Pengalaman Menggembirakan Speed di Festival Hammersonic 2026
Unit musik hardcore punk asal Sydney, Australia, Speed kembali menghibur para penggemarnya di Indonesia melalui tampilan mereka dalam acara Sonicstage di Hammersonic Festival yang berlangsung di NICE PIK 2, Tangerang, pada Sabtu, 2 Mei 2026. Pertunjukan ini menjadi momen penting bagi band yang telah merilis album penuh pertamanya, Only One Made, pada tahun 2024.
Speed, yang terbentuk pada 2019, sebelumnya pernah datang ke Tanah Air dalam rangka tur pada 5 Maret 2023. Saat itu, mereka hanya membawakan beberapa single dan mini album bertajuk Gang Called Speed. Kali ini, penonton disuguhi lagu-lagu dari album utama mereka yang mencerminkan perkembangan musikalitas band tersebut.
Pertunjukan dimulai pada pukul 18.50 WIB dengan penampilan lagu “Ain’t My Game”. Dengan genre D-beat ala hardcore 1980-an, Speed langsung memperlihatkan energi yang luar biasa. Di antara jeda antar lagu, vokalis Jem Siow menyapa penonton dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Namun, ia berhasil menyampaikan pesan hangat tentang hubungan antara Speed dan Indonesia.
“Tapi satu hal yang bisa kukatakan, Speed dan Indonesia menyatu karena Hardcore Asia Tenggara,” ujarnya.
Jem juga menjelaskan bahwa bandnya akan melakukan tur selama satu bulan, termasuk di Asia, dengan mengunjungi sekitar 20 negara. Hal ini membuat kemungkinan besar Speed akan kembali tampil di Indonesia.
Ia menceritakan pengalamannya tumbuh di Australia, di mana orang-orang Asia tidak banyak ditemui. Namun, ia menemukan tempatnya di skena hardcore.
“Saya tumbuh besar di Australia dan waktu saya masih kecil sampai sekitar sepuluh tahun, tidak banyak orang Asia di sana. Lalu entah kenapa saya mendengar musik ini, melihat mosh pit seperti ini, dan saya merasa memiliki tempat di hardcore,” katanya.
Jem, yang orang tuanya adalah imigran, merasa diterima di skena hardcore di Sydney. Ia mengatakan bahwa teman-temannya di skena tersebut menerima dirinya.
“Saya bertemu beberapa sahabat terbaik dan mereka menerima saya,” ujarnya. Ia juga menuturkan bahwa orang-orang di skena hardcore, terutama di Asia, membuatnya merasa seperti berada di rumah.
“Kita makan pakai tangan, yang suka menunjukkan rasa hormat pada keluarga, yang tumbuh besar dan berbagi nilai-nilai budaya yang sama dengan saya, rasanya seperti seluruh dunia saya menyatu seketika,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Jem mengajak seluruh penonton untuk tidak bersikap diskriminasi sesama manusia.
“Tidak peduli kamu laki-laki, perempuan, gay, straight, berkulit hitam, putih, ungu, kuning, apa pun itu, ini adalah hardcore,” katanya.
Setelah mengatakan itu, vokalis tersebut kembali mengajak penonton untuk melompat, circle pit, bahkan two step.
Speed kemudian membawakan lagu-lagu seperti “Real Life Love”, “We See U”, hingga “Peace”. Tak berhenti di situ, mereka juga membawakan lagu populernya yakni “The First Test” saat di tengah lagu vokalis Jem memainkan flute di antara ketukan drum dan drop gitar hardcore.
Sebelum tampilnya Speed, di panggung Sonicstage telah tampil band trashmetal asal Amerika Serikat, Lich King. Musik keras dengan ketukan drum yang cepat dari Lich King memanaskan panggung di sore hari selama 50 menit sekaligus sebagai pengantar untuk band-band keras lainnya yang tampil di malam hari.






