News  

Catatan buruk Arsenal justru jadi kebalikan Man City, tanda-tanda gelar The Gunners kembali hilang?

Penurunan Performa Arsenal dan Momentum Manchester City

Arsenal mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa lalu, dengan empat kekalahan dalam enam pertandingan terakhir. Hal ini berbanding terbalik dengan performa stabil mereka di awal musim. Sebaliknya, Manchester City menunjukkan konsistensi yang luar biasa dan memiliki peluang besar untuk mengambil alih posisi puncak klasemen. Kekuatan utama City adalah ketajaman Erling Haaland, yang menjadi pembeda dalam pertandingan-pertandingan penting.

Kekalahan 1-2 Arsenal dari Manchester City menjadi pukulan telak dalam perburuan gelar Premier League musim 2025/2026. Bukan hanya kehilangan tiga poin, hasil ini juga menunjukkan kontras yang jelas antara performa kedua tim di fase krusial musim ini. Dalam pertandingan tersebut, Arsenal sebenarnya mampu mengimbangi City, namun seperti yang sering terjadi di level tertinggi, pertandingan ditentukan oleh momen kecil. Erling Haaland menjadi pembeda lewat gol kemenangan di babak kedua, memperkuat statusnya sebagai ancaman bagi lini belakang The Gunners.

Kekalahan ini memperpanjang tren negatif Arsenal. Untuk pertama kalinya musim ini, tim asuhan Mikel Arteta menelan dua kekalahan beruntun di liga. Sebelumnya, Arsenal juga kalah 1-2 dari Bournemouth saat bermain di Emirates Stadium. Lebih mengkhawatirkan lagi, mereka kini kalah empat kali dalam enam pertandingan terakhir di semua kompetisi—angka yang sangat kontras dibandingkan performa sebelumnya.

Fakta paling mencolok terlihat dari perbandingan fase musim. Dalam 49 pertandingan pertama, Arsenal hanya kalah tiga kali. Namun dalam enam laga terakhir, mereka sudah menelan empat kekalahan. Penurunan drastis ini memunculkan pertanyaan besar soal konsistensi dan mental juara. Catatan buruk itu semakin diperparah dengan rekor negatif lain: Arsenal kini mencatat empat kekalahan beruntun di ajang domestik (liga dan piala). Ini sesuatu yang belum pernah terjadi di era Arteta, bahkan terakhir kali dialami klub pada Maret 2018, seperti dicatat Opta.

Enam Laga Terakhir Arsenal

  • Kekalahan Final Carabao Cup: 2-0 vs Man City
  • Kekalahan 8 Besar Piala FA: 2-1 vs Southampton
  • Menang Leg 1 8 Besar UCL: 0-1 vs Sporting CP
  • Kekalahan Liga Inggris: 1-2 vs Bournemouth
  • Imbang Leg 2 8 Besar UCL: 0-0 vs Sporting CP
  • Kekalahan Liga Inggris: 2-1 vs Man City

Di sisi lain, Manchester City justru menunjukkan tren sebaliknya. Tim asuhan Pep Guardiola semakin solid di momen penentuan. Mereka kini berada hanya tiga poin di belakang Arsenal (70 poin) dan masih memiliki satu laga tunda melawan Burnley—yang berpotensi membawa mereka ke puncak klasemen dalam hitungan hari. Momentum apik Man City di akhir musim ini juga didukung oleh performa individu luar biasa, terutama Erling Haaland yang mencetak gol kemenangan. Haaland kini telah terlibat langsung dalam 30 gol di Premier League musim ini, menjadikannya pemain pertama yang mencapai angka tersebut musim ini.

Striker asal Norwegia ini juga terus menunjukkan dominasi atas Arsenal, dengan kini telah mencetak enam gol dalam delapan pertemuan liga. Ia hanya kalah dari Sergio Agüero (8 dalam 15 pertandingan) dan Kevin De Bruyne (8 dalam 16 pertandingan) yang mencetak lebih banyak gol dalam pertandingan Liga Premier antara Arsenal dan Manchester City (untuk kedua tim).

Statistik dan Rekor Penting

Data dari Squawka menyebutkan bahwa Manchester City dikenal sangat kuat di fase akhir musim. Di bawah Guardiola, bulan April menjadi periode terbaik mereka dengan rata-rata poin tertinggi dan persentase kemenangan mencapai 80 persen. Sebaliknya, Arsenal justru menunjukkan tanda-tanda goyah di momen yang paling menentukan.

Statistik lain semakin memperkuat narasi tersebut. Dalam sembilan pertemuan antara tim peringkat pertama dan kedua sejak 2020, tim peringkat kedua justru lebih sering menang. Pep Guardiola sendiri mengukir catatan apik. Ia memiliki rekor sempurna saat menghadapi tim pemuncak klasemen di Liga Inggris, ketika timnya Manchester City memulai laga di posisi kedua. Guardiola menang 4 kali dari 4 pertandingan dalam situasi tersebut. Rekor itu menyamai legenda Alex Ferguson sebagai yang terbanyak dalam sejarah kompetisi (manajer posisi 2 mengalahkan posisi 1).

Klasemen Sementara

KlubMSKGMGKSelisihP
Arsenal332175632637
Man. City322075652936
Manchester United3316107584513
Aston Villa33177947416
Liverpool3316710544311
Chelsea3313911534211
Brentford331391148444
Bournemouth331115750500
Brighton3312111045396
Everton331381240391
Sunderland331210113640-4
Fulham33136144346-3
Crystal Palace31119113536-1
Newcastle33126154649-3
Leeds United33912124249-7
Nottm Forest3399153645-9
West Ham3288164057-17
Tottenham33710164253-11
Burnley3348213467-33
Wolves3338222461-37

Kini, Arsenal berada dalam posisi “diburu”, sementara City tampil sebagai pemburu yang berpengalaman. Meski secara keseluruhan Arsenal baru kalah tujuh kali dari 55 pertandingan musim ini, tren terbaru jelas mengkhawatirkan. Dalam perburuan gelar, konsistensi di akhir musim adalah segalanya—dan saat ini, keunggulan itu tampaknya berada di tangan Manchester City. Dengan lima laga tersisa, persaingan belum selesai. Namun jika melihat arah momentum, Arsenal kini menghadapi ancaman nyata kehilangan trofi. Ya, trofi yang sudah di depan mata bisa kembali melayang gegara rentetan hasil buruk, sementara Manchester City bersiap mengulang cerita lama—menyalip di tikungan terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *