JAKARTA – Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya dinamika dan ketidakpastian perekonomian global.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan kondisi global masih dibayangi ketegangan geopolitik, meskipun telah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada 8 April 2026.
Namun demikian, penutupan Selat Hormuz masih berlanjut akibat blokade yang dipertahankan oleh pihak-pihak terkait. Hal ini menyebabkan gangguan distribusi energi global belum sepenuhnya mereda.
“Situasi ini mendorong harga minyak tetap berfluktuasi dan bertahan pada level tinggi,” ujar Friderica.
Lebih lanjut, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook April 2026 bertajuk Global Economy in the Shadow of War memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026. IMF juga menilai risiko stagflasi meningkat seiring fragmentasi geopolitik, tekanan utang, serta gangguan rantai pasok global.
Tekanan inflasi global pun meningkat, yang mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara maju.
Dari Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan tanda pelemahan. Pertumbuhan kuartal I-2026 diperkirakan menurun, di tengah kenaikan harga barang dan energi yang kembali memicu inflasi. Sentimen konsumen juga melemah, meski pasar tenaga kerja masih relatif kuat.
Di tengah kondisi tersebut, bank sentral AS atau The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir April 2026.
Sementara itu, ekonomi Tiongkok mencatat pertumbuhan sebesar 5,0% pada kuartal I-2026, sesuai target pemerintah. Pertumbuhan tersebut ditopang kinerja ekspor dan sektor manufaktur. Meski demikian, momentum mulai menunjukkan pelemahan, ditandai perlambatan ekspor pada Maret 2026 serta belum kuatnya permintaan domestik.
Di dalam negeri, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan mencapai 5,61%. Pertumbuhan ini didukung oleh konsumsi rumah tangga serta peningkatan belanja pemerintah.
Dari sisi permintaan, Indeks Keyakinan Konsumen masih berada pada zona optimistis meskipun mengalami moderasi. Pertumbuhan penjualan ritel tercatat sebesar 2,4% secara tahunan, sementara penjualan kendaraan bermotor mengalami kontraksi.
Adapun ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga, tercermin dari posisi cadangan devisa pada Maret 2026 yang mencapai USD148,2 miliar. Neraca perdagangan juga mencatatkan surplus sebesar USD1,2 miliar.
OJK menegaskan akan terus mencermati perkembangan global serta memperkuat kebijakan guna menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional.





