SURABAYA – Tak banyak lulusan dokter yang memilih kembali ke daerah asal untuk mengabdi kepada masyarakat. Di antara sedikit sosok tersebut, ada nama Via Dwi Alfiana. Di balik senyum tenangnya saat mengikuti pengambilan sumpah dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya atau Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Kamis (21/5), tersimpan perjalanan panjang tentang ketekunan, pengabdian, dan mimpi besar yang tumbuh dari sebuah desa di Lombok.
Perempuan asal Desa Sengkol, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat itu kini resmi menyandang gelar dokter setelah menempuh perjalanan penuh tantangan selama menempuh pendidikan di FK Unusa.
Via tumbuh di lingkungan keluarga sederhana yang lekat dengan dunia pelayanan kesehatan. Sang ayah bekerja sebagai perawat, sedangkan ibunya merupakan seorang bidan. Sejak kecil, ia telah terbiasa melihat kedua orang tuanya membantu masyarakat tanpa mengenal waktu.
“Ayah saya bekerja sebagai perawat, sedangkan ibu saya seorang bidan. Sejak kecil saya melihat bagaimana mereka membantu pasien dengan penuh kesabaran dan kepedulian,” ujar Via.
Ia mengenang sang ibu yang kerap dipanggil warga untuk membantu persalinan, bahkan pada malam hari. Sementara ayahnya tetap bekerja melayani pasien meski dalam kondisi lelah. Pengalaman itulah yang perlahan menumbuhkan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter.
“Pengalaman itu menjadi inspirasi besar bagi saya untuk menekuni bidang kedokteran,” lanjutnya.
Masa kecil Via di Desa Sengkol diwarnai suasana hangat kehidupan desa. Ia tumbuh di lingkungan masyarakat yang saling mengenal dan memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat. Dari sana pula, ia mulai memahami bahwa tidak semua masyarakat memiliki akses kesehatan yang memadai.
“Masa kecil saya di Lombok sangat menyenangkan. Saya tumbuh di lingkungan yang hangat, dekat dengan keluarga besar, dan masyarakat yang saling peduli,” katanya.
Keinginan untuk mengabdi melalui dunia kesehatan akhirnya membawanya merantau ke Surabaya demi melanjutkan pendidikan kedokteran di Unusa. Jauh dari keluarga untuk pertama kalinya bukan perkara mudah. Ia harus belajar mandiri, beradaptasi dengan ritme pendidikan kedokteran yang ketat, sekaligus menahan rindu terhadap kampung halaman.
“Tentu pernah merasa ingin menyerah. Ada masa ketika tugas sangat banyak dan tekanan cukup besar. Tapi saya selalu mengingat tujuan awal saya, dan dukungan keluarga menjadi sumber semangat terbesar,” tuturnya.
Perjuangan panjang itu mencapai titik penting ketika Via resmi disumpah sebagai dokter. Momen tersebut menjadi kebanggaan besar bagi keluarganya karena ia menjadi dokter pertama di keluarga besarnya.
“Gelar ini menjadi kebahagiaan besar bagi saya dan keluarga. Saat pertama kali merawat pasien, saya benar-benar merasa bahwa ilmu yang dipelajari selama ini akhirnya bisa digunakan untuk membantu orang lain,” ujarnya.
Di balik pencapaiannya, Via menyimpan satu impian besar yang terus dijaga sejak awal, yakni kembali ke tanah kelahirannya di Lombok untuk mengabdi kepada masyarakat.
Menurutnya, layanan kesehatan di Lombok terus berkembang, namun masih terdapat sejumlah wilayah yang membutuhkan peningkatan akses pelayanan kesehatan dan edukasi masyarakat.
Karena itu, ia ingin hadir bukan hanya sebagai dokter, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan yang membawa harapan baru bagi masyarakat di daerah asalnya.
“Saya ingin memberikan pelayanan kesehatan yang baik, meningkatkan edukasi masyarakat, serta membantu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pencegahan penyakit,” katanya penuh harap.
Via juga berharap masyarakat di Sengkol dan Lombok Tengah semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan sejak dini dan tidak ragu memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia.
Perjalanan Via dari lorong-lorong kecil Desa Sengkol hingga ruang sumpah dokter di Surabaya menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari mana saja. Dengan kerja keras, disiplin, dan doa, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk mengabdi dan memberi manfaat bagi sesama.
“Jangan takut bermimpi besar. Asal disertai kerja keras, disiplin, dan doa, tidak ada yang tidak mungkin,” pesannya.






