Gaji Tidak Terbayar, Pekerja Proyek SMAN 1 Taliabu Blokir Ruang Kelas Baru

Aksi Protes Pekerja Proyek RKB di SMAN 1 Pulau Taliabu

Pada Senin (27/4/2026), sejumlah pekerja proyek ruang kelas baru (RKB) di SMAN 1 Pulau Taliabu, Maluku Utara melakukan aksi protes dengan memalang pintu akses masuk bangunan kelas. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap belum dibayarkannya upah kerja oleh pihak rekanan CV Annizart General Kontraktor.

Proyek RKB tersebut sejatinya telah rampung 100 persen dengan nilai anggaran sekitar Rp 2,2 miliar dari APBD Provinsi Maluku Utara. Namun, meskipun proyek sudah selesai, para pekerja masih menghadapi masalah pembayaran upah yang tertunda.

Berdasarkan pantauan, pemalangan dilakukan sekitar pukul 11:30 WIT, tepat saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kondisi ini membuat para siswa yang berada di dalam ruangan segera keluar dan mengamankan peralatan belajar mereka masing-masing.

Masalah yang Dihadapi Pengawas Proyek

Pengawas proyek, Andrianto Pratama, mengaku berada dalam posisi sulit. Selain upah para pekerja yang belum terbayar, ia menyebut gajinya sendiri sebagai pengawas telah tertunggak selama 5 bulan.

“Saya merasa dilema, sebagai penanggung jawab lapangan, pekerja dan penyedia jasa mobil menagih hak mereka ke saya,” ujar Anto.

Ia juga menyebut bahwa saat menghubungi pihak rekanan, tidak ada respons yang diberikan. “Karena itu kami memutuskan memalang ruangan ini sebagai bentuk protes,” tambahnya.

Anto menegaskan bahwa pemalangan pintu tidak akan dicabut sebelum hak-hak para pekerja dipenuhi. Ia pun berharap Pemprov Maluku Utara segera turun tangan menyelesaikan masalah ini.

“Kami akan tetap memalang ruangan ini sampai hak-hak kami dibayar. Karena proyek sudah selesai dan serah terima, kami mohon Gubernur dapat membantu kami,” tegasnya.

Desakan dari Pekerja Angkut Material

Hal senada disampaikan oleh pekerja angkut material, Taslim. Ia mendesak kontraktor proyek, Adrian J.A Buluran untuk segera melunasi tunggakan tersebut.

“Prinsipnya, kami tidak akan membuka palang ruangan RKB ini sampai kontraktor membayar upah kerja kami,” tegasnya.

Dampak pada Kegiatan Belajar Mengajar

Aksi protes ini juga memberikan dampak langsung pada kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut. Para siswa harus segera meninggalkan ruangan setelah pintu kelas ditutup. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya penyelesaian masalah ini agar kegiatan belajar mengajar bisa berjalan normal kembali.

Selain itu, aksi ini juga menjadi perhatian masyarakat luas, karena menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap sistem pembayaran proyek pemerintah. Banyak pihak berharap agar pihak terkait segera menyelesaikan masalah ini agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk.

Masa Depan Proyek dan Kepuasan Pekerja

Masalah pembayaran upah ini bukan hanya tentang keuangan, tetapi juga tentang keadilan dan penghormatan terhadap para pekerja. Dengan proyek yang telah selesai, semua pihak diharapkan bisa bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini secara cepat dan transparan.

Para pekerja berharap agar pihak rekanan dan pemerintah bisa lebih tanggap terhadap isu-isu seperti ini. Dengan demikian, tidak hanya proyek yang selesai, tetapi juga kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat bisa terjaga.

Dalam situasi seperti ini, penting bagi pihak terkait untuk menjaga komunikasi yang baik dan mencari solusi yang saling menguntungkan. Semoga masalah ini bisa segera terselesaikan tanpa adanya konflik yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *