YOGYAKARTA – Ancaman penyakit zoonosis yang menular dari hewan ke manusia kembali menjadi perhatian masyarakat. Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito, dr. Alindina Anjani, memberikan peringatan mengenai risiko infeksi Hantavirus, sebuah virus RNA yang hidup pada hewan pengerat dan dapat berdampak fatal bagi manusia.
Dalam diskusi daring yang diselenggarakan Pusat Studi Kedokteran Tropis FK-KMK UGM dengan tema “Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia” pada Rabu (13/5), dr. Alindina menekankan bahwa interaksi dengan tikus adalah kunci penularan virus ini. Menurutnya, risiko tertinggi terjadi pada individu yang sering bersinggungan langsung dengan habitat atau kotoran tikus.
Kelompok rentan tersebut antara lain:
* Pejabat gudang yang sering terpapar area tertutup
* Petani dan pekerja kehutanan yang berinteraksi langsung dengan rodentia liar di lahan terbuka atau hutan
* Penggemar aktivitas luar ruang
* Masyarakat di lingkungan bersanitasi buruk
“Jika tidak ada tikusnya, kemungkinan tidak ada penularan kepada manusia. Yang berisiko terkena tentunya yang selalu berinteraksi dengan tikus,” tegas dr. Alindina.
Berbeda dengan anggapan umum, penularan tidak hanya terjadi melalui gigitan. Virus masuk ke tubuh manusia terutama melalui inhalasi aerosol, yaitu menghirup partikel kecil di udara yang mengandung sisa urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Hingga saat ini, penularan antarmanusia masih dianggap sangat jarang terjadi.
Infeksi Hantavirus bermanifestasi dalam dua sindrom utama yang berbeda secara geografis dan gejala. Pertama, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang dominan di Amerika menyerang paru-paru dan sistem jantung. Gejalanya meliputi sesak napas progresif hingga gagal napas berat dengan angka kematian mencapai 30-40 persen.
Sedangkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa. Organ target utamanya adalah ginjal. Gejala khasnya meliputi demam tinggi, perdarahan, serta gangguan fungsi ginjal.
Salah satu tantangan terbesar bagi tenaga medis adalah gejala HFRS yang sangat mirip dengan penyakit tropis lainnya. Dokter Alindina mengingatkan agar waspada terhadap diagnosis banding, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), Leptospirosis, Malaria, dan Sepsis. Kewaspadaan ekstra diperlukan, terutama jika pasien memiliki riwayat paparan tikus. Keterlambatan diagnosis dapat berakibat fatal karena sifat penyakit yang dapat memburuk dengan cepat.
Dokter Alindina mengimbau masyarakat untuk memutus rantai penularan dengan cara menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus. Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat dan tenaga kesehatan lebih sigap mengenali gejala dini guna menangani kasus secara cepat dan tepat.






