Karya Musik “Sebuku Ni Bumi” sebagai Kenangan atas Bencana di Tanah Gayo
Peristiwa yang mengguncang ketenangan masyarakat, memutus akses jalan, hingga menghancurkan rumah warga kini diabadikan dalam sebuah karya musik berjudul “Sebuku Ni Bumi” yang diciptakan oleh musisi Gayo, Ervan Ceh Kul. Lagu ini menjadi bentuk peringatan akan duka yang pernah terjadi di wilayah tanah Gayo, Aceh, serta menjadi simbol perjuangan masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan.
Lagu ini dirilis pada 30 Desember 2026 ke platform media sosial sebagai bentuk kepedulian sekaligus catatan sejarah atas bencana yang terjadi di dataran tinggi Gayo. Dengan lirik berbahasa Gayo yang penuh makna, “Sebuku Ni Bumi” menggambarkan suasana mencekam saat bencana datang, kesedihan masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, serta perjuangan warga untuk bangkit dari keterpurukan.
Pesan yang Terkandung dalam Lagu
Tidak hanya bercerita tentang duka, lagu ini juga mengangkat nilai kebersamaan dan gotong royong masyarakat Gayo yang saling membantu di tengah musibah. Pesan utama dalam karya ini adalah keikhlasan menerima ujian dari Tuhan. Menurut Ervan Ceh Kul, lagu ini diciptakan sebagai pengingat bahwa bencana besar pernah terjadi di tanah Gayo dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat setempat. Ia berharap karya tersebut mampu menjadi penyemangat bagi masyarakat agar tetap kuat menghadapi cobaan.
Proses Produksi dan Harapan Masa Depan
“Sebuku Ni Bumi” diproduksi di Supu Management Record dan diharapkan dapat diterima oleh masyarakat luas sebagai karya yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menyimpan pesan kemanusiaan dan kepedulian sosial. Di tengah duka yang belum sepenuhnya pulih, masyarakat Gayo terus berusaha bangkit dan menata kembali kehidupan mereka. Semangat untuk saling menguatkan menjadi harapan agar tanah Gayo kembali pulih seperti sediakala.
Lirik Lagu “Sebuku Ni Bumi”
Berikut lirik lengkap dari lagu “Sebuku Ni Bumi”:
SEBUKU NI BUMI
LIRIK
Mubeltek ni rara
Utem kin penjerang
Bere si nge milang
Sabe kin iyupen
Bercaya ken suluh
Kune kati terang
Gerak ni bebayang
Kin engon-engonen
Kunehen kune kenatemu
Kunehen kune kenatemu
Lemo waih mungenang
Gere terpebele
Uren gere rede
Belem kejadien
Sunyem urum atang
Manut mujengkele
Gerico ni kekire
Kin anak rum serinen
Nge osop umah duduk ni tenge
Taring cerite urum kenangen
Wani esak ngih murepie
Kebelen tuke kusi kadunen
Jamut jurah lebih berbagi
Kuen kiri bersiosahen
Dele nuken mata si murezeki
Kusi mungungsi bersitulungen
Kunehen seber mi atemu
Tanoh mucerun baor pe murelas
Ari tangkir si atas ku paloh mutenyen
Totor lumpe metus gere tebuh liwet
Bantuen mupitet lemet isawahen
Kunehen kune kenatemu
Kunehen kune kenatemu
Muralani dene tengah melem bute
Iwan gelep ni denie mumerahi jelen
Ara pe kemudi nge berluah setang
Retik ni penumpang macik keterihen
Kunehen kenatemu
Kude dengkoh bon kin penengel
Ben ijuel ari tungkulen
Gere terbalik tanoh si edel
Orop reringkel ipenyemenen
Ikunehen ho
Geh ni musibah gere itiro
Ku gayonte gaeh ujien
Seber iklas iwani dede
Pelejerente turuh ni tuhen
Agih belem genap si munge
Kesimpulan
Melalui karya musik ini, Ervan Ceh Kul tidak hanya menyampaikan pesan kepedulian, tetapi juga mengajak masyarakat untuk tetap percaya dan berjuang bersama. Lagu “Sebuku Ni Bumi” menjadi saksi bisu atas perjalanan panjang masyarakat Gayo dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan lirik yang dalam dan makna yang mendalam, karya ini menjadi pengingat akan kekuatan dan semangat yang dimiliki oleh penduduk tanah Gayo.






