Keterbatasan Pandangan Terhadap Pendidikan di UIN
Dalam sebuah dialog yang berlangsung di Politeknik Negeri Tanahlaut, seorang dosen yang merupakan alumni UIN Antasari Banjarmasin menceritakan pengalamannya. Ia sering diminta untuk membacakan doa dalam berbagai acara. “Padahal, saya bukan ahli agama. Latar belakang pendidikan saya adalah Perbankan Syariah,” katanya. “Memang, alumni UIN itu biasanya bekerja di bank. Maksud saya, tukang bang (dalam bahasa Banjar artinya azan),” tambahnya sambil tertawa.
Pandangan masyarakat terhadap lulusan UIN masih sering kali menganggap bahwa semua lulusannya adalah ahli agama. Padahal, mayoritas mahasiswa UIN berasal dari latar belakang SMA atau SMK, bukan pesantren atau madrasah. Banyak dari mereka memilih prodi-prodi umum seperti pendidikan matematika, bahasa Inggris, fisika, biologi, kimia, ekonomi, akuntansi, manajemen, psikologi, komunikasi, teknik informasi, ilmu lingkungan, bisnis digital, dan lain-lain.
Relevansi Pendidikan dengan Dunia Industri
Ada kesan bahwa orang yang diminta membacakan doa dianggap dihormati. Namun, kesan ini bisa menjadi tidak relevan jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Doa hanyalah bagian dari seremonial suatu acara, bukan inti dari kegiatan tersebut. Dalam konteks ini, pembaca doa terkesan sebagai pihak yang hanya memberi “stempel” pada apa yang sudah diputuskan.
Masalah semakin serius ketika orang mulai mempertanyakan relevansi prodi-prodi di perguruan tinggi dengan dunia industri. Apakah prodi-prodi yang tidak siap menyediakan lulusan yang bisa langsung bekerja di dunia industri memiliki manfaat? Di sini, banyak orang mencibir dan merendahkan ilmu-ilmu agama, sosial, dan humaniora. Saya pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, termasuk kalangan terpelajar di perguruan tinggi. Bagi mereka, hanya sains dan teknologi yang relevan saat ini.
Batasan Pandangan yang Sempit
Yang menjadi pertanyaan bagi saya, mengapa kita berpikir sangat sempit, melihat relevansi hanya dengan dunia industri? Seolah-olah pekerjaan hanya ada di dunia industri. Seolah-olah pendidikan hanya bengkel yang melatih tukang-tukang, seperti robot-robot yang siap bekerja di industri.
Seolah-olah hidup ini hanya urusan ekonomi. Pandangan materialis-kapitalis seperti ini sangat picik dalam melihat dunia pendidikan dan berbahaya dalam jangka panjang.
Relevansi Pendidikan yang Lebih Luas
Seharusnya, relevansi pendidikan bukan hanya dengan dunia industri, tetapi juga dengan kebutuhan hidup manusia secara keseluruhan. Semua ilmu, keterampilan, dan karakter yang ditanamkan dalam proses pendidikan adalah bekal seseorang untuk menghadapi hidup sebagai manusia.
Oleh karena itu, hal paling mendasar dalam pendidikan adalah pemahaman kita tentang hakikat manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk jasmani sekaligus ruhani, individu sekaligus anggota masyarakat.
Keberadaan Manusia: Jasmani dan Ruh
Tidak ada keraguan bahwa manusia adalah makhluk jasmani yang membutuhkan materi. Dia perlu makan-minum, pakaian, tempat tinggal, dan menjaga kesehatan. Agama pun tidak hanya peduli dengan urusan ruhani. Mencari rezeki yang halal itu wajib. Menafkahi keluarga bagi suami juga wajib. Zakat diwajibkan kepada orang yang memiliki harta dalam jumlah tertentu. Sedekah dan wakaf dianjurkan. Materi itu penting. Ekonomi itu penting. Agama bukan sekadar ratapan doa!
Namun, manusia bukan hanya jasmani, tetapi juga ruhani. Bahkan, dalam pandangan filsafat Islam, jasmani adalah unsur paling rendah dari struktur eksistensi manusia. Yang paling tinggi dan hakiki dari keberadaan manusia adalah ruh, yang kedua nafsu/jiwa dan yang ketiga tubuh.
Tujuan Ruh dalam Kehidupan
Ruh terhubung ke tubuh melalui nafsu hewani dan nabati. Tubuh adalah kendaraan bagi ruh. Sebagai tamsil, kuda adalah tubuh plus nafsu, dan ruh adalah pengendara kuda. Tubuh akan mati dan hancur. Ruh tidak.
Menurut Jalaluddin Rumi, tugas utama ruh di dunia ini adalah mengemban amânah, kepercayaan yang diberikan Tuhan untuk membuat keputusan moral, memilih antara yang baik dan buruk, benar dan salah, adil dan zalim. Manusia terikat dengan hukum moral. Hukum moral itu tertanam di dalam dirinya.
Bagi kaum beriman, hukum moral itu juga digariskan dalam ajaran agama. Manusia bisa tunduk atau melawan hukum moral itu, tetapi dia harus siap menerima segala akibatnya.
Pentingnya Pendidikan yang Menyeluruh
Dengan demikian, jika manusia hanya sibuk mengurus sisi jasmani hidupnya, atau sisi nafsu hewani dirinya, maka dia telah mengabaikan unsur paling utama dalam dirinya, yang merupakan hakikat kemanusiaannya, yakni ruhaninya.
Jika pendidikan sekadar diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan nafsu hewani belaka, maka pendidikan akan melahirkan makhluk setengah-manusia yang lebih mirip dengan hewan. Saat jahat, dia bahkan bisa lebih bejat dari binatang!
Integrasi Ilmu dalam Pendidikan
Dalam konteks ini, spesialisasi keilmuan jangan sampai membuat orang menjadi eksklusif, menutup diri, apalagi merasa hebat sendiri. Hidup manusia membutuhkan rupa-rupa ilmu dan teknologi.
Alih-alih membuang ilmu tertentu, yang kita butuhkan adalah integrasi dan kolaborasi. Manusia tidak hanya membutuhkan sains, matematika, dan teknologi, tetapi juga ilmu-ilmu sosial dan humaniora, termasuk ilmu-ilmu agama. Semua ilmu ini dapat menjadi pelita bagi hidup manusia yang kompleks.
Ilmu yang Relevan dan Seimbang
Karena itu, ilmu yang relevan adalah ilmu yang berfungsi sebagai petunjuk bagi hidup manusia. Ilmu itu dapat menopang hidup jasmani dan ruhani, pribadi dan masyarakat. Ilmu dan keterampilan yang hanya mengurus sisi jasmani-materi manusia, atau sebaliknya, yang hanya sibuk dengan sisi ruhani manusia, adalah ilmu yang timpang, yang tidak selaras dengan kebutuhan manusia. Selain itu, yang ruhani, yang moral-spiritual, harus dapat menjadi pemandu yang jasmani, pribadi, dan masyarakat.
Jika terbalik, ilmu dan keterampilan bukan hanya tidak relevan, tetapi juga menghancurkan hidup manusia itu sendiri. Sejarah umat manusia telah membuktikannya hingga hari ini!




