Situasi Perdamaian di Timur Tengah dan Peningkatan Aksi Perompakan di Somalia
Ketegangan antara Iran dan Israel, yang turut melibatkan Amerika Serikat, mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Presiden Donald Trump menyatakan adanya pembicaraan positif dengan pihak Iran dan peluang tercapainya kesepakatan damai, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Meski situasi ini menjadi angin segar bagi stabilitas kawasan, ada isu lain yang kini menjadi perhatian utama.
Salah satunya adalah meningkatnya aksi perompakan di perairan Somalia. Kejadian ini telah mengancam keamanan maritim dan memicu kekhawatiran di berbagai negara. Empat Warga Negara Indonesia (WNI) yang merupakan anak buah kapal (ABK) dari kapal MT Honour 25 menjadi korban pembajakan pada April 2026. Kejadian ini terjadi saat kapal tersebut sedang berlayar di perairan Hafun, Somalia.
Perampokan di Wilayah Afrika
Di tengah harapan akan tercapainya perdamaian di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah Presiden Trump menghentikan operasi militer singkat untuk membuka kembali Selat Hormuz, situasi di wilayah Afrika justru semakin memprihatinkan. Bulan lalu, empat WNI yang bekerja sebagai ABK di kapal MT Honour 25 dibajak oleh para perompak saat berlayar di perairan Hafun, Somalia.
Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, dalam press briefing di Kantor Kemlu RI, Jakarta Pusat, menyatakan bahwa proses penanganan kejadian pembajakan kapal oleh perompak Somalia masih terus dilakukan. Ia menekankan pentingnya kerja sama internasional dan upaya pemerintah dalam memastikan keselamatan warga negara Indonesia.
Pembajakan Terbaru di Perairan Somalia
Beberapa waktu lalu, perompak Somalia juga membajak kapal Fahad-4, yang bermuatan lemon. Namun, beberapa hari kemudian para perompak itu meninggalkan kapal setelah gagal menggunakan kapal tersebut untuk menyerang kapal lain. Informasi ini didapatkan dari sumber keamanan di negara bagian Puntland, Somalia.
Menyusul serangkaian pembajakan yang terjadi belakangan ini, Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) menaikkan tingkat ancaman pembajakan menjadi “parah”, tingkat tertinggi kedua. JMIC, yang dikelola oleh koalisi besar beranggotakan 47 negara, telah dikerahkan di Samudra Hindia bagian utara untuk memerangi ancaman bajak laut yang sudah lama ada di Tanduk Afrika.
Perahu layar diserang sekitar 10 mil laut dari kota pesisir Dhinowda di timur laut Somalia. Para pejabat keamanan Puntland mengatakan bahwa kru bajak laut tersebut berangkat dari daerah dekat pelabuhan Garacad, sekitar 600 kilometer di utara ibu kota Somalia, Mogadishu. Setelah menguasai kapal layar tersebut, para perompak “berlayar di perairan Somalia menggunakan kapal yang dibajak sebagai kapal induk untuk mencoba menyerang kapal-kapal lain”.
Kapal-kapal lain yang dibajak dalam beberapa pekan terakhir masih berada di tangan para perompak. Menurut pengamat maritim, para perompak juga telah merebut kapal tanker Honour 25 berbendera Barbados pada tanggal 21 April di lepas pantai Puntland. Beberapa hari kemudian, pada tanggal 26 April, kapal M/V Sward yang mengibarkan bendera Suriah menjadi korban di lepas pantai Somalia.
Di seberang Teluk Aden, para perompak menguasai kapal tanker bensin Eureka berbendera Togo di lepas pantai Yaman sebelum mengarahkan kapal tersebut menuju pantai Somalia.






