Pelatihan Vokasi Konstruksi untuk Pengungsi di Kota Kupang
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Kupang memberikan dukungan penuh terhadap pelatihan vokasi konstruksi bagi para pengungsi yang tinggal di kota tersebut. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan kepada pengungsi agar dapat memiliki kemampuan kerja yang bermanfaat, serta membangun interaksi sosial dengan masyarakat sekitar.
Pelatihan vokasi konstruksi umum ini diinisiasi oleh International Organization for Migration (IOM) bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana). Acara berlangsung di Gedung Pascasarjana Undana lantai tiga, pada Senin (11/5/2026). Kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama antara lembaga internasional dan institusi pendidikan untuk membantu para pengungsi dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.
Kepala Dinas Nakertrans Kota Kupang, Thomas Didimus Dagang, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah kemanusiaan yang penting. Menurutnya, para pengungsi yang telah tinggal di Kupang selama bertahun-tahun perlu diberi kesempatan untuk berkembang secara sosial dan ekonomi.
“Saya melihat mereka dari segi kemanusiaan, itu basic-nya. Mereka sudah belasan tahun di sini dan secara psikologis tentu bisa terganggu kalau terus terkungkung,” ujar Thomas.
Thomas menyatakan bahwa sejak tahun 2022, pihaknya telah mencari berbagai inovasi agar para pengungsi tidak hanya tinggal dalam keterbatasan, tetapi mampu membangun relasi sosial dengan warga sekitar. Ia juga menekankan bahwa program ini tidak menggunakan anggaran APBD Kota Kupang, melainkan didukung oleh pendanaan PBB melalui IOM.
“Jadi saya membuat rekomendasi sehingga mereka bisa keluar dari kotak mereka, sehingga mereka bisa berinteraksi dengan warga sekitar dan siap menuju negara tujuan mereka nantinya,” katanya.
Menurut Thomas, keterampilan kerja menjadi hal penting bagi para pengungsi sebelum melanjutkan perjalanan ke negara tujuan. Dengan memiliki kemampuan vokasi, mereka dinilai lebih siap untuk membangun masa depan yang lebih baik.
“Nanti kalau mereka ke luar negeri atau ke negara berikutnya harus punya skill. Kalau tidak punya skill berarti mereka tetap di sini. Jadi pelatihan ini penting untuk masa depan mereka,” jelasnya.
Thomas juga mengajak masyarakat untuk melihat para pengungsi dari sisi kemanusiaan. Menurutnya, meski kebutuhan materi mereka ditanggung, tekanan batin dan rasa terasing di negara orang tetap menjadi tantangan besar yang harus dipahami bersama.
“Mereka juga anak Tuhan. Kalau kita tidak memperhatikan mereka, kita berdosa. Secara batin mereka stres karena jauh dari negara asal dan hidup di negeri orang,” ungkapnya.
Thomas menegaskan bahwa keberadaan para pengungsi di Kota Kupang merupakan keputusan negara, sehingga pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan melayani mereka secara manusiawi agar tetap produktif dan berguna bagi masa depan mereka sendiri.
Selain itu, Thomas juga menyampaikan apresiasi kepada pihak Undana, khususnya Fakultas Teknik, yang telah bersedia terlibat dalam pelatihan tersebut.
“Saya berterima kasih kepada Pak Rektor Undana dan seluruh jajaran khususnya Fakultas Teknik yang mau peduli terhadap mereka. Ilmu itu untuk kemanusiaan, bukan untuk disimpan sendiri,” katanya.
Thomas menambahkan bahwa semangat berbagi ilmu dan keterampilan merupakan bentuk nyata kepedulian sosial yang dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan para pengungsi.
“Kita harus menjadi orang-orang yang punya hati kasih sehingga bisa melatih dan membantu mereka,” tutup Thomas.






