SURABAYA – Kawasan Manukan di Surabaya Barat dikenal sebagai salah satu sentra kuliner unik, di mana deretan pedagang kaki lima kompak menjajakan menu yang sama: nasi goreng. Namun belakangan, suasana di lokasi tersebut semakin mencuri perhatian. Puluhan pedagangnya kini tampil seragam dengan atribut klub kebanggaan Kota Pahlawan, Persebaya Surabaya.
Fenomena ini kemudian mendapat sebutan khas dari warga, yakni “Tribun Sego Goreng”. Julukan tersebut mencerminkan kekompakan para pedagang yang tak hanya berjualan berdampingan, tetapi juga menunjukkan identitas sebagai bagian dari komunitas Bonek.
Gagasan penggunaan atribut Persebaya itu berawal dari kunjungan Presiden Persebaya, Azrul Ananda, yang datang bersama keluarganya ke lokasi tersebut. Dalam suasana santai sambil menikmati hidangan, Azrul berdialog langsung dengan para pedagang. Dari pertemuan itu, ia melihat potensi kebersamaan yang kuat di antara mereka.
Melihat kekompakan tersebut, muncul ide untuk menghadirkan identitas visual yang bisa mempererat hubungan antara klub dan masyarakat. Melalui apparel resmi klub, AZA, para pedagang kemudian dibuatkan seragam khusus berupa polo bertema Persebaya.
Dari sisi material, seragam ini dirancang untuk menunjang aktivitas harian para pedagang. Menggunakan bahan ringan dengan sirkulasi udara yang baik, pakaian tersebut tetap nyaman digunakan di tengah aktivitas memasak yang intens. Selain itu, desainnya dibuat modern dengan potongan ramping dan kerah fleksibel, sehingga tetap terlihat rapi untuk berbagai kegiatan.
Senior Manager Persebaya Store sekaligus perwakilan brand AZA, Arief Rahman Hakim, menjelaskan bahwa seragam ini bukan sekadar atribut, melainkan simbol keterikatan antara klub dengan komunitas akar rumput.
Program ini juga menjadi bagian dari kampanye “Persebaya untuk Semua”, yang menegaskan bahwa keberadaan klub tidak terbatas pada stadion atau pertandingan semata. Lebih dari itu, Persebaya ingin hadir di tengah kehidupan masyarakat, termasuk para pelaku usaha kecil.
Kini, deretan penjual nasi goreng di Manukan tak hanya dikenal karena cita rasa kulinernya, tetapi juga karena semangat kebersamaan yang mereka tampilkan. Kehadiran seragam tersebut menjadi simbol sederhana, namun kuat, tentang bagaimana sepak bola dapat menyatukan berbagai lapisan masyarakat.






