Daerah  

Generasi Cemas Di Era Digital, Mengapa Gangguan Kecemasan Terus Meningkat

Oleh: Jiemmy Eka Rasnadi

Dikenal sebagai Thabib Jiem’s, praktisi kesehatan holistik dan mahasiswa (akhir) Magister Psikologi USM Semarang

BANGKA – Pernahkah kita menyadari bahwa hari ini banyak orang bangun tidur bukan lagi dengan rasa segar, melainkan dengan rasa khawatir?

Belum sempat kaki menyentuh lantai, tangan sudah lebih dulu meraih telepon genggam. Layar menampilkan berita perang, kecelakaan, pemutusan hubungan kerja, kenaikan harga kebutuhan pokok, bencana alam, hingga unggahan teman yang tampak begitu sukses menjalani hidup. Semua hadir dalam hitungan detik tanpa diminta.

Kita hidup pada masa ketika informasi datang lebih cepat daripada kemampuan pikiran untuk mencernanya. Di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, muncul ironi yang jarang kita sadari.

Dunia memang semakin terkoneksi, tetapi banyak orang justru merasa semakin gelisah. Tidak sedikit yang mengaku sulit tidur, mudah panik, kehilangan konsentrasi, bahkan merasa masa depan tampak semakin mengkhawatirkan. Ruang konsultasi psikolog, psikiater, maupun layanan kesehatan mental mulai dipenuhi oleh keluhan yang memiliki benang merah yang sama : kecemasan.

Fenomena ini tentu tidak lahir begitu saja. Ia merupakan hasil dari perubahan cara manusia menjalani kehidupan di era digital. Kecemasan sebenarnya bukanlah musuh. Sejak dahulu, rasa cemas membantu manusia bertahan hidup. Ketika menghadapi ancaman, tubuh secara otomatis meningkatkan kewaspadaan agar kita mampu mengambil keputusan dengan cepat. Tanpa rasa cemas, mungkin manusia tidak akan mampu menghindari bahaya.

Namun, kehidupan modern menghadirkan bentuk ancaman yang berbeda. Ancaman itu tidak selalu hadir secara fisik. Ia muncul melalui notifikasi yang tidak pernah berhenti, komentar di media sosial, target pekerjaan yang terus bertambah, hingga kekhawatiran terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

Di sinilah persoalan mulai muncul. Otak manusia bereaksi terhadap ancaman digital hampir sama seperti menghadapi ancaman nyata. Tubuh melepaskan hormon stres, jantung berdebar lebih cepat, pikiran terus berjaga, padahal yang dihadapi hanyalah layar berukuran beberapa inci. Ironisnya, keadaan tersebut berlangsung setiap hari.

Media sosial kemudian memperkuat kondisi itu. Platform digital dirancang agar penggunanya bertahan selama mungkin. Setiap unggahan baru, setiap notifikasi, dan setiap video pendek mampu menarik perhatian kita hanya dalam beberapa detik. Lama-kelamaan, otak terbiasa menerima rangsangan tanpa jeda.

Masalahnya bukan semata-mata berapa lama seseorang menggunakan media sosial, melainkan bagaimana pengalaman psikologis yang terbentuk selama berada di dalamnya. Ruang digital tidak hanya menjadi tempat bertukar informasi, tetapi juga arena untuk membandingkan diri, mencari pengakuan, mengikuti berbagai standar yang terus berubah, bahkan menyerap kecemasan dari peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Ketika paparan seperti ini berlangsung setiap hari tanpa jeda, pikiran perlahan kehilangan kesempatan untuk benar-benar beristirahat. Tidak mengherankan jika berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir menemukan bahwa penggunaan media sosial yang tidak sehat berkaitan dengan meningkatnya gejala kecemasan, terutama ketika disertai pola tidur yang buruk, tekanan sosial, dan rendahnya dukungan emosional.

Tanpa disadari, media sosial juga telah menjadi ruang perbandingan sosial terbesar sepanjang sejarah manusia. Kita membandingkan kehidupan sehari-hari dengan potongan-potongan momen terbaik milik orang lain. Ketika teman memamerkan promosi jabatan, perjalanan ke luar negeri, rumah baru, atau pencapaian akademik, banyak orang diam-diam mulai mempertanyakan hidupnya sendiri.

“Apakah aku sudah cukup berhasil?”

“Mengapa hidupku terasa tertinggal?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terus berulang dan perlahan mengikis rasa percaya diri.

Belum selesai sampai di situ, budaya produktivitas tanpa henti ikut menambah tekanan. Dunia digital membuat batas antara bekerja dan beristirahat semakin kabur. Surat elektronik dapat masuk tengah malam, pesan pekerjaan muncul saat akhir pekan, dan banyak orang merasa bersalah ketika tidak melakukan sesuatu yang dianggap produktif.

Seolah-olah nilai manusia hanya diukur dari kesibukannya. Di sisi lain, generasi muda juga hidup dalam ketidakpastian yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Persaingan kerja semakin ketat, biaya hidup meningkat, perubahan iklim menimbulkan kekhawatiran baru, sementara perkembangan kecerdasan buatan (AI) memunculkan pertanyaan mengenai masa depan berbagai profesi, semua itu menciptakan tekanan psikologis yang berlangsung secara terus-menerus.

Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak menyederhanakan persoalan dengan menyalahkan teknologi. Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara media sosial dan kesehatan mental tidak sesederhana “semakin lama menggunakan gawai, semakin buruk kesehatan mental”. Yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang menggunakan media sosial, pengalaman yang dialami selama berinteraksi, kualitas tidur, dukungan sosial, dan kondisi psikologis yang telah dimiliki sebelumnya. Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukanlah menjauhi teknologi, melainkan membangun cara berinteraksi yang lebih sehat dengannya.

Literasi digital perlu berjalan beriringan dengan literasi kesehatan mental. Anak-anak perlu diajarkan bahwa tidak semua yang tampil di media sosial mencerminkan kenyataan. Remaja perlu memahami bahwa rasa cemas bukan sesuatu yang memalukan. Orang tua perlu menjadi pendengar yang hadir, bukan sekadar pengawas penggunaan gawai.

Tempat kerja juga perlu menyadari bahwa produktivitas yang berkelanjutan hanya mungkin tercapai apabila kesehatan psikologis pekerjanya turut dijaga.dan yang juga tidak kalah penting adalah keberanian untuk mencari pertolongan profesional. Sampai hari ini masih ada anggapan bahwa yang datang ke psikolog berarti seseorang yang lemah atau tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Pandangan semacam ini justru membuat banyak orang menunda mencari bantuan hingga kondisi yang dialami menjadi lebih berat, sedangkan kesehatan mental seharusnya diperlakukan sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi digital bukanlah bagaimana menguasai teknologi, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia di tengah derasnya arus teknologi.

Kita membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas menggunakan perangkat digital, tetapi juga mampu mengelola emosi, menerima ketidakpastian, membangun relasi yang sehat, dan tahu kapan harus berhenti sejenak untuk mendengarkan dirinya sendiri.

Mungkin persoalan terbesar kita hari ini bukan karena dunia bergerak terlalu cepat, melainkan karena kita belum belajar memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat.