENPASAR – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Bali mengambil langkah strategis untuk menarik perhatian pasar wisatawan baru melalui ajang Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026. Acara ini diharapkan menjadi momen penting dalam konsolidasi industri dan pemerintah untuk menjaga daya saing Bali dan Indonesia di pasar global.

Ketua DPD Asita Bali, I Putu Winastra, menjelaskan bahwa BBTF 2026 tidak hanya sebagai ajang pertemuan bisnis, tetapi juga sebagai wadah untuk memperkuat kerjasama antara pelaku industri dan pihak terkait. “Tahun ini, BBTF 2026 menargetkan partisipasi sekitar 400 buyer dari 47 negara dan 250 seller. Angka tersebut mencerminkan kepercayaan pasar global terhadap Indonesia masih kuat,” ujarnya pada Senin (30/3/2026).

Asita memiliki target peningkatan partisipasi dari lebih banyak negara, meskipun jumlah akhir peserta akan diumumkan pada tahap berikutnya. Fokus utama pasar tetap diarahkan pada Eropa Barat, Australia, Asia Timur, Asia Tenggara, serta pasar-pasar emerging seperti Timur Tengah dan India.

Selain mempertahankan pasar tradisional yang setia terhadap Bali dan Indonesia, BBTF 2026 juga bertujuan untuk memperluas penetrasi ke pasar-pasar dengan potensi tinggi dalam pengeluaran dan minat terhadap experiential tourism. Winastra menyampaikan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh angka transaksi, tetapi juga oleh kesiapan destinasi dalam menjawab ekspektasi wisatawan yang semakin kritis terhadap isu kebersihan, tata kelola, kemacetan, serta komitmen nyata terhadap keberlanjutan.

“Tanpa kolaborasi dan bukti nyata di lapangan dalam menangani masalah sampah dan kemacetan, kita berisiko kehilangan kepercayaan pasar. BBTF bukan sekadar ajang transaksi bisnis, tetapi juga cermin kesiapan destinasi. Dunia melihat bagaimana Bali mengelola dirinya,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa Bali perlu melakukan perbaikan secara terkoordinasi dengan melibatkan Pemerintah Provinsi Bali, seluruh bupati dan walikota se-Bali, serta seluruh jajaran perangkat daerah dan pelaku industri. Komitmen bersama diperlukan agar perbaikan tidak bersifat sporadis, melainkan sistemik dan konsisten.

Meski optimisme tetap ada karena Bali memiliki kekuatan budaya, reputasi global, serta jejaring industri yang solid, namun hal tersebut harus dibuktikan melalui tindakan nyata.

Keunggulan BBTF dibandingkan partisipasi dalam trade show internasional lainnya adalah kesempatan bagi buyers untuk mengalami langsung destinasi melalui rangkaian familiarization trip dan post-event tours. Para buyers tidak hanya melakukan pertemuan bisnis, tetapi juga melihat langsung kualitas produk, destinasi, dan kesiapan layanan di lapangan.

“Mereka bertemu dengan ekosistem sellers secara menyeluruh, dari DMC, hotel, atraksi, hingga produk wisata berbasis budaya dan gastronomi. Model ini memperkuat kredibilitas transaksi dan menjaga posisi Bali sebagai leading tourism hub di Indonesia sekaligus gerbang promosi destinasi beyond Bali,” kata Winastra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *