Konflik Sarwendah dan Ruben Onsu: Dampak Psikologis pada Anak
Konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah tidak hanya menjadi sorotan publik, tetapi juga menjadi perhatian para psikolog. Salah satunya adalah Bunda Romi, psikolog yang memberikan pandangan penting tentang bagaimana konflik ini dapat memengaruhi anak-anak.
Anak Jadi Korban Utama
Bunda Romi menegaskan bahwa dalam konflik seperti ini, anak-anak adalah pihak yang paling terdampak. Ia mengingatkan kedua mantan pasangan tersebut untuk tidak menjadikan anak sebagai bahan rebutan. “Ada perpisahan dalam suatu keluarga, baik bapak dan ibunya itu memang enggak ada bekas bapak, bekas ibu, yang ada mantan suami dan mantan istri,” ujarnya.
Menurutnya, keputusan berpisah bukan diminta oleh anak-anak. Namun, mereka justru harus menanggung beban yang sangat berat. “Mereka enggak meminta adanya perpisahan, tapi mereka harus turut menanggung beban yang luar biasa,” katanya.
Peringatan Penting dari Bunda Romi
Bunda Romi juga menyampaikan bahwa anak-anak sering kali dianggap sebagai benda yang bisa diperebutkan. Ia memperingatkan agar kedua pihak tidak saling menjatuhkan nama satu sama lain. “Enggak bisa hanya mengatakan ayah aja yang paling baik atau ibu aja yang paling baik. Tidak,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya co-parenting yang baik. “Dia tetap harus punya ayah dan punya ibu. Jadi kalau co-parenting itu ada, bagus. Itu akan jadi luar biasa bagi keluarga yang sudah tidak satu lagi,” tambahnya.
Persoalan Nafkah dan Hak Asuh Anak
Konflik antara Ruben dan Sarwendah tidak hanya terkait dengan perasaan, tetapi juga masalah nafkah dan hak asuh anak. Ruben sebelumnya merasa dipersulit oleh Sarwendah untuk bertemu kedua putrinya. Menurut kesepakatan yang dibuat setelah perceraian, ia seharusnya diberi kesempatan bertemu anak-anaknya tiga kali dalam seminggu.
Namun, Sarwendah disebut mempersulit hal tersebut. Akibatnya, Ruben menghentikan nafkah senilai Rp225 juta per bulan sejak akhir Desember 2026. Hal ini membuat Sarwendah merasa bahwa Ruben lepas dari tanggung jawab.
Kehadiran di Pesta Ulang Tahun Anak
Meski Ruben diundang oleh Sarwendah untuk hadir dalam pesta ulang tahun kedua putrinya, ia tidak bisa hadir karena jadwal syuting. Ia menyampaikan bahwa rasa percaya dirinya mulai luntur akibat video-video yang muncul.
“Kalau lu tanya gue, sekarang ini dengan adanya video-video yang keluar itu, gue banyak enggak percaya dirinya ketemu keluar. Padahal gue sering ke sana. Tapi sekarang lebih enggak percaya dirinya tuh kuat banget,” ujarnya.
Ruben menegaskan bahwa yang ia inginkan hanyalah bertemu dengan anak-anaknya. Namun, pihak Sarwendah terus-terusan membahas masalah nafkah. “Saya selalu bertanya gitu. Ini yang disampaikan ini adalah ingin bertemunya gitu, ingin bertemunya saya dengan anak saya. Dan jika dalam waktu enam bulan itu adalah kesalahan besar tidak memberikan nafkah, saya cuma mau bilang, ‘Coba diperhatikan lagi dengan baik-baik. Apa sih yang diminta gitu ya. Bertemu dengan anak dan bermain’. Udah gitu aja,” jelasnya.
Kekecewaan dan Rindu
Ruben juga mengungkapkan bahwa ia tidak sanggup mengungkapkan sampai mana perasaan rindunya pada kedua putrinya. “Saya hanya bisa sampaikan itu lewat doa, salat gitu. Kangen, dan mau menyampaikan kangennya semana aja sampai enggak berani gitu. Enggak berani menyampaikan rasa kangennya semana,” curhatnya.
Di sisi lain, Ruben mencemaskan kondisi kedua putrinya yang kini diasuh oleh Sarwendah. Ia menyampaikan kekecewaannya terhadap orang-orang luar yang ikut campur dalam masalahnya. “Maksud saya, untuk orang-orang yang tidak berkepentingan, itu udah dulu gitu. Jangan terus akhirnya menyudutkan, memberikan kata-kata yang kurang pantas.”






