seni  

Paviliun Indonesia Tampilkan Karya Seni Terbaik Tujuh Perupa di Venice Biennale Arte 2026



JAKARTA – Paviliun Indonesia di Venice Biennale Arte 2026 menampilkan karya seni terbaik dari tujuh perupa tanah air yang berasal dari berbagai generasi. Karya-karya ini dibuat dalam medium seni cetak grafis dengan tema utama “Printing the Unprinted”. Pameran ini diselenggarakan sebagai kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Danantara Indonesia Trust Fund, serta dikuratori oleh Aminudin TH Siregar. Acara ini berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia.

Pameran ini mengangkat narasi epik tentang pelayaran besar abad ke-15 yang berlangsung selama 14 tahun (1472–1486). Karya seni ini diciptakan melalui kolaborasi tujuh seniman ternama, yaitu Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin. Mereka mempersembahkan kisah perjalanan armada yang dimulai dari Danau Toba, lalu menyusuri pesisir Sumatra Barat, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Aleksandria, hingga akhirnya mencapai Venesia dan Eropa Tengah.

Armada tersebut terdiri atas tiga kapal luar biasa, yaitu:

  • Siboru Deak Parujar (Dewi Pencipta Batak) – sebagai kapal induk.
  • Naga Padoha (Ular Kosmik) – sebagai kapal pengawal.
  • Sahala ni Ombak (Roh Ombak) – didedikasikan untuk penjelajahan ilmiah.

Seluruh kisah ini diceritakan melalui sudut pandang Datu Na Tolu Hamonangan, seorang arsiparis imajiner dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra. Dia mendokumentasikan perjalanan ini dalam manuskrip yang berjudul Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage. Selama berabad-abad, manuskrip ini menyimpan misteri, yaitu himpunan cetakan etsa, gambar, sketsa, dan teks yang menunggu untuk ditemukan dan dimaknai. Manuskrip ini memuat 21 etsa yang dibagi ke dalam 8 babak, membentuk narasi yang kaya dari berbagai sudut pandang.

Bagian pertama dengan tema Sacred Authority and Diplomacy bercerita tentang Sang Raja yang memiliki gagasan pelayaran. Raja Uti Marbun Pusuk bertekad menyatakan tujuan pelayarannya di hadapan sebuah batu megalitik di Pusuk Buhit: membuktikan apakah negeri-negeri di balik cakrawala merupakan bagian dari dunia yang sama dengan Banua Tonga. Hingga empat belas tahun kemudian, Raja Uti kembali mendaki Pusuk Buhit untuk kedua kalinya, menuntaskan perjalanannya dan menyampaikan pelajaran berharga bahwa Eropa pun merupakan bagian dari dunia Banua Tonga.

Kisah ini dihidupkan oleh Agus Suwage dalam tiga lembar etsa berjudul:

  • The Oath at Pusuk Buhit
  • Audience at the Republic of Batu
  • Return to the Mountain of Origin

Bagian kedua dengan tema Sea Power and Navigation berkisah tentang Sang Admiral yang memimpin armada. Admiral Mangaraja Laut Mangiring pada 1472, mempelajari rute bintang dan peta-peta Arab dari Malaka sebelum bertolak mengikuti angin monsun barat daya bersama navigator Batak, juru mudi Melayu, penerjemah Tamil, dan astronom Persia. Kapalnya menghadapi badai dahsyat di Selat Hormuz, dan empat belas tahun kemudian, sang admiral pulang dengan rambut yang telah memutih dan membawa pulang pengetahuan bahwa laut menghubungkan dunia-dunia yang jauh menjadi satu.

Perjalanan ini divisualisasikan oleh R.E. Hartanto melalui tiga lembar etsa berjudul:

  • Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472)
  • Storm Off Hormuz
  • The Aging Admiral’s Face

Bagian ketiga menggambarkan kisah Sang Navigator dengan tema Maps and Astronomy yang dibuat oleh Syahrizal Pahlevi. Sang navigator membuka perspektif baru, berlandaskan pengetahuan astrolab Islam sejak masa Abbasiyah, ia merancang ulang Peta Banua Tonga — menempatkan Danau Toba dan masyarakat Batak sebagai pusat, membuat Eropa tampak sebagai semenanjung kecil di tepi dunia yang tak berbatas.

Syahrizal Pahlevi membuat visualisasi dalam tiga lembar etsa berjudul:

  • Rewriting the Circle of the World
  • Library of Florence
  • The Inversion of the World Map

Babak keempat menceritakan tentang Sang Naturalis dengan tema Flora and Fauna, yang divisualisasikan oleh Rusyan Yasin dalam tiga etsa berjudul:

  • Camphor Specimens and Andalas Wood
  • Encounters in the Alps
  • Garden of Two Climates

Dikisahkan sang naturalis dalam perjalanannya menuju sebuah tempat di dekat Pegunungan Alpen, mendokumentasikan flora dan fauna yang belum pernah ia bayangkan. Sekembalinya ke kepulauan, bibit stek anggur yang ia bawa kesulitan tumbuh di bawah terik matahari khatulistiwa, namun apel berhasil ia cangkokkan di dataran tinggi Batak. Tanaman ini kemudian membentuk perkebunan buah baru.

Babak selanjutnya, yang kelima, mengangkat tema Faces and Culture yang bercerita tentang Masyarakat. Pelayaran ini juga adalah pertemuan manusia dengan manusia. Di Pelabuhan Malaka, bahasa Arab, Tamil, Melayu, dan Tionghoa bercampur dalam situasi perdagangan global. Di pasar musim dingin Venesia, digambarkan orang-orang Eropa menyentuh kain ulos, pelaut Batak mencicipi keju dan roti gandum, dan anak-anak Eropa menatap tato di lengan para pelaut dengan penuh takjub. Perbedaan melebur menjadi persaudaraan.

Wajah-wajah pertemuan lintas budaya ini dilukiskan oleh Mariam Sofrina melalui tiga lembar etsa berjudul:

  • Port of Malacca
  • Winter Market in Venice
  • West Gorga

Sementara itu, pada bagian keenam, mengangkat tema Technology and Symbolism yang dieksplorasi oleh Nurdian Ichsan bercerita tentang para Seniman dan Perajin. Melalui tiga etsa berjudul:

  • Forging Iron at Lake Toba
  • Glass and Mechanical Clocks
  • The Hybrid Emblem of Harajaon

dikisahkan pertukaran budaya yang semakin mendalam, para perajin membentuk teknologi dan simbol-simbol baru. Para perajin Batak mempelajari kaca patri, teknologi keramik, dan jam mekanis – teknologi dari Eropa abad pertengahan akhir. Setelah pelayaran usai, lahirlah segel kerajaan baru yang memadukan motif gorga Batak, heraldik Eropa, dan diagram kosmologi tiga dunia.

Babak terakhir, ketujuh, mengangkat tema Spiritual Reflection mengisahkan tentang Kaum Intelektual. Theresia Agustina Sitompul dalam tiga etsa berjudul:

  • Pre-Departure Ritual
  • Cathedral and the Echo of Gondang
  • Return to Silence

menggambarkan lapisan terdalam perjalanan ini yang mengalirkan sebuah perenungan spiritual. Para pendeta Datu menafsirkan pertanda dari seekor ayam sebelum keberangkatan, memaknai pelayaran sebagai takdir Banua Tonga. Selanjutnya, di dalam sebuah Katedral di Venesia, seorang filsuf Batak mendengarkan gaung paduan suara dan membandingkannya dengan harmoni tabuhan gondang sabangunan. Dan sekembalinya ke tanah air, di bawah pohon beringin dekat Pusuk Buhit, ia menyimpulkan seluruh perjalanan dalam satu kalimat: “Penemuan bukanlah kepemilikan, melainkan pengakuan bahwa seluruh daratan terjalin dalam satu dunia.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *