SURABAYA – Isu pendidikan inklusif kian menguat seiring dorongan global dalam mewujudkan target Sustainable Development Goals (SDGs). Di tengah upaya tersebut, praktik toleransi di lingkungan kampus menjadi indikator penting. Hal ini tercermin dari pengalaman seorang mahasiswi lintas agama di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).
Momentum wisuda yang digelar Unusa pada Rabu (22/4) siang menjadi panggung nyata komitmen kampus dalam menjunjung nilai inklusivitas. Salah satu sorotan datang dari Suster (Sr) Yustina Klun Kolo, SSpS, lulusan Program Studi D4 Analis Kesehatan asal Kefamenanu/Wini, Nusa Tenggara Timur.
Perempuan kelahiran Dili, 5 Juli 1994 tersebut dipercaya mewakili wisudawan untuk menyampaikan pidato. Ia tampil mengenakan jubah khas biarawati, mencuri perhatian sekaligus menyampaikan pesan kuat tentang keberagaman di lingkungan akademik.
Yustina mengaku sempat diliputi keraguan saat pertama kali memutuskan menempuh pendidikan di kampus yang mayoritas mahasiswanya beragama Islam. Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti. Ia justru merasakan suasana kampus yang terbuka dan menghargai perbedaan.
“Saya merasakan lingkungan yang sangat inklusif. Baik dosen maupun teman-teman berinteraksi tanpa melihat latar belakang agama,” ujarnya.
Alumni SMA Negeri Manamas, NTT itu menjadi contoh nyata implementasi nilai-nilai SDGs dalam dunia pendidikan tinggi. Unusa dinilai konsisten mendorong pendidikan berkualitas (SDG 4), memperkecil kesenjangan (SDG 10), serta memperkuat nilai perdamaian dan keadilan (SDG 16).
Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembelajaran sosial yang membentuk karakter kebangsaan dan kemanusiaan.
Salah satu pengalaman yang berkesan bagi Yustina adalah saat mengikuti mata kuliah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Alih-alih menjadi hambatan, mata kuliah tersebut justru memperluas wawasannya.
“Saya belajar memahami nilai-nilai Islam yang moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis,” kata putri pasangan Laurensius Pauf Kolo dan Maria Kebo itu.
Ia juga menilai sikap dosen dan tenaga kependidikan menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Profesionalisme dan perlakuan yang setara dirasakan langsung selama masa studinya.
“Tidak ada perbedaan perlakuan. Semua diperlakukan adil,” imbuhnya.
Komitmen Unusa terhadap nilai keberlanjutan juga ditunjukkan melalui partisipasi dalam Times Higher Education Impact Rankings, yang mengukur kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian SDGs secara global.
Bagi Yustina, keberagaman justru menjadi kekuatan dalam membangun harmoni sosial. Ia menilai perbedaan agama, suku, dan budaya bukanlah penghalang, melainkan peluang untuk saling mengenal dan menghargai.
“Perbedaan itu seharusnya mendekatkan, bukan memisahkan,” tegasnya.
Di tengah tantangan meningkatnya isu intoleransi, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan nilai. Unusa, menurutnya, telah menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi pusat pembelajaran akademik sekaligus laboratorium sosial yang menumbuhkan sikap moderat dan inklusif.
Kini, Yustina mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan di RSK Budi Rahayu, Blitar. Perjalanannya menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis nilai mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberagaman dan kemanusiaan.






