Masih banyak mobil yang menggunakan sistem pengereman belakang dengan jenis teromol. Rem mobil tipe teromol terdiri dari sepatu kampas rem dan juga teromol sebagai permukaan geseknya. Tidak hanya bagian kampas rem yang bisa mengalami keausan, tetapi juga bagian teromol bisa mengalami kerusakan yang sama.
Bagian teromol rem yang mengalami keausan biasanya terjadi pada mobil yang telah menempuh jarak cukup jauh. Hal ini bisa memengaruhi kinerja pengereman dan berpotensi membahayakan keselamatan berkendara. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kondisi teromol secara berkala.

Terdapat beberapa tanda-tanda yang menunjukkan bahwa teromol rem sudah mengalami kerusakan. Salah satu tanda yang sering dirasakan adalah tarikan rem tangan yang menjadi lebih tinggi. Sugito, dari bengkel Honda Camp Official di Cikunir, menjelaskan bahwa:
“Teromol rem yang sudah aus bisa dirasakan tarikan rem tangan sudah tinggi.”

Selain itu, ada tanda lain yang bisa dikenali saat kita membuka rem untuk memeriksanya. Sugito menambahkan:
“Walau sudah ganti kampas rem baru, namun tarikan rem tangan tetap tinggi ini menandakan keausan pada teromol,” jelasnya.
Selain tarikan rem tangan yang tinggi, para pengemudi juga perlu memperhatikan ukuran diameter teromol. Biasanya, produsen mencantumkan ukuran diameter maksimal pemakaian teromol. Untuk mengetahui apakah teromol masih dalam batas toleransi atau tidak, kita harus mengukurnya dengan alat ukur khusus.
- Jika ukuran diameter melebihi batas toleransi yang ditentukan, maka komponen tersebut harus segera diganti.
- Penggantian teromol yang tepat akan memastikan kinerja rem tetap optimal dan aman.
- Kondisi teromol yang rusak dapat menyebabkan penurunan efisiensi pengereman dan risiko kecelakaan.
Dengan demikian, itulah tanda-tanda bahwa teromol pada rem mobil sudah mengalami keausan. Penting bagi pengemudi untuk rutin memeriksa kondisi rem, terutama teromol, agar tetap dalam kondisi baik dan siap digunakan.





