JAKARTA — Indeks harga konsumen (IHK) untuk komoditas pangan kembali mengalami inflasi pada Mei 2026 setelah sebelumnya mengalami deflasi pada bulan April. Meski demikian, pemerintah menilai kondisi harga pangan nasional masih dalam pengendalian, terlepas dari meningkatnya permintaan yang terjadi bersamaan dengan momentum Hari Raya Iduladha.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi komponen bergejolak atau volatile foods mencapai 0,22% secara bulanan pada Mei 2026. Angka ini berbeda jauh dari April yang mencatatkan deflasi sebesar 0,88%.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa sejumlah komoditas hortikultura menjadi penyebab utama inflasi pangan pada Mei. Ia menyebutkan beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi, antara lain cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau.
Menurut Pudji, kenaikan harga komoditas tersebut dipengaruhi oleh faktor musiman, baik itu siklus produksi maupun peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga sayuran seperti cabai, bawang merah, dan tomat disebabkan oleh hasil panen yang sedang berlangsung serta peningkatan konsumsi masyarakat yang bersifat musiman.
Meski inflasi pangan terjadi, tekanan inflasi masih terkendali karena adanya komoditas yang mengalami penurunan harga. BPS mencatatkan bahwa daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 3,83% secara bulanan, sementara telur ayam ras turun lebih dalam hingga 5,14%. Adapun bawang putih mencatatkan deflasi sebesar 3,06%.
Untuk komoditas beras, BPS melaporkan kenaikan harga masih relatif terbatas. Beras premium mengalami inflasi sebesar 0,56% secara bulanan, sedangkan beras medium naik 0,79%. Sementara itu, inflasi beras di tingkat eceran tercatat sebesar 0,38% pada Mei, lebih rendah dibandingkan April yang mencapai 0,58%.
Pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan bahwa harga beras medium secara nasional pada 2 Juni 2026 berada di level Rp13.499 per kilogram. Harga tersebut hanya naik tipis 0,32% dibandingkan bulan sebelumnya dan masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa pemerintah terus menjaga keterjangkauan harga pangan melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM). Program ini bertujuan membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga lebih terjangkau dibandingkan harga pasar, terutama saat terjadi kenaikan harga pada periode hari besar keagamaan. Hal ini juga mendukung pengendalian inflasi.
Menurut Ketut, intensitas pelaksanaan GPM terus ditingkatkan sepanjang tahun ini. Hingga akhir Mei 2026, realisasi GPM telah mencapai 5.037 kali pelaksanaan di 417 kabupaten dan kota. Angka tersebut melampaui capaian periode Januari–Mei 2025 yang tercatat sebanyak 3.482 kali pelaksanaan.
Pemerintah saat ini memfokuskan stabilisasi harga pada sejumlah komoditas strategis, antara lain beras, jagung, kedelai, cabai, bawang, telur ayam ras, daging ayam ras, daging sapi dan kerbau, gula konsumsi, serta minyak goreng. Tingginya pelaksanaan GPM menunjukkan antusiasme masyarakat sekaligus komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan. Hampir semua komoditas tersebut harganya stabil.






