Investasi Besar SoftBank untuk OpenAI
Perusahaan teknologi ternama, SoftBank, baru-baru ini mengamankan pinjaman jangka pendek sebesar US$ 40 miliar atau setara dengan Rp 679,72 triliun (dengan kurs Rp 16.993 per dolar AS). Pinjaman ini sebagian besar akan digunakan untuk mendanai investasi di OpenAI, sebuah perusahaan yang sedang menjadi sorotan dalam dunia teknologi.
Langkah ini tidak hanya sekadar ekspansi bisnis, tetapi juga menjadi tanda kuat dari pendiri SoftBank, Masayoshi Son, untuk memperkuat posisinya dalam persaingan global di bidang kecerdasan buatan (AI). Pinjaman tanpa agunan yang jatuh tempo dalam 12 bulan tersebut akan dialirkan sekitar US$ 30 miliar atau sekitar Rp 509,7 triliun langsung ke OpenAI.
Ini adalah pinjaman terbesar yang sepenuhnya berbasis dolar AS bagi SoftBank. Kebijakan ini menambah tekanan utang perusahaan, terutama dalam situasi pasar teknologi yang sedang bergejolak. Untuk mengurangi kewajiban finansial, SoftBank bahkan mempertimbangkan opsi menjual beberapa asetnya.
Sejumlah bank besar internasional seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, dan Mizuho Bank turut serta dalam pembiayaan ini. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pihak percaya pada potensi pertumbuhan OpenAI dan proyek-proyek AI yang sedang dikembangkan.
Selain itu, SoftBank masih memiliki portofolio investasi lain yang cukup signifikan. Salah satunya adalah kepemilikan sekitar 90% saham di Arm Holdings, sebuah perusahaan yang saat ini sedang mengalami peningkatan nilai secara pesat seiring tren penggunaan chip AI. Kenaikan harga saham Arm lebih dari 40% pada tahun ini memberi ruang bagi SoftBank untuk terus melakukan ekspansi yang agresif.
Pembiayaan ini juga menjadi indikasi bahwa OpenAI kemungkinan akan segera melakukan initial public offering (IPO) pada tahun 2026. Menurut laporan dari TechCrunch, jika IPO terjadi maka akan memberikan likuiditas yang cukup besar bagi SoftBank untuk melunasi utangnya dalam waktu singkat.
Kabar tentang rencana IPO OpenAI sudah mulai muncul sejak Oktober 2025. Valuasi yang diperkirakan mencapai US$ 1 triliun atau sekitar Rp 16.631 triliun (dengan kurs Rp 16.631 per dolar AS) membuat angka ini menjadi IPO terbesar dalam sejarah.
Menurut laporan Reuters, OpenAI sedang mempertimbangkan untuk mengajukan dokumen IPO ke otoritas pasar modal pada paruh kedua tahun 2026, dengan kemungkinan peluncuran resmi pada 2027. Beberapa penasihat internal bahkan memprediksi bahwa IPO bisa terjadi lebih cepat, yakni pada akhir 2026.
Meskipun begitu, pihak OpenAI sendiri menegaskan bahwa IPO bukanlah prioritas utama saat ini. “IPO bukan fokus kami, jadi kami belum menetapkan tanggal apa pun,” ujar juru bicara OpenAI, dikutip dari Reuters pada Oktober 2025.





