BERITA  

Anak muda Sampit manfaatkan cermin cembung jadi bisnis viral

Tren Selfie dengan Cermin Cembung Menyebar ke Kota Sampit

Di tengah keramaian kota, tren selfie menggunakan cermin cembung yang sedang viral di media sosial kini mulai menyebar ke berbagai daerah, termasuk Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Tren ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga memberikan peluang usaha bagi sejumlah individu yang mampu melihat potensi dari fenomena tersebut.

Jakaria, salah satu pemuda setempat, adalah contoh nyata dari bagaimana tren digital dapat diubah menjadi peluang ekonomi. Ia mengamati bahwa tren ini sangat diminati oleh kalangan muda dan memutuskan untuk mencoba membawanya ke Kota Sampit. Dengan peralatan sederhana, ia kini rutin menawarkan jasa foto menggunakan cermin cembung di beberapa lokasi yang ramai.

Lokasi dan Waktu Operasional

Jakaria biasanya beroperasi di kawasan Car Free Day di Taman Kota Sampit, Taman Jelawat, serta Terowongan Nur Mentaya. Aktivitasnya dilakukan pada sore hingga malam hari, saat pengunjung mulai berkumpul. Pemuda ini tampak tenang dan ramah saat melayani para pengunjung yang ingin mencoba sensasi unik dari foto menggunakan cermin cembung.

Pantulan dari cermin cembung menghasilkan efek yang berbeda dibandingkan foto biasa. Gambar terlihat lebih luas dan memiliki efek melengkung yang menarik. Banyak orang yang tertarik untuk mencoba karena hasil fotonya yang berbeda dan estetik, terutama untuk kebutuhan konten media sosial.

Tarif dan Pengalaman Pengguna

Untuk bisa menikmati layanan ini, pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp5 ribu per sesi. Dalam waktu sekitar tiga menit, pelanggan bebas berfoto menggunakan kamera atau smartphone pribadi. Jakaria juga mengaku tidak terlalu kaku dalam hal durasi jika kondisi sedang sepi. “Kalau lagi sepi ya silakan saja mau foto lebih lama juga tidak masalah,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski terlihat sederhana, usaha ini cukup diminati oleh masyarakat. Antusiasme warga dinilai cukup tinggi, terutama di lokasi yang sering dikunjungi anak muda. “Alhamdulillah respons masyarakat cukup positif, lumayan ramai juga yang coba,” katanya.

Kombinasi Pekerjaan Utama dan Usaha Sampingan

Di balik usaha kreatif ini, Jakaria masih menjalankan pekerjaan utama di salah satu pusat perbelanjaan di Sampit. Sistem kerja bergilir atau shift memungkinkannya untuk memanfaatkan waktu luang untuk menjalankan usaha sampingan tersebut.

Modal awal yang dikeluarkan tergolong kecil, sekitar Rp400 ribu lebih. Dana itu digunakan untuk membeli cermin cembung secara daring sekitar Rp200 ribu, sementara kebutuhan lain seperti pilox, stiker, dan tiang penyangga dibeli di Sampit. “Modalnya tidak terlalu besar. Yang penting berani coba dan lihat peluang dari tren yang lagi ramai,” jelasnya.

Peluang Ekonomi Kreatif

Fenomena ini menjadi gambaran bagaimana tren media sosial dapat dimanfaatkan menjadi peluang ekonomi kreatif apabila dikelola secara positif. Sesuatu yang awalnya hanya viral di internet kini perlahan berubah menjadi sumber penghasilan tambahan bagi anak muda di daerah.

Dengan inovasi dan keberanian, banyak peluang baru bisa tercipta. Jakaria adalah salah satu contohnya, yang berhasil mengubah tren digital menjadi bisnis yang menjanjikan.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *