BERITA  

Prabowo Klaim Swasembada Pangan, Legislator Gerindra Bongkar Fakta

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang Swasembada Pangan

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai Indonesia yang telah mencapai swasembada pangan sejak 2025 menarik perhatian publik. Menurutnya, Indonesia tidak lagi mengimpor beras dan jagung sejak tahun lalu. Hal ini menjadi topik pembahasan yang hangat di kalangan masyarakat dan para ahli.

Pernyataan Anggota DPR RI Azis Subekti

Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, menyampaikan bahwa pernyataan Presiden Prabowo mengenai swasembada pangan bukan sekadar klaim kosong. Ia menjelaskan bahwa cadangan beras nasional di Perum Bulog kini telah melebihi 5 juta ton. Angka ini menunjukkan kapasitas negara dalam menjaga ketahanan pangan pada tingkat yang belum pernah tercapai sebelumnya.

Azis menambahkan bahwa pasokan beras nasional tidak terjadi tanpa alasan. Hingga April 2026, penyerapan gabah dan beras petani telah mencapai sekitar 2,3 juta ton setara beras. Produksi nasional pada 2025 meningkat menjadi sekitar 34,69 juta ton, naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.

Peninjauan Lapangan oleh Fraksi Partai Gerindra

Menurut Azis, peningkatan stok beras dapat dilihat langsung melalui peninjauan Fraksi Partai Gerindra ke berbagai gudang Bulog di Indonesia. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa stok beras benar-benar ada. Gudang-gudang Bulog di berbagai daerah terisi, distribusi berjalan, dan penyerapan terus berlangsung.

Ia menyebut, hasil peninjauan di sejumlah wilayah memperlihatkan pola yang hampir seragam. Stok beras di berbagai daerah relatif aman untuk enam sampai sepuluh bulan di banyak wilayah. Bahkan beberapa gudang sudah penuh dan memerlukan tambahan ruang penyimpanan.

Kemandirian Pangan yang Nyata

Azis menegaskan bahwa hal paling penting bukan hanya jumlah stok, tetapi asal beras tersebut. Ia menilai dominasi serapan dari produksi dalam negeri menjadi tanda kuat bahwa Indonesia sedang bergerak menuju kemandirian pangan yang nyata. Temuan di lapangan menunjukkan stok beras saat ini aman, kuat, dan secara dominan berasal dari hasil serapan petani dalam negeri.

Perubahan Kebijakan Pangan

Selama ini, Indonesia sering terjebak dalam ironi sebagai negara agraris yang tetap bergantung pada impor ketika harga mulai bergerak. Kini, arah kebijakan mulai berubah melalui penguatan pembelian pemerintah terhadap hasil panen petani. Harga pembelian gabah di kisaran Rp 6.500 per kilogram bukan sekadar angka administratif. Itu adalah sinyal bahwa negara hadir menjaga keberlanjutan produksi petani.

Rantai kebijakan pangan saat ini mulai tersambung dengan lebih baik. Ketika negara membeli, petani berani menanam. Ketika petani menanam, produksi meningkat. Ketika produksi meningkat, Bulog menyerap. Ketika Bulog menyerap, stok nasional menguat.

Tantangan di Masa Depan

Meski demikian, Azis mengingatkan bahwa swasembada pangan tidak berhenti pada tingginya cadangan beras nasional. Ia menilai tantangan terbesar tetap berada pada stabilitas harga di tingkat masyarakat. Rakyat tidak merasakan angka 5 juta ton. Rakyat merasakan harga di warung. Karena itu, distribusi dan rantai pasok harus berjalan cepat dan efisien.

Lebih lanjut, Azis menegaskan capaian tersebut harus tetap dijaga di tengah berbagai tantangan seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga regenerasi petani. Namun demikian, ia menilai fondasi swasembada pangan saat ini mulai terlihat nyata. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, swasembada beras tidak lagi hanya terdengar sebagai slogan. Fondasinya mulai terlihat, dengan angka yang nyata, gudang yang terisi, serta petani yang perlahan kembali percaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *