Indonesia Kembali Hadir di Venice Biennale 2026
Setelah beberapa tahun tidak berpartisipasi, Indonesia kembali mengirim kontingen seni yang terdiri dari 14 perupa untuk ikut serta dalam Venice Biennale 2026. Pameran seni rupa internasional ini merupakan salah satu ajang paling bergengsi di dunia dan menjadi panggung penting bagi seniman untuk menampilkan karya mereka kepada publik global.
Daftar perupa yang terpilih mencakup nama-nama seperti Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E Hartanto, Theresia Agustina Sitompul (Terre), Mariam Sofrina, Rusyan Yasin, Aniel Karoba, Valerio Vidigal Oki, Annisa Aqila, Eva Rosyadiatul Wardah, Muhammad Boy Farhan, Muhammad Alfariz, dan Rahmad Putra. Mereka akan membawa karya-karya yang mewakili kekayaan seni rupa Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan harapan bahwa partisipasi Indonesia dalam acara ini dapat memberikan dampak positif bagi pengakuan seni rupa Tanah Air di tingkat internasional. Menurutnya, setiap kali Indonesia hadir dalam ajang seni internasional, selalu ada misi khusus yang ingin dicapai. Salah satunya adalah meningkatkan visibilitas seni Indonesia, khususnya di Eropa.
“Target utamanya adalah agar kita semakin visible, semakin terlihat, terutama di Eropa. Karena Venice Biennale ini adalah event seni rupa nomor satu di dunia. Kalau di film itu seperti Academy Awards,” ujarnya.
Fadli menilai bahwa semakin sering seniman Indonesia tampil di panggung internasional, apresiasi publik seni global terhadap karya-karya Tanah Air akan semakin meningkat. Ia menekankan bahwa eksposur tersebut tidak hanya memperluas jangkauan karya seni, tetapi juga membuka peluang bagi karya-karya Indonesia untuk dikoleksi oleh pasar seni dunia.
Selain itu, ajang internasional seperti Venice Biennale juga menjadi momen penting untuk memperluas jejaring seniman. Dengan partisipasi tersebut, seniman Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun koneksi yang dapat mendukung distribusi karya sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan perupa dari berbagai negara.
Namun, menurut Fadli, upaya ini tidak cukup hanya dengan mengirim seniman ke luar negeri. Indonesia dinilainya juga perlu memiliki ajang seni berskala internasional di dalam negeri. Menurutnya, kegiatan semacam ini bukan sekadar perhelatan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar dalam memberikan dampak ekonomi.
“Ke depan, kita juga ingin menyelenggarakan biennale di Indonesia dan mengundang mereka datang ke sini, agar mereka bisa melihat kekayaan budaya, pariwisata, dan kreativitas Indonesia,” tambahnya.
Fadli menyebut potensi ekonomi budaya Indonesia sangat besar, tetapi masih perlu didorong agar lebih optimal. Ia menekankan bahwa karya seni termasuk komoditas bernilai tinggi dari masa ke masa. Contohnya, lukisan Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci yang nilainya mencapai sekitar Rp6,5 triliun.
Menurutnya, karya seni rupa Indonesia juga memiliki nilai jual yang signifikan. Beberapa karya telah mencapai harga Rp10 miliar, bahkan ada yang melampaui Rp85 miliar.
“Saya kira kualitas kita tidak kalah, hanya mungkin kurang promosi dan belum mendapatkan platform yang cukup di panggung seni rupa dunia,” tuturnya.
Pentingnya Promosi dan Platform Internasional
Partisipasi Indonesia dalam Venice Biennale 2026 menunjukkan komitmen pemerintah dalam mempromosikan seni rupa Indonesia secara global. Selain itu, ini juga menjadi langkah strategis untuk membangun platform yang lebih kuat bagi seniman lokal.
Dengan adanya ajang seni internasional, seniman Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan kualitas karya mereka di tengah persaingan global. Hal ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap seni rupa Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri.
Pemerintah terus berupaya untuk memastikan bahwa seni rupa Indonesia tidak hanya dikenal, tetapi juga dihargai secara global. Dengan dukungan yang lebih baik, karya-karya seni Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan karya-karya seni dari negara lain.
Kedepannya, peningkatan promosi dan pembentukan platform yang lebih kuat akan menjadi fokus utama. Dengan demikian, seni rupa Indonesia dapat terus berkembang dan mendapatkan tempat yang layak di dunia seni internasional.





