Polifoni Mendoan: Dokumentasi Budaya yang Menggambarkan Keseharian Masyarakat Banyumas
Film dokumenter bertajuk Polifoni Mendoan resmi menyelesaikan proses pengambilan gambar di berbagai lokasi di Kabupaten Banyumas. Proyek ini mengangkat mendoan, sebuah makanan khas Banyumas, sebagai objek budaya yang menyimpan banyak cerita sosial dan identitas masyarakat.
Menurut sutradara sekaligus penerima hibah, King Anugrah Wiguna, mendoan tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga menjadi bagian dari Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang belum pernah didokumentasikan secara mendalam dalam konteks gastronomi lokal.
“Mendoan ada di mana-mana, tapi jarang sekali kita benar-benar mendiskusikannya,” ujarnya. Ia menilai bahwa kedekatan masyarakat Banyumas dengan mendoan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan makanan tradisional lainnya.
Konsep Film yang Menghadirkan Banyak Suara
Film ini lahir dari diskusi antara King dan penulis naskah Abdul Aziz Rasjid. Keduanya mengembangkan gagasan bahwa mendoan adalah simbol keseharian masyarakat Banyumas yang sering dianggap biasa, namun menyimpan banyak cerita di baliknya.
Dalam proses produksinya, Polifoni Mendoan menggunakan format dokumenter Poetic-Expository dengan empat fragmen utama yang membawa penonton menyusuri berbagai lapisan cerita mendoan. Konsep yang diusung adalah polifoni, yakni menghadirkan banyak suara dari para pengrajin, penjual hingga penikmat mendoan.
“Polifoni mendoan berisi beragam suara yang berasal dari para pengrajin, penjual, dan penikmatnya yang berlapis-lapis. Suara yang mungkin tidak senada karena keragamannya. Kami datang, mendengarkan dan merekam harmoninya,” jelas King.
Pemilihan Narator yang Tepat
Untuk memperkuat narasi film, tim produksi memilih aktor Aksara Dena sebagai narator utama. Nama Aksara Dena dikenal melalui sejumlah film dan serial seperti AUM!, 13 Bombs, Cigarette Girl, Tumbal Darah hingga Losmen Bu Broto: The Series.
King menyebut kapasitas akting Aksara Dena serta kedekatannya dengan budaya Banyumas menjadi alasan utama pemilihannya sebagai pengisi suara narasi film.
Lokasi Pengambilan Gambar yang Beragam
Produksi pengambilan gambar dilakukan di sejumlah titik di Banyumas, mulai dari Desa Pliken yang dikenal sebagai sentra pengrajin tempe, kawasan Kota Purwokerto, hingga warung-warung malam di Baturaden dan Desa Kebocoran.
Saat ini, seluruh tahapan riset, observasi lapangan, penyusunan naskah hingga proses syuting telah selesai dilakukan. Tim produksi film ini seluruhnya berbasis di Banyumas dan Purwokerto.
Tim Produksi yang Terdiri dari Sumber Daya Lokal
Selain King dan Abdul Aziz Rasjid, proyek ini turut melibatkan beberapa nama penting dalam industri perfilman. Krisna Aditya bertindak sebagai Direktur Fotografi, Hasna Aulia sebagai Asisten Sutradara, Rida Purnamasari sebagai ilustrator, Reno Kristanto sebagai penata suara, Rifqi Akmal sebagai fotografer, Farobi Fatkhurridho sebagai produser, dan Aldy Daffa sebagai asisten produser.
Jadwal Rilis dan Target Festival Film
Film dokumenter Polifoni Mendoan ditargetkan rampung pada pertengahan tahun 2026 dan direncanakan mengikuti sejumlah festival film nasional maupun internasional. Proyek ini merupakan penerima hibah Dana Indonesiana milik Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2025 dalam skema Karya Kreatif Inovatif yang dikelola melalui dana abadi kebudayaan nasional.






