30 Tahun LPG Nonsubsidi, Harga Naik Bersama BBM, Pengeluaran Membengkak

Kenaikan Harga LPG Nonsubsidi 12 Kg Membuat Warga Mengeluh

Harga elpiji (LPG) nonsubsidi 12 kilogram mengalami kenaikan dari Rp192.000 menjadi Rp228.000. Perubahan ini menimbulkan keluhan dari warga yang merasa kesulitan akibat kenaikan harga tersebut. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok lainnya, membuat kondisi ekonomi semakin berat.

Michael (24), seorang warga Kalideres, Jakarta Barat, menyampaikan bahwa ia baru saja mengetahui kenaikan harga LPG nonsubsidi. Ia merasa kenaikan sebesar Rp40.000 cukup signifikan. Michael juga mengatakan bahwa kenaikan harga energi ini akan diikuti oleh lonjakan harga kebutuhan lain di pasar.

Meski baru sekitar satu tahun menggunakan elpiji nonsubsidi, Michael sudah memperkirakan kenaikan tersebut seiring eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa kenaikan harga tiket pesawat yang bergantung pada avtur dan harga BBM seperti Pertamax Dex serta Pertamax Turbo juga memengaruhi harga gas.

Keluhan dari Pengguna Lama

Pudji (50), yang telah menggunakan gas nonsubsidi selama lebih dari 30 tahun, juga menyampaikan keluhan serupa. Ia merasa terkejut dengan kenaikan harga yang cukup tinggi di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat. Menurut Pudji, kenaikan harga gas terasa semakin membebani karena terjadi bersamaan dengan kenaikan berbagai komoditas lain, termasuk BBM dan bahan dapur.

Ia berharap pemerintah dapat mengendalikan harga kebutuhan dasar di tengah gejolak global yang masih berlangsung. “Ya semoga bisa terkendali lagi lah, enggak naik-naik terus biar enggak semakin menyusahkan,” ujarnya.

Pertimbangan untuk Kembali ke Gas Subsidi

Terhimpit kondisi ekonomi yang semakin mahal, Michael mulai mempertimbangkan kembali menggunakan gas subsidi 3 kg yang sempat ia tinggalkan setahun lalu. Sebelumnya, ia beralih ke gas 12 kg karena kerap kesulitan mendapatkan gas melon yang langka dan distribusinya dinilai belum optimal.

“Karena punya juga tabung subsidi, jadi sementara berganti ke subsidi dulu. Tapi kalau subsidi kan sering kosong, jadi mau enggak mau tetap pakai yang 12 kg. Kalau ganti ke 5,5 kg harus beli tabungnya lumayan, jadi kalau hitung-hitungan, masih efisien yang 12 kg,” tuturnya.

Senada dengan Michael, Pudji mengaku harus memutar otak untuk mencari alternatif lain. Ia kini mempertimbangkan beralih ke gas elpiji 5,5 kg agar pengeluaran rutinnya tidak terus membengkak.

“Mau enggak mau harus cari alternatif yang lebih meringankan. Bisa jadi (pindah ke gas 5,5 kg). Yang jelas sih ya harus dihemat-hemat gasnya,” tuturnya.

Harga Elpiji Nonsubsidi Naik

Berdasarkan laman resmi Pertamina Patra Niaga, harga elpiji nonsubsidi Bright Gas 12 kg di tingkat agen distribusi untuk wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur kini mencapai Rp 228.000 per tabung. Harga tersebut naik cukup signifikan dari sebelumnya sekitar Rp 192.000 per tabung.

Sementara itu, di wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Jambi, harga elpiji nonsubsidi bahkan mencapai sekitar Rp 230.000 per tabung.

Penjelasan Menteri ESDM

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa LPG 12 kg merupakan elpiji nonsubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat mampu. “Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Orang mampu kan,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Menurut dia, negara hadir untuk seluruh rakyat, tetapi bantuan energi diprioritaskan bagi masyarakat kurang mampu. “Gini loh, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu saja kok,” ucapnya.

Bahlil juga memastikan harga LPG 3 kg bersubsidi tidak mengalami kenaikan di tengah gejolak global, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. “Kalau yang subsidi (harganya) tetap. Saya hanya bisa menjamin harga subsidi karena itu adalah perintah Presiden dan perintah aturan,” kata Bahlil.

Namun, ia menegaskan harga LPG nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar sehingga dapat mengalami penyesuaian. Bahlil juga mengingatkan masyarakat berpenghasilan tinggi agar tidak menggunakan LPG subsidi 3 kg.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *