Kanker Paru di Indonesia: Tantangan dan Upaya Peningkatan Edukasi
Angka kasus kanker paru yang tinggi di Indonesia telah memicu berbagai upaya untuk meningkatkan edukasi dan pendampingan terhadap pasien. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah pelatihan Training of Trainers (ToT) oleh AstraZeneca Indonesia bersama Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC). Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas para pendamping pasien atau yang dikenal sebagai patient navigator.
Kegiatan ToT ini diselenggarakan di Jakarta pada 5 Mei 2026. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat peran komunitas dalam membantu pasien kanker paru menjalani pengobatan secara optimal. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para pendamping pasien dapat memberikan dukungan yang lebih baik kepada pasien selama proses pengobatan.
Dokter Spesialis Paru Konsultan Onkologi, dr. Jaka Pradipta, Sp.P(K) Onk, menyatakan bahwa kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker di Indonesia. Tantangan terbesar saat ini adalah banyak pasien yang baru terdiagnosis ketika penyakit sudah mencapai stadium lanjut.
“Ketika pasien datang pada stadium lanjut, peluang keberhasilan terapi menjadi lebih terbatas. Karena itu, kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini dan penanganan kanker paru harus terus diperkuat,” ujarnya.
Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, kanker paru menjadi penyumbang kasus dan kematian kanker tertinggi di dunia. Di Indonesia, penyakit ini menyumbang sekitar 9,5 persen dari total kasus kanker dan 14,1 persen kematian akibat kanker.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan terkait deteksi dini kanker paru, pemanfaatan teknologi low-dose CT scan (LDCT), hingga perkembangan terapi terkini seperti kemoterapi, terapi target, dan imunoterapi. Teknologi dan terapi modern ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengobatan bagi pasien kanker paru.
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menegaskan bahwa penanganan kanker paru membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, tidak hanya tenaga medis. Menurutnya, patient navigator memiliki peran penting sebagai pendamping pasien, membantu memahami proses pengobatan, sekaligus menjadi penghubung dengan layanan kesehatan.
“Dukungan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan terapi dan hasil pengobatan pasien,” katanya.
Selain edukasi, pelatihan juga menyoroti pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Menurut dr. Jaka, kepatuhan terhadap pengobatan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan terapi kanker paru.
“Pasien yang konsisten menjalani terapi memiliki peluang lebih besar untuk memperlambat progresi penyakit dan meningkatkan kualitas hidup. Sebaliknya, ketidakpatuhan dapat memperburuk kondisi pasien,” jelasnya.
Ketua Umum CISC Aryanthi Baramuli Putri menambahkan, pasien kanker paru tidak hanya menghadapi persoalan medis, tetapi juga tekanan emosional, sosial, dan keterbatasan akses layanan kesehatan. Melalui pelatihan ini, pihaknya ingin memperkuat kemampuan para pendamping pasien agar dapat memberikan dukungan yang lebih menyeluruh.
“Kami ingin patient navigator mampu membantu pasien memahami perjalanan pengobatan sekaligus memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan pasien dan keluarga,” tuturnya.
AstraZeneca Indonesia dan CISC berharap program ini dapat memperluas penyebaran informasi mengenai kanker paru, sehingga semakin banyak pasien mendapatkan diagnosis lebih dini, akses terapi yang tepat, serta pendampingan selama menjalani pengobatan.



