JAKARTA – Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Syahrudin Akbar, yang akrab disapa Udin Laler, menyampaikan harapannya agar dunia pendidikan di Indonesia semakin adil dan berpihak pada peserta didik, khususnya dalam persoalan administrasi kelulusan.
Ia menyoroti masih adanya praktik penahanan ijazah oleh pihak sekolah akibat tunggakan biaya, yang dinilai merugikan masa depan siswa.
“Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga tidak ada lagi ijazah yang tertahan setelah murid lulus dari sekolahnya hanya karena persoalan tunggakan biaya,” ujar Syahrudin Akbar.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang selama ini telah membantu masyarakat melalui berbagai program seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Program Indonesia Pintar (PIP). Namun demikian, ia menilai bantuan tersebut belum sepenuhnya mampu menutup seluruh kebutuhan biaya pendidikan.
“Peran pemerintah sudah sangat membantu melalui KJP dan PIP. Tapi pada kenyataannya, belum semua biaya pendidikan ter-cover. Akibatnya, masih ada kasus penahanan ijazah di sekolah. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama,” tegasnya.
Menurutnya, ijazah merupakan hak siswa setelah menyelesaikan pendidikan dan tidak seharusnya dijadikan alat tekanan administratif. Ia pun mendorong adanya solusi yang lebih bijak antara sekolah dan orang tua terkait persoalan biaya, tanpa mengorbankan hak dasar peserta didik.
Momentum Hardiknas, lanjutnya, harus menjadi refleksi bersama untuk menghadirkan sistem pendidikan yang lebih inklusif, manusiawi, dan berkeadilan bagi seluruh anak bangsa. (Jai)
Syahrudin Akbar Hardiknas Harus Bebas dari Praktik Penahanan Ijazah






