JAKARTA – Rencana pengetatan baku mutu limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) hingga biological oxygen demand (BOD) di bawah 100 miligram per liter (mg/l) menarik perhatian. Seorang peneliti dari Pusaka Kalam, Dr Gunawan Djajakirana, mengingatkan pihak terkait untuk melakukan evaluasi terhadap draft peraturan tersebut. Menurutnya, kebijakan ini tidak berbasis pendekatan ekologi tanah maupun praktik agronomi berkelanjutan.
Menurut Gunawan, kebijakan yang memaksa industri sawit mengolah LCPKS hingga standar sangat rendah sebelum dibuang ke sungai justru menyia-nyiakan potensi besar limbah tersebut sebagai sumber pupuk organik alami bagi perkebunan. “Fokus regulasi hanya pada angka BOD di bawah 100 mg/l itu keliru,” ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Senin (20/4/2025).
“Lingkungan tidak otomatis aman hanya karena BOD rendah. Kaji ulang draft permen agar tidak mengabaikan potensi baik LCPKS,” kata Gunawan menambahkan. Saat ini, Kementerian Lingkungan Hidup sedang menggodok rancangan peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang Baku Mutu Air Limbah dan Pengelolaan Air Limbah Usaha dan/atau Kegiatan Minyak Mentah Kelapa Sawit.
Salah satu draft yang menjadi sorotan adalah justifikasi penetapan baku mutu air limbah untuk pengairan dengan BOD kurang dari 100 mg/l dan penggunaan pupuk buatan (sintetik). Draft itu cenderung mengabaikan potensi yang besar dari LCPKS sebagai pupuk organik yang sangat bagus untuk produktivitas pohon sawit yang berkelanjutan.
Gunawan menjelaskan, parameter yang selama ini dijadikan acuan hanya BOD dan pH. Sementara unsur hara lain seperti nitrogen, fosfor, kalsium, magnesium, dan kalium kerap diabaikan. Padahal, berdasarkan analisis lapangan yang pernah dilakukannya, LCPKS yang telah memenuhi standar BOD rendah tetap mengandung hara tinggi yang dapat memicu eutrofikasi apabila dibuang ke sungai.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan ledakan pertumbuhan alga dan pertumbuhan dan pertumbuhan tanaman air lainnya berlebihan. Hal itu justru merusak ekosistem perairan. “Jadi angka 100 mg/l bukan berarti aman. Kalau volumenya besar tetap bisa mencemari,” kata Gunawan.
Pakar ilmu tanah tersebut menilai, pendekatan pembuangan limbah merupakan paradigma lama yang tidak lagi relevan. Menurut dia, LCPKS seharusnya dimanfaatkan untuk memperbaiki fungsi tanah karena Indonesia justru menghadapi krisis bahan organik tanah akibat penggunaan pupuk sintetis dalam jangka panjang.
Dia menyebut, banyak lahan pertanian dan kebun sawit nasional kini rata-rata memiliki kandungan bahan organik di bawah 3 persen. Akibatnya, produktivitas stagnan, efisiensi pupuk menurun, dan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit melemah. “Bahan organik bagi tanah itu seperti darah bagi manusia. Kalau kurang, sistemnya tidak bekerja optimal,” jelas Gunawan.
Dia melanjutkan, pemanfaatan LCPKS ke lahan sawit akan mampu meningkatkan kesuburan tanah secara keseluruhan (biologi, fisik dan kimia). Selain itu, kata Gunawan, juga memperbaiki kapasitas tanah menyimpan air, mengurangi kebutuhan pupuk sintetik, memperbaiki struktur tanah dan menekan emisi karbon dari produksi pupuk sintetis.
Pendekatan Baru untuk Pengelolaan Limbah Cair
Berikut beberapa pendekatan baru yang diperlukan dalam pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit:
Menggunakan data lengkap
Perlu adanya pengujian yang lebih komprehensif terhadap komponen-komponen dalam LCPKS, termasuk nitrogen, fosfor, kalsium, magnesium, dan kalium. Ini penting untuk memahami potensi limbah sebagai sumber nutrisi alami.Memperhatikan dampak lingkungan
Meskipun BOD rendah, volume limbah yang besar tetap bisa menyebabkan pencemaran. Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi terhadap dampak jangka panjang terhadap ekosistem perairan.Menerapkan prinsip ekologi tanah
Limbah cair sebaiknya dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Dengan demikian, penggunaan pupuk sintetis dapat dikurangi, sehingga mengurangi emisi karbon.Meningkatkan kesadaran industri
Industri kelapa sawit perlu diberikan edukasi mengenai manfaat LCPKS sebagai sumber nutrisi alami. Ini bisa membantu mengubah paradigma dari pembuangan ke pemanfaatan.
Manfaat Pemanfaatan LCPKS
Pemanfaatan LCPKS dalam skala besar memiliki beberapa manfaat, antara lain:
Meningkatkan kesuburan tanah
Nutrisi yang terkandung dalam LCPKS dapat memperbaiki kondisi biologis, fisik, dan kimia tanah.Meningkatkan kapasitas penyimpanan air
Tanah yang subur mampu menyimpan air lebih baik, sehingga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan.Mengurangi kebutuhan pupuk sintetik
Penggunaan pupuk sintetis dapat dikurangi, sehingga mengurangi biaya produksi dan dampak negatif terhadap lingkungan.Mencegah emisi karbon
Mengurangi produksi pupuk sintetis berarti mengurangi emisi karbon yang dihasilkan selama proses produksi.






