News  

Kondisi Anak Nenek Dumaris Usai Ibu Tewas, Biro Psikologi Polda Riau Turun Tangan

Kondisi Keluarga Korban Pembunuhan Nenek Dumaris

Setelah peristiwa pembunuhan yang menimpa Dumaris Isni Sitio (60), keluarga korban masih dalam keadaan syok dan sedang berusaha untuk memulihkan diri. Kejadian tersebut terjadi di rumahnya di Jalan Kurnia 2, Kelurahan Limbungan Baru, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, pada Kamis (30/4/2026). Suami korban, Salmon Meha (66) dan anaknya, Arnold hingga kini masih dalam kondisi emosional yang sangat terganggu.

Salmon Meha bahkan masih menangis ketika tim dari Bagian Psikologi Biro SDM Polda Riau datang ke rumahnya untuk memberikan pendampingan psikologis atau trauma healing pada Senin (4/5/2026). Tim ini hadir guna memberikan dukungan psikologi dan motivasi agar keluarga dapat mengurangi rasa trauma akibat kejadian tragis tersebut.

Kepala Biro (Karo) SDM Polda Riau, Kombes Pol Boy Situmorang menyampaikan bahwa tujuan dari kehadiran tim adalah untuk memberikan kekuatan dan mencegah terjadinya dampak jangka panjang dari trauma yang dialami oleh keluarga korban. Ia berharap, dengan bantuan yang diberikan, keluarga dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari secara normal.

Selain itu, Kepala Bagian (Kabag) Psikologi Biro SDM Polda Riau, AKBP Winarko menjelaskan bahwa pihaknya memberikan dukungan emosional dan psikologis untuk membantu keluarga dalam memahami dan mengelola reaksi stres yang muncul. Tujuannya adalah memperkuat ketahanan mental agar mereka dapat kembali beraktivitas secara adaptif.

Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan beberapa langkah seperti pendampingan dengan mendengarkan cerita dan luapan perasaan keluarga, pemberian teknik relaksasi melalui latihan pengaturan pola pernafasan, pemberian psikoterapi, serta pemberian motivasi dan dukungan psikologis. Kegiatan ini berlangsung selama sekitar 2,5 jam dan diikuti oleh 11 anggota keluarga, termasuk suami korban, anak korban, serta saudara-saudara korban.

Fakta-fakta Terkait Kasus Pembunuhan

Nenek Dumaris tewas di tangan mantan menantunya, AF, bersama tiga tersangka lain, yaitu SL, E, dan L. AF diketahui sebagai otak pelaku, sementara SL bertindak sebagai eksekutor dengan menggunakan balok kayu untuk menghancurkan kepala dan dada korban. Dua tersangka lainnya turut membantu dalam aksi kejahatan tersebut.

Sebelum kejadian, AF kerap meminta uang kepada Dimaris meski sudah memilih untuk tinggal di luar rumah sejak 2023. Meskipun tidak lagi tinggal bersama, komunikasi antara AF dan Dimaris tetap terjalin. Menurut keterangan dari Arnold, AF sering berkomunikasi dan meminta nafkah. Korban tetap bersikap baik terhadap menantunya tersebut, bahkan membantu kebutuhan AF meskipun tidak lagi tinggal bersama.

AF dan komplotannya juga kerap merampok rumah korban. Perampokan terakhir terjadi pada 8 April 2026, saat AF dan SL berhasil mengambil uang Rp 4 juta dari rumah korban. Keberhasilan ini membuat AF merencanakan aksi kembali.

Pada kasus terakhir, AF memanfaatkan mantan suaminya, Arnold, sebagai umpan. Setelah bertemu di sebuah ruko, AF masuk ke rumah korban dan langsung menyerang dengan balok kayu. Saat itu, Arnold belum sampai masuk ke dalam rumah dan belum melihat kondisi ibunya yang sudah meninggal dunia.

Selain itu, AF dan komplotannya juga berencana untuk membunuh semua keluarga korban, termasuk suaminya, Arnold. Namun, rencana tersebut dibatalkan setelah mereka mencoba mengeksekusi Arnold di Minas Siak. Akhirnya, pelaku memberikan uang 50 ribu kepada Arnold dan menyuruhnya kembali ke Pekanbaru.

Motif AF adalah sakit hati kepada keluarga korban setelah menjadi menantu selama setahun di rumah tersebut. Setelah melakukan eksekusi, keempat pelaku sempat melakukan pesta narkoba di Medan. Mereka dinyatakan positif menggunakan narkoba jenis ekstasi dan menjalankan aksinya dalam pengaruh narkoba tersebut.

Keempat pelaku telah diamankan di Mapolresta Pekanbaru. Dua pelaku laki-laki mendapatkan timah panas karena melakukan perlawanan saat penangkapan. AF dan SL ditangkap di rumah kontrakan di Aceh Tengah, sedangkan E dan L ditangkap di Binjai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *